Masalahnya karena Ahok adalah Ahok

Oleh: Eko Kuntadhi
 

Di Jakarta masyarakat terbagi menjadi dua golongan : pro Ahok atau pro FPI. Sebetulnya FPI dan pentolan Islam garis keras berada di bawah payung GNPF-MUI. Tapi Rizieq and the gank memang paling sering tampil di publik. Jadi yang kentara adalah Ahok vs FPI.

Mestinya saat pilkada ini, rakyat Jakarta terbagi jadi tiga kelompok besar, pendukung Agus, Ahok atau Anies. Kan cagubnya mereka.

Jika saja rivalitas masing-masing cagub yang mengemuka, sebagai rakyat kita enak. Mereka akan saling mengkritik, membeberkan program, membuka rencana, mengumumkan rekam jejak dan sebagainya. Lalu masyarakat tinggal timbang-timbang : kira-kira kandidat mana yang mau dipilih.

Soal banjir, misalnya. Ahok memilih menertibkan hunian pinggir kali dan memindahkan penduduknyanke rumah susun.

Beda lagi sama rencana Agus. Untuk mencegah banjir, dia memilih membangun kota terapung. Entah bagaimana bentuknya kota terapung di sungai sempit Jakarta. Kalau mahluk terapung kita tahu : cari saja cewek berdaster putih yang kakinya tidak memijak tanah. Hiii...

Atau soal pembenahan birokrasi. Ahok lebih memilih menggunakan gaya stick and carrot. Yang berprestasi dapat promosi dan insentif. Yang korup dan ngeyel, dipecat. Hasilnya sudah terasa sih. Pelayanan publik di Jakarta jauh lebih baik. Rakyat seperti merasakan kehadiran negara dalam kesehariannya.

Beda dengan Anies yang ingin membangun manusianya. Anies misalnya lebih memilih pendekatan lembut kepada jajarannya. Pendekatan terlalu lembut yang akhirnya terkesan gak ada pembenahan itu juga yang mungiin membuat dia terpental dari kursi menteri.

Bagaimana strategi membantu rakyat miskin? Ahok lebih memfokuskan pada Kartu Jakarta Sejahtera. Kartu itu juga berfungsi sebagai kartu debit. Semua bantuan untuk rakyat disalurkan via rekening. "Gak bakalan ada yang bocor. Semuanya tercatat di bank," begitu alasan Ahok.

Beda dengan Agus. Dia akan membagi-bahikan duit. Setiap RW dikasih Rp 1 milyar. Ibu-ibu juga dijanjiin. Pengemis dan gelandangan disanguin. Ini nyontek kebijakan BLT bokapnya dulu. Intinya : nyawer!

Tapi sayangnya, isu-isu penting itu tidak jadi perdebatan. Justru kita ribet dengan obrolan yang gak ada ujungnya : apa agama seorang Gubernur.

Inilah yang mengemuka. FPI ada dikubu yang menolak Gubernur Non Muslim. Sebetulnya gak juga sih. Bukan hanya Jakarta yang calon pemimpin daerahnya non-muslim. Di banyak daerah juga ada Cabup dan Cawalkot yang non-muslim. Tapi Al-Maidah 51 versi mereka gak kedengeran tuh, di daerah lain.

Bahkan di kepulauan Sula, Maluku, PKS dan PKB mendukung Cabup Pendeta berhadapan dengan lawannya yang muslim.

Jadi intinya bukan karena Ahok non-muslim. Bukan juga karena Ahok Tionghoa. Masalahnya karena Ahok adalah Ahok.

Ahok menghabisi semua tikus di birokrasi DKI. Ahok mempelototi setiap sen duit rakyat dn pesta pora APBD berhenti smpe diini. Ahok mulutnya sepedes sambel geboy terhadap koruptor. Satu lagi : karena Ahok sudah mengerjakan semuanya dengan lebih baik. Rakyat Jakarta merasakan hasil kerjanya.

Kalau semua sudah dikerjakan dengan baik, lalu apa modal yang bisa dipakai lawan untuk bertanding? Hampir gak ada!

Satu-satunya kelemahan Ahok di mata mereka adalah Ahok bukan muslim. Itulah makanya, Al Maidah 51 versi mereka digembar-gemborkan. Sebentar lagi malah mau dijadikan bahan aksi massa. Meskipun kesannya Al Maidah 51 hanya berlaku di Pilkada Jakarta saja. Tidak untuk wilayah yang lain.

Dengan alasan Al Maidah 51 itulah FPI and the gank bikin ribet terus dalam Pilkada ini. Tentu saja itu disambut senang Anies dan Agus. Sekarang mereka berdua sedang berebut paling Islami. Mereka mematut-matutkan diri dengan FPI dan gank-nya.

Pokokny gini aja deh. Kalau nanti-nanti diadakan Pemilu lagi, FPI dan teman-temannya jangan dikasih tahu, ya --orangnya gak asyik!

 

(Sumber: Status Facebook Eko Kuntadhi)

Tuesday, January 10, 2017 - 05:30
Kategori Rubrik: