Masih Ada Tugas Lain Kawan

ilustrasi

Oleh : Manuel Mawengkang .

Kita melihat apa yang terjadi di dunia politik pasca Jokowi dan Ma’ruf Amin ditetapkan sebagai presiden dan wakil presiden terpilih, mulai bergulir. Pasca penetapan ini, kita melihat bagaimana reaksi bisu dan nihil dari Prabowo. Orang ini sudah tamat. Orang ini sudah hancur harga dirinya.
Tapi ada seorang yang diorbitkan lebih ke depan. Orang ini kaya raya, masuk ke dalam golongan satu persen orang berduit di Indonesia dalam jumlah hartanya.
Namanya Sandiaga Uno. Di luar dia menista kuburan, untuk apa? Untuk dikenal. Dia nampak dungu dan terkesan sebagian otaknya tidak digunakan. Tapi, orang ini adalah pebisnis. Baginya, tidak ada yang boleh rugi. Bagaimana kisahnya?

Orang ini bukan politisi murni. Politik adalah mesin baginya untuk mencari uang. Orang ini mirip dengan Anies. Anies juga sebenarya bukan politisi, dia penjual obat. Dalam hal ini, saya harus mengakui bahwa Anies dan Sandi berhasil menjadi parasit bagi Prabowo.
Mereka mendompleng Prabowo, mengambil sisa-sisa kekuatan politiknya yang sudah redup, untuk dilanjutkan kepada mereka. Anies dan Sandi ini adalah dua tokoh yang begitu cerah masa depannya.
Tapi bagaimana pun juga, di dalam persaingan evolusi, ada yang disebut survival of the fittest. Anies di tengah-tengah perjalanan menjadi dungu, dan menjadi orang yang paling kasihan.
Ambisi Prabowo menguasai Indonesia melalui Jakarta, membawa Anies ini sebagai kelinci percobaan permainan isu SARA. Dan di Jakarta, permainan isu SARA berhasil dilakukan.

Anies menang. Tapi ternyata, Prabowo meleset. Masih ada perhitungan lain yang tidak diperhitungkan. Apa? Cara kerja Anies. Awalnya orang ini yang akan diorbitkan menjadi presiden di tahun 2024.
Ini sudah sesuai dengan apa yang mereka rencanakan di awal. Tapi rasanya, melihat hari ini, peluang itu agaknya sulit terjadi. Mengapa? Karena rekam jejak tolol yang ditinggalkan di DKI Jakarta, begitu membekas dan membuat Indonesia gelgn-geleng kepala.

Anies ternyata tidak bisa mengurus kota. Saya dari jauh pun lihat Jakarta buruk sekali. Orang ini merusak Jakarta.
Sebenarnya peluang itu bagaimana pun tetap masih ada. Tapi agak tertutup dengan asap tebal di dalam rekam jejak Anies.
Satu yang paling cocok saat ini adalah Sandiaga. Orang ini mencitrakan dirinya dengan luar biasa cerdas, kalau tidak mau disebut licik. Orang ini begitu cerdas dalam mencitrakan dirinya. Orang ini menista kuburan dan kemudian terkenal.

Orang ini melangkahi kuburan pendiri NU dan NKRI di Jawa Timur. Orang ini juga melayat dengan pakaian tidak pantas. Yang dilayat adalah mantan anggota kepolisian RI. Menghina polisi.
Mencitrakan diri dengan sangat tepat. Sandiaga ini juga sengaja melakukan drama-drama dungu saat kampanye. Pendukungnya melakukan drama bawang, juga ada yang melakukan drama ditolak. Ini demi sebuah pencitraan belaka.
Kita melihat bahwa Sandiaga juga pura-pura sedih seperti habis ditampar, sewaktu Prabowo melakukan Deklarasi kemenangan yang pertama.

Sandiaga tertekuk dan mukanya sok sedih. Demi apa? Demi pencitraan. Para pendukung Jokowi yang lugu dan polos pun juga akhirnya luluh.
Banyak cebong-cebong yang luluh melihat Sandiaga ini. Orang ini penuh dengan pencitraan. Dia bisa mengguncang hati para pendukung Jokowi yang tidak tahu apa-apa dan baru masuk politik.

Tapi pencitraan semacam ini, benar-benar gak jelas. Orang ini tidak bisa dipegang. Pebisnis ini tahunya harus untung. Kalau perlu, korbankan banyak. Bahkan korbankan sebanyak-banyaknya rakyat, untuk keuntungan.
Buktinya Sandiaga ini pada akhirnya mendapatkan sebuah hal yang begitu menguntungkan. Sahamnya melonjak tinggi. Perusahaannya untung. Padahal dia kalah. Kenapa bisa begitu? Coba tanyakan langsung ke orang ini.

Bahkan di dalam kenaikan sahamnya, orang ini masih ngemis-ngemis dan pura-pura jadi tukang minta-minta kepada pendukungnya.
Pendukungnya memberikan sumbangan ke Sandiaga. Berikan sumbangan ke orang kaya. Ini adalah sebuah tindakan Sandiaga yang paling cerdik.

Tapi cerdiknya saya pikir, ada bau amisnya. Ternyata tugas kita berat. Setelah Prabowo kalah, kita bukan hanya harus pastikan Anies gak nyapres, tapi juga Sandiaga. Karena dua orang ini ga bisa kerja dan berpotensi merusak tatanan yang sudah dibuat Jokowi dengan baik jika jadi pemimpin di masa depan.
Jangan sampai ini terjadi, Indonesia butuh pemimpin yang nasionalis.
Begitulah satu-satu.

Sumber : Status Facebook Manuel Mawengkang

Wednesday, July 10, 2019 - 10:30
Kategori Rubrik: