Masihkah Kita Diam?

ilustrasi

Oleh : Karto Bugel

Sepertinya, para cerdik pandai akan berteori dengan menggunakan dalil bahwa kejadian intoleransi di Solo adalah bukti kelompok intoleransi sudah kepepet.

Dalam rasa kepepetnya, mereka mulai bertindak ngawur dan berharap ada perlawanan dan kemudian kekacauan yang mereka inginkan terjadi.

Maka teori bahwa kita harus mengalah menjadi penting demi hal yang lebih besar.

Kader PDIP sudah diminta mengalah hingga titik paling memalukan. Beberapa kali kantor mereka diserang sejak peristiwa pembakaran bendera PDIP dan mereka diminta tak membalas tapi jalur hukum dipilih.

Mayoritas negara ini juga diminta tenang dan tidak terprovokasi.

Bukankah islam adalah agama pailing dirugikan dengan banyaknya kasus intoleransi segelintir manusia pekok yang membawa bawa nama islam dalam kebrutalannya?

Bukankah agama islam juga paling dirugikan ketika kebrutalan semacam itu tak ditindak aparat?

Tak berlebihankah bila dikatakan bahwa aparatpun mengamini tindakan para brutal itu ketika mereka justru diam?

Paling tidak, ketika para onar berbuat brutal dan aparat tak bertindak, padahal disisi lain mereka sedang mencoreng agama mayoritas di negara ini.

Para pembuat onar itu merasa boleh berbuat sesuka hati karena tak ada yang berani melawan, bahkan aparat.

Peristiwa brutal kembali terjadi di Solo pada acara seorang warga yang sedang midodareni, sebuah bagian dari tradisi jawa dalam prosesi pernikahan.

Tuan rumah yang diserang, dikabarkan masuk rumah sakit karena luka-kuka akibat tindak kekerasan gerombolan penyerang tersebut.

Akankah perdamaian dengan materai 6000 dan permintaan maaf akan kembali menjadi pola penyelesaian?

Apakah alasan demi mencegah kerusuhan yang lebih besar, maka peristiwa itu tak perlu diperkarakan dan korban luka diminta dapat memahami dan bijiak demi sesuatu yang lebih besar?

Berapa kali dan berapa banyak peristiwa serupa dan pihak yang diserang atau dirugikan justru yang diminta mengerti?

Sudah saatnya masyarakat mayoritas, gabungan dari seluruh komponen masyarakat cinta NKRI melawan.

"Yakin petugas keamanan tidak justru menindak kita? Gimana kalau kita diserang dan kita lawan tapi justru kita yang dianggap salah?"

Paling tidak kita tahu bahwa negara memang tidak hadir. Paling tidak, kita berjuang dan bukan diam saja. Paling tidak, ketika kita justru yang dihukum, kita sedang dalam rangka melindungi diri sendiri, bukan melindungi aparat keamanan.

Bukankah kewajiban aparat keamanan adalah menegakkan hukum? Lantas ketika ada pelanggar penegak hukum diam dan justru kemudian meminta pihak yang diserang tak membalas adalah bukti bahwa aparat berlindung dari sang korban?

Ya...,paling tidak, kita bertanggung jawab kepada dirin kita sendiri.

Paling tidak, perintah petinggi NU kepada jajarannya untuk menguasaia media online sudah dikumandangkan.

Paling tidak, tema "sing waras ngalah" sudah mulai direvisi.

Sudah saatnya kita melawan.
.
.
.
Rahayu
Sumber : Status Facebook Karto Bugel

Monday, August 10, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: