Masih Percaya Khilafah Solusinya?

ilustrasi

Oleh : Fadly Abu Zayyan

Dalam lima tahun terakhir, Indonesia telah menjadi barometer dan primadona dalam hal perdamaian Umat Beragama. Bagaimana tidak, masyarakatnya yang plural dengan berbagai macam golongan, namun mampu menjaga keharmonisan serta kerukunan. Dan yang menjadi sorotan utama adalah Wajah Islam Nusantara. Islam yang berkemajuan dan inklusif, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan jaman. Jadi tidaklah heran jika kemudian, model Islam Nusantara mulai diadopsi di berbagai negara. Contohnya Afghanistan yang sudah lelah dengan konflik bermotifkan agama. Mujahidin berperang dengan Taliban, bahkan terakhir Taliban juga bertempur melawan ISIS yang sama-sama mengklaim paling Islami. Kini Afghanistan sudah memiliki Nahdhatul Ulama seperti di Indonesia. Meski ada sedikit perbedaan lambang di sana. NU Afghanistan (NUA) bintangnya hanya lima. Tapi secara konsep keIslaman, tentu sudah mirip dengan NU di Indonesia.

Dan pada tanggal 20 sampai 23 Agustus 2019 nanti, akan berlangsung Hajat Pertemuan Antar Agama sedunia yang berlangsung di Lindau, Jerman. Perwakilan dari belasan agama berdialog mencari solusi konflik yang melanda berbagai belahan dunia. Dalam hajat tersebut, seharusnya Indonesia menjadi primadona karena dinggap mampu menjaga perdamaian umat beragama. Apalagi Indonesia sebagai negara pemeluk Agama Islam terbesar di dunia, dianggap mampu menangkal berbagai terpaan Radikalisme Agama. Khususnya Agama Islam yang akhir-akhir ini sering terlibat konflik.

Namun yang terjadi menjelang hajat ini, tiba-tiba saja muncul isu penistaan agama yang cukup sensitif. Beredarnya video tentang penghinaan terhadap Salib oleh seorang Pemuka Agama, disusul dengan video penghinaan Air Zam-Zam dan Ritual Haji oleh pemuka Agama yang lain pula. Ditambah lagi isu bernuansa SARA yang meletup ditengah-tengah masyarakat Papua. Yang mana notabene, Agama Islam dan Nasrani sama-sama menjadi agama yang berkembang pesat di sana. Bisa saja, isu kebangsaan akan diseret merembet menjadi isu agama ditengah kondisi emosi kelompok masyarakat yang "marah".

Melihat rentetan kejadian di atas, tentu sulit untuk disangkal bahwa semuanya adalah "by design". Patut diduga ada provokator kelas dunia yang sedang memainkan para pionnya. Karena jika pada akhirnya Indonesia sebagai Kiblat Perdamaian Agama benar-benar terwujud, maka Ideologi Khilafah akan menjadi rongsokan yang tidak laku. Dan ini tentu akan merugikan tuannya. Sang Tuan yang berusaha menguasai Sumber Daya melalui Isu Agama. Dan jika antum semua sudah tahu bahwa Pusat Kendali (Qiyadah) Khilafah berada di Kota London sana, apa masih percaya bahwa semua persoalan Khilafah Solusinya?

Sumber :: Status Facebook Fadly Abu Zayyan

Thursday, August 22, 2019 - 14:15
Kategori Rubrik: