Masjid Itu "Rumah Tuhan" atau "Rumah Anies"?

Oleh : Sumanto Al Qurtuby

Beredar kabar bahwa Eep Saefulloh Fatah, "penasehat politik" paslon Anies-Sandi, menyarankan untuk menggunakan masjid sebagai instrumen politik dan propaganda untuk mengalahan paslon Ahok-Djarot (lihat video ini) yang ia anggap sebagai "pemimpin arogan". Mungkin berawal dari saran gemblung inilah, masjid-masjid di Jakarta kemudian tiba-tiba berubah menjadi semacam "rumah" paslon Anies, bukan lagi "rumah Tuhan".

Mungkin karena ini pula, para pengurus, takmir, dan khatib masjid-masjid di setiap mimbar Jum'at, hiruk-pikuk menyerukan kewajiban memilih Anies dan mengharamkan memilih Ahok serta menyerang kaum Muslim yang mendukung Ahok dengan memanipulasi dan "memperkosa" dalil-dalil dan teks-teks keislaman.

Eep rupanya terkesima dengan kemenangan pemilu partai Islamis-ekstrimis Aljazair yang bernama Front Islamique du Salut (FIS) atau Islamic Salvation Front, yang juga terkenal dengan sebutan "Taliban"-nya Aljazair yang menyerukan pendirian Negara Islam. FIS masuk daftar sebagai salah satu "partai/ormas teroris" dunia, bersama Jamaah Islamiyah dan lainnya. Banyak para petinggi partai yang didirikan oleh Ali Belhadj dan Abbasi al-Madani ini yang ditangkap karena terlibat berbagai operasi terorisme di Libia, Irak, Suriah, dlsb.

Kemenangan FIS dalam pemilu tahun 1990an, menurut Eep, karena menggunakan masjid sebagai alat kampanye dan instrumen propaganda politik karena itu jika paslon Anies-Sandi ingin menang, maka gunakanlah masjid. Sungguh hanya orang-orang yang otaknya somplak dan kesurupan "demit politik" serta "kebelet" kekuasaan saja yang menggunakan tempat-tempat ibadah (masjid, gereja, dlsb) untuk kepentingan politik praktis kekuasaan duniawi.

Menang-kalah dalam politik adalah hal lumrah tetapi hendaknya jangan sampai menggunakan cara-cara busuk dan gendeng untuk meraih kemenangan, apalagi menggunakan masjid sebagai medium propaganda hitam dan alat kampanye untuk meraih kekuasaan.

Sebagai "rumah Tuhan", masjid itu mestinya netral dan steril dari berbagai kepentingan politik praktis, dan untuk menampung umat atau jamaah dari berbagai kelompok keislaman, bukan malah digunakan seenak wudelnya untuk mendukung paslon ini-itu serta medium untuk memusuhi, memaki, dan melaknat orang lain yang tidak sehaluan. Fanatik boleh, gemblung jangan... **

Sumber : facebook Sumanto Al Qurtuby

Saturday, April 8, 2017 - 11:30
Kategori Rubrik: