Masih Tentang Cadar dan Cingkrang

ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Isyu seputar Cadar dan Celana Cingkrang, Mata Novel Baswedan, sumbangan buat Ninoy, rapbd DKI, dan beberapa yang lain selama 2 pekan terakhir, telah sekali lagi membuktikan bahwa kita terpecah.

Yang berbahaya adalah sebuah kenyataan telak: opini publik di social media telah menjadi kekuatan maha dahsyat yang sanggup memorakporandakan apa saja. Dulu itu jadi mimpi dan tujuan bersama. Sekarang, setelah maujud, hasilnya mengerikan.

Tak ada lagi ruang atau kesempatan untuk bermenung. Ketika sebuah isyu dilontar melalui meme, ia tak terhentikan untuk menjangkau jutaan gadget dalam hitungan hari.

Meme tidak membawa data, tidak mengusung argumen, hanya celetukan. Tapi justru karena itu ia ringan melayang ke segala arah dalam tempo tinggi. Dan juga karena berupa celetukan ia dengan santai mampir ke benak kita tanpa satu jadi penyaring.

Tergelitik, kita tekan tombol share. Toh cuma celetukan, pikir kita. Gak perlu ditimbang, gak perlu dipikir panjang. Cuma celetukan, yang berakhir sebagai celetukan.

Tapi karena berlangsung masif, ia mengubah suasana. Sebuah tulisan ringan dengan tema yang sama berikutnya siap mengubah persepsi Anda dengan meme tadi sebagai penyiap landasan.

Segala adalah tentang persepsi. Butuh waktu lama untuk memugar reputasi Birgaldo Sinaga. Butuh extra efforts untuk mengubah prasangka tentang cadar dan celana cingkrang.

Belum pernah saya dengar sebuah negara mengatur cara warganya berbusana, bahkan di negara dengan pemimpin paling lalim seperti di Korea Utara sekali pun. Di sana Anda boleh berhijab juga berokmini.

Persoalan memang dipantik kaum ultra kanan. Mereka menabalkan diri kaum eksklusif yang menjaga kesucian dan bertekad hidup dalam kekudusan.

Kata suci dan kudus, itu persoalan sebenar. Allah kita bayangkan sebagai sesuatu yang maha kudus sehingga ke sana perhatian sepenuh kita arahkan. Tak satu dari kita punya imajinasi berseberang: Allah adalah kuli bangunan, atau TKW yang diperkosa di Arab, atau suami yang terpaksa berdagang narkoba buat menghidupi istri dan anak-anak. Allah bisa sesimpel dan semalang itu.

Tak terkecuali, bahkan di kalangan Kristen yang mengusung Allah dipermalukan-ditelanjangi-disalib pun kekudusan kesucian dan kebersihan adalah arah jalan. Pariaji dan Gilbert gak mungkin bertemu Yesus di sarang narkoba.

Padahal sudah seminggu Yesus sakaw di sana.

Sudah sebulan payudara Yesus dihajar infeksi karena seorang pelanggan sadomasokis menggigitnya secara brutal untuk memuja gairah.

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Wednesday, November 6, 2019 - 08:45
Kategori Rubrik: