Masker dan Mitos Modern

ilustrasi

Oleh : Ayu Prawitasari

Bagi saya, tak ada yang lebih mencekam dibandingkan Maret 2020. Pandemi Covid-19 yang disebabkan virus corona baru ini membuat kehidupan saya terasa jungkir balik, muram, membingungkan, dan tentu saja menggelisahkan.

Setiap hari saya merasa seperti harus menyusuri sebuah terowongan panjang yang belum tampak sedikit pun ujungnya. Begitu panjang, begitu gelap, namun tetap harus saya lalui agar saya bisa melihat cahaya terang di ujungnya. Sebuah cahaya yang harus saya raih dengan sekuat tenaga dangan selalu menjaga kesehatan.

Dalam karantina mandiri yang tidak bisa saya laksanakan sepenuhnya karena harus tetap ke kantor meski sebentar, segala hal kini mendadak menjadi asing. Perasaan asing, kata-kata asing, hingga rona wajah asing, saya temui setiap hari.

Dan tiba-tiba saja saya sekarang menjadi lebih memerhatikan semua detail dalam perjalanan menuju kantor. Wajah-wajah lesu para penjual keliling yang beristirahat di bawah pohon sebuah lapangan perbatasan kota, bus kota yang kosong, mal besar yang hening, gerai-gerai cepat saji yang senyap, driver ojol yang duduk mengantuk di pinggiran jalan, bakul cilok yang dagangan pentol dan tahu baksonya masih utuh, penjual terang bulan kesayangan anak saya yang lebih sering duduk melamun ketimbang melayani pembeli semenjak sekolah-sekolah ditutup, dan masih banyak lagi lainnya.

Sepanjang perjalanan, lamunan saya dengan mudah menyerap kelesuan itu. Membiarkannya memasuki hati saya yang tanpa pembatas dan mulut saya yang setiap hari tertutup masker. Entah mengapa kelesuan itu sungguh efektif menutup mulut saya yang sebelumnya hampir setiap hari mengeluh tentang ini dan itu.

Seperti halnya kaum strukturalis, saya memaknai masker sebagai alat penutup sebagian wajah yang bertujuan mencegah virus menempel. Masker adalah pelindung supaya kita tak sakit. Masker bukan hal yang asing bagi saya sebagai penderita asma, alergi debu, dan dingin ini. Semenjak remaja, masker adalah bagian dari kehidupan saya yang ringkih. Itu saja maknanya.

Namun, segala keterbatasan yang saya alami selama pandemi ini, tiba-tiba membuat saya lebih memerhatikan dan merasakan segala detail dalam kehidupan. Masker kini tak lagi saya maknai sebagai pelindung saja, namun juga petanda (konsep) tentang introspeksi, diam, serta berpikir atau berkata-kata dengan diri sendiri yang nyaris tak pernah saya sapa karena sibuk menyapa orang lain.

Dengan masker ini, saya mulai berpikir bahwa tak sepantasnya saya mengeluh tentang ini-itu, memprotes keadaan, menyalah-nyalahkan orang lain, atau merasa paling susah di muka Bumi, sementara di luar sana, masih banyak yang tidak mampu membeli sehelai masker untuk pelindung diri. Jangankan membeli masker yang langka ini, untuk membeli makanan sehari-hari saja mereka tak mampu. Jadi, gara-gara masker ini, sekarang saya malu setengah mati.

Saat masker menjadi bagian dari kehidup kita sehari-hari, kemampuan teknologi kesehatan serta higienitas kaum modern yang kebal virus itu tiba-tiba kini juga menjadi semacam mitos. Semuanya terdengar seperti bunyi iklan dengan para bintang dan kehidupan palsu mereka yang menyerbu kita melalui TV dan sekarang melalui Youtube.

Mentalitas sehat jasmani seperti halnya segala pencitraan yang bersifat lahir dan visual, selalu menjadi prioritas dalam kehidupan kita. Pakaian yang bagus, rumah yang bagus, karier yang bagus, dan tingkat ekonomi yang bagus menjadi tolok ukur. Kita, saya termasuk di dalamnya, menjadi lupa bahwa kesehatan bercabang dua, sehat jasmani dan rohani. Nah, sehat rohani inilah yang kerap saya abaikan.

Virus corona baru menggambarkan sengkarut pengelolaan kota di abad modern ini. Kota yang merupakan pusat perekonomian, pusat pengetahuan, pusat kenyamanan, sekaligus pusat pemenuhan hasrat, ternyata juga menjadi pusat penyakit dengan didatangkannya hewan-hewan liar untuk bahan konsumsi.

Manusia lupa bahwa binatang liar telah banyak berevolusi karena lingkungan hidup mereka juga telah banyak berubah akibat ulah manusia. Sementara ini, kelelawar yang menjadi penyebab SARS lewat perantara musang serta penyebab MERS dengan perantara unta, telah mampu menularkan corona baru secara langsung kepada manusia.

Itu baru sebagian kecil kebrutalan manusia modern. Contoh lain yang tak kalah mengerikan adalah timbunan sampah plastik yang sulit dicerna Bumi, sampah fast fashion yang juga membuat Bumi terengah-engah, polusi udara, limbah beracun, dan masih banyak lagi lainnya. Kali ini saya terduduk di depan lemari pakaian yang jauh lebih tinggi dibandingkan saya dan menyadari dengan sungguh-sungguh bahwa saya termasuk salah satu pelaku kebrutalan itu.

Jasmani saya sehat, namun rohani saya jauh dari kata sehat. Dia kesulitan dalam hal pengontrolan diri dan pemenuhan hasrat. Dia sulit diajak bekerja sama soal hal-hal yang secukupnya.

Saya kini mendapat pemahaman baru bahwa teknologi kesehatan modern adalah mitos. Mitos itu setara dengan fakta yang sifatnya sangat empiris. Mitos ini tentu saja digaungkan oleh mereka yang memiliki modal SDM, dana, serta pengetahuan yang berlimpah, untuk kepentingan sendiri.
Sebaliknya, yang dihadapi Bumi dan segala isinya saat ini, sangatlah kompleks dan saling berkaitan antara satu dengan yang lain. Inti ketahanan Bumi adalah konektivitas. Itulah realita yang kita hadapi dalam bentuk pandemi global yang sungguh sulit kita pahami dengan panca indra kita yang sungguh terbatas.

Unsur empiris sejatinya hanyalah sebagian kecil dari realita kebenaran. Unsur lainnya seperti moralitas (standardisasi soal benar dan salah) serta eksistensialisme (relevansi makna dan signifikansinya pada kehidupan) sering kita abaikan karena visualisasi atau yang tampak seringkali menjadi dewa.

Sustainable development goals (SDGs) seharusnya bukanlah utopia, melainkan kerja keras kita semua untuk mewujudkannya. Pembangunan wajib mempertimbangkan unsur keberlanjutan bagi umat manusia dan Bumi. Saya sepakat dengan pendapat sebagian orang bahwa Bumi saat ini sedang sakit dan ingin menyembuhkan dirinya sendiri.

Saat menulis ini, imaji saya membayangkan tahun 1830 di Inggris, atau saat pembukaan jalur kereta api yang merupakan puncak peradaban saat itu. Terealisasinya jalur kereta api pada waktu silam disebut-sebut sebagai waktu terbukanya gerbang-gerbang pengetahuan manusia. Kalimat itu saya kutip dari buku A Social History of the Media. Semenjak munculnya kereta api, kehidupan manusia memang terasa seperti berlari bahkan terbang demi efisiensi yang merupakan roh dari kapitalisme. Segalanya harus cepat dan tepat waktu.

Virus corona baru memaksa kita berhenti sejenak dari segala kegaduhan. Berhenti berjalan, berhenti berlari, bahkan berhenti terbang. Kita dipaksa masuk rumah dan menjalankan segala sesuatunya dengan pelan-pelan saja. Pemaksaan ini terasa menakutkan bagi saya, namun tidak ada pilihan lain karena Bumi menuntut kita memahami realitas dari dua unsur yang selalu saya abaikan, yakni moralitas dan eksistensialisme.

Dari sudut pandang moralitas, yang dibutuhkan umat manusia saat ini adalah sifat yang dermawan. Lupakan dulu Adam Smith dan spesialisasi serta efisiensinya, dan sebaliknya mari kita “buang” kelebihan yang kita punya dalam bentuk apa pun kepada yang lebih membutuhkan. Tindakan itu jauh lebih penting dibandingkan menggerutu, mengeluh, dan menyalahkan keadaan.

Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah mengontrol hasrat yang tidak berbatas ini. Itu bisa dimulai dengan menghentikan panic buying yang sangat merugikan orang lain. Saya sungguh suka dengan kutipan yang saya lupa sumbernya bahwa kita tidak takut dengan kegelapan, tapi kita takut dengan apa yang ada di dalamnya; kita tidak takut dengan ketinggian, tapi kita takut jatuh; kita tidak takut mencoba lagi, tapi kita takut tersakiti dengan alasan yang sama.

Pandemi Covid-19 mengajarkan kepada saya bahwa sejatinya saya tidak takut pada virus ini, tetapi virus inilah memunculkan ketakutan paling primitif dalam diri saya yaitu takut akan kematian. Padahal seharusnya saya menyadari bahwa kematian yang baik berasal dari kehidupan yang baik, yakni kehidupan yang berguna, bukan justru menyengsarakan dan memanfaatkan orang lain.

Jadi, mari kita istirahatkan dulu keluhan kita di bawah kolong meja. Ini saatnya kita membantu sesama yang dimulai dari orang-orang terdekat yang membutuhkan bantuan. Konektivitas yang baik akan membentuk wajah Bumi yang sama baiknya. Memunculkan senyum Bumi saat wabah ini berakhir nanti.

Sumber : Status Facebook Ayu Prawitasari

Wednesday, April 1, 2020 - 10:00
Kategori Rubrik: