Masjid Salib; Propaganda Busuk yang Tak Masuk Akal

 Oleh; Kajitow Elkayeni

Awalnya saya hanya tertawa ketika di Facebook beredar pernyataan konyol tentang Masjid KH. Hasyim Asy'ari yang disebut mirip bentuk salib. Orang-orang dengan nalar sejengkal mengotak-atik keimanan mereka sendiri. Saya menduga itu hanya lelucon Pilkada Jakarta. Meme awalnya memang untuk lucu-lucuan. Namun itu tidak lucu lagi saat saya bertemu Pak Zul di daerah Batusari.

Pak Zul asli Padang Pariaman, beliau penjual bahan jeans yang siap jahit. Orang baik yang pemurah. Ramah dan taat beragama. Dulu, pada periode pertama Pilkada Jakarta saya pernah bertanya langsung, "Milih siapa Pak?"

Pak Zul terdiam. Wajahnya berubah serius, pandangannya menerobos rumpun tebu yang pernah beliau potong untuk saya. Jauh entah ke ujung mana. Kemudian dengan lirih dia berkata, "Kalau lihat perubahan Jakarta, jelas Ahoklah. Tapi... dia begitu...."

Saya diam, saya mengerti maksudnya, yaitu kasus penistaan yang dituduhkan pada Ahok. Dia begitu...

"...serba salah." Imbuhnya dengan suara semakin lirih.

Kami memang dekat, meski begitu saya tidak berani memberikan pandangan. Waktu itu saya malah mencoba mencairkan suasana yang berubah kaku. Mengubah topik pembicaraan. Menurut hemat saya, Pak Zul adalah kelompok yang bingung. Saya berharap proses persidangan akan memberikan gambaran berbeda. Dia akan berubah.

 

Menjelang periode kedua saya bertemu lagi dengannya. Saya melihat di pagar rumahnya ada keterangan TPS. Kebetulan saya bawa teman. Setelah berbasa-basi sebentar, saya membelokkan pembicaraan, "Di depan ada tulisan TPS, Mau (diadakan) di jalan ya Pak?"

"Bukan." Balasnya. "Ya di sini." Kepalanya menunjuk lokasi parkiran mobil.

Saya agak bingung mau menjurus soal pilihannya, mau bertanya langsung tidak enak. Namun kebetulan teman saya paham, dia langsung nyeletuk, "Daerah sini kemarin menang siapa Pak?"

"Oh, di sini mayoritas nomor tiga."

"Kalau sekarang, kira-kira berubah gak, Pak?" Tanya saya sambil tersenyum. Saya berharap keraguannya dulu membawa perubahan.

"Sama saja." Jawab Pak Zul sambil tersenyum. "Dulu saya berharap sama Ahok, tapi penyakitnya dia itu mulutnya. Dia itu melawan."

"Ya mungkin dia merasa benar, Pak?" Balas saya agak serius. "Tapi menurut yang lain dia salah." Saya tertawa, meski tidak cukup ikhlas.

"Kalau seandainya dia diam, orang akan simpati, oh orang ini mungkin benar. Dia kan enggak. Semua orang dilawan. Mulutnya itu..." Pak Zul terdiam, sisa tawanya masih terlihat di bibirnya yang setengah terbuka.

"Dia mau beresin semua, tapi orang belum siap berubah ya Pak?"

"Kalaupun dia jadi, ini akan ribut terus." Sahutnya agak melenceng dari topik.

Kami tak bersuara sejenak. Saya tak berani melakukan intervensi pada pilihannya. Pak Zul telah menentukan sikap, saya harus menghormati itu.

Sejenak kemudian, dengan penuh semangat dia berkata, "Itu yang terbaru, dia bikin masjid mirip salib."

Saya kaget, tapi berlagak tenang. Saya sudah tahu isu itu sebelumnya. Namun saya tidak percaya, Pak Zul termakan kabar bohong itu.

"Di TV sudah ada belum?" Pancing saya mencoba mengurai.

"Di TV belum, tapi internet sudah ramai ini." Jawabnya polos.

"Hati-hati Pak, internet banyak hoax. Kalau di TV ada, nah itu baru..."

"Lha kan komentarnya ada itu di bawahnya, sudah jelas terlihat itu dari komentar-komentarnya. Masjid salib itu." Bantahnya.

Saya kehabisan kata-kata. Pak Zul ini orang baik, tapi hoax tak kenal semua itu. Ia racun yang membuat kebohongan seolah nyata. Argumen apapun tak berguna untuk menyadarkannya.

"Jadi umat Islam ini sengaja diadu sama mereka." Imbuhnya.

"Lha Hary Tanoe kan di pihak Anies, Pak?"

"Ah, itu di atas saja. Yang bawah ketemu itu. Pasti ke sana (Ahok). Umat Islam ini diadu."

Kepala saya tiba-tiba penuh. Pak Zul terus berkata-kata, tapi saya mulai tidak memperhatikannya. Wajah saya memang menghadap ke arahnya, tapi pikiran saya penuh kecamuk. Terbayang doktrin dalam khutbah jumat, omongan tetangganya yang dipenuhi gosip dan isu bohong, kabar hoax internet. Keyakinan Pak Zul terhadap propaganda kebencian itu sudah mengkristal.

Saya berharap pembuat hoax kena kutuk. Orang lain yang keras, culas, pelit, judes bolehlah jadi jamaah bumi datar. Namun jangan Pak Zul. Dia orang baik. Hanya saja lingkungannya homogen. Daya kritisnya tersekap kebohongan. Bertumpuk-tumpuk kebohongan. Kalau dia memang mau memilih Anies dengan kesadaran, akan saya hormati pilihannya. Tapi jika karena hoax, propaganda kebencian, doktrin keagamaan yang melenceng, itu sungguh biadab. Saya sungguh tak rela, benar-benar tak rela.

(sumber; facebook Kajitow Elkayeni)

Monday, April 17, 2017 - 07:45
Kategori Rubrik: