Masjid Aksessibel

ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat Lc MA

Saya perhatikan ada dua model bangunan masjid dua lantai di Jakarta. Ada yang ruang shalatnya di lantai dasar dan ada yang di atas.

Saya secara pribadi lebih setuju kalau ruang shalat di lantai dasar, dengan alasan :

1. Ramah manula dan disabilitas. Orang-orang tua usia lanjut kasihan kalau harus manjat tangga setinggi itu. Apalagi mereka yang pakai kursi roda, dipastikan tidak bisa ikut shalat jamaah.

Kalau pun masjidnya kebanyakan duit mau pasang lift, sudah harganya mahal, bayar listriknya pun tidak murah.

2. Secara fiqih, yang lebih utama imam di bawah bersama jamaah asli. Kalau membeludak, barulah naik ke atas. Yang di atas bisa melihat imam atau jamaah di bawah. Maksudnya shafnya jadi tidak terputus.

3. Kalau imam dan jamaah asli di lantai atas, lalu luberannya ke lantai bawah, secara teknis amat menyulitkan. Karena orang di lantai bawah kesulitan melihat yang di lantai atas.

CCTV dan speakar kadang bisa dijadikan alasan pembolehannya, Tapi ada dua kendala. Pertama, yang pada belajar ilmu fiqih pasti selalu akan mempertanyakannya. Lama-lama kuping takmir masjid panas juga, tiap hari orang selalu tanya kenapa begitu kenapa begini.

Kedua, kalau pas mati listrik, shalat jamaah bisa bubar jalan seketika.

Sesungguhnya secara ilmu fiqih, hal-hal semacam ini sudah diantisipasi sejak lama oleh para ulama. Mereka sejak awal sudah mensyaratkan bahwa makmum yang di lantai berbeda harus bisa melihat langsung kepada imam.

Makanya meski beda lantai, tetapi harus dibolongin di bagian depan, jadi semacam foyer yang menghubungkan lantai dasar dan lantai atasnya. Konsepnya kayak mal-mal gitu lho. Pengunjung bisa melihat bebas ke bawah kalau pas ada pertunjukan di lantai dasar.

Siapa bilang ilmu fiqih tidak masuk ke dalam ilmu arsitektur? Masalahnya banyak arsitek muslim yang ngaku militan, tapi belum sempat belajar fiqih masjid.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Tuesday, April 7, 2020 - 08:00
Kategori Rubrik: