Masihat Mbah Moen untuk Para Penghapal Alquran

 

Ketika Gus Hilmi Nailufar salah seorang santri mbah Arwani Kudus sowan mbah Maimun Zubair Sarang (Mbah Moen)
Beliau dhawuh/berpesan sebagai berikut:

Zaman akhir cah cilik apal Qur'an # waton apal koyo moco Koran
(Zaman akhir anak kecil hafal al-Qur'an # Hanya sekedar hafal seperti membaca koran)

Cah cilik sing apal mung koyo wayang # munggah panggung mlebu tv dadi hiburan
(Anak kecil yang hafal al-Qur'an hanya seperti wayang # Naik pentas masuk tv untuk hiburan)

Akeh sik moco Qur'an mung krono duit# waton moco tanpo makhroj tanpo tajwid
(Banyak yang membaca Al-Qur'an hanya karena uang # hanya memnaca tanpa makhraj dan tajwid)

Pondok dibangun mung kerono gengsi # megah mewah akeh santri tanpo isi
(Pondok pesantren dibangun hanya karena gengsi # Megah dan mewah banyak santri tapi tidak berisi)

Akeh sik moco Qur'an nanging yo linglung # persis koyo Asu rebutan Balung
(Banyak yang membaca al-Qur'an tapi linglung # Persis seperti anjing berebut tulang)

Ojo melu edan-edanan leee
(Jangan ikut gila-gilaan, anak-anak)

Manuto Gurumu ,mbah Arwani 
(Ikutlah gurumu, mbah Arwani Kudus)

Dawuh ini senada dengan nasehat Gus Nidzom Sidoarjo dalam sya'ir tanpo waton:

Akeh kang apal Qur'an Hadist'e # seneng ngafirke marang liyane, kafire dewe gak digatekke

(Banyak yang hafal qur'an dan hadits # suka mengkafirkan orang lain, sehingga kafirnya dirinya tidak diperhatikan)

Perlu diketahui bahwa org yg mengkafirkan orang muslim, maka pernyataan itu kembali kepada dirinya.

 

Catatan admin:

Hanya orang yang punya dzauqun salim (haati yang bersih dan cerdas) yang paham dhawuh/nasehat mbah Moen ini

 

(Sumber: Sumber: Status Facebook Auf Portgas)

Thursday, July 21, 2016 - 22:30
Kategori Rubrik: