Masalah Kita Adalah Kamu, Bukan Dia Atau Mereka

ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Seorang perempuan hari itu hadir di 2 kebaktian. Total pengunjung sekitar 3,000an. Lalu Corona merebak dahsyat. Tertemukan: 80% dari pasien terpapar Corona di Korea Selatan berasal dari perempuan itu.

Pasien 31, demikian perempuan itu disebut, hanya hadir di pertemuan 3,000 orang. Dia mungkin cuma menginfeksi 5 orang di kebaktian pertama. 5 orang ini berpencar ke kebaktian lain. Masing-masing, katakanlah, hadir di kebaktian berhadirin 1,000 orang. Setiap orang menginfeksi 3 orang.

Sekarang kita punya 15 spreaders dalam sehari. Mereka mampir di restoran sebelum pulang. Di sana masing-masing menginfeksi 2 orang, menghasilkan 30 calon pasien Corona. Mereka belum batuk, belum pilek, belum demam. Tidak ada tanda-tanda sama sekali. Mereka hidup normal.

Di rumah, 30 orang terebut menginfeksi, masing-masing, 1 orang. Sekarang Corona punya 60 serdadu. Mereka tidur, bangun pagi, bersarapan, lalu naik transportasi publik untuk pergi ke kantor. Sore itu Korea selatan punya 1,000 pasukan Corona yang belum sakit, tidak menunjukkan tanda apa-apa.

Keesokan hari rutinitas berulang. 1,000 menjadi 2,000, lalu 4,000, lalu 8,000, lalu 16,000, lalu 32,000 lalu 64,000, dan seterusnya. Semua bermula dari pasien 31 di sebuah ibadah, hanya 2 hari lalu. Sepekan kemudian sekian ribu orang bersulih-status: positif Corona. Bareng. Dunia terkejut. Kok bisa muncul pertambahan ribuan kasus dalam sehari?

Berapa persen, menurut Anda, probabilitas bagi kemunculan skenario seperti itu dari ibadah penahbisan Uskup di NTT hari Minggu kemarin? Anda saja yang nebak. Saya ngeri.

Berapa persen juga, menurut Anda, probabilitas bagi kemunculan skenario serupa dari 8,000 peserta ijtima dunia di Gowa kemarin? Acara tersebut batal. Tapi 8,000 orang sudah di sana. Mereka datang dari acara serupa di Malaysia. Penyelidikan sudah membuktikan bahwa 19 kasus di Indonesia bermula dari acara di Malaysia. Sekarang, 8.000 orang yang sama ada di Gowa.

Lagi, berapa persen, menurut Anda, kemungkinan semacam itu terjadi dari shalat Jumat pada hari ini yang tidak secara tegas dibatalkan MUI? Sama dengan itu, berapa persen peluang bagi kengerian kayak gitu merebak dari ibadah minggu HKBP pekan ini yang belum dibatalkan parhalado HKBP?

Saya tidak takut pada Corona. Pekan lalu saya ejek virus tersebut dengan mengajak semua orang berpelukan. Teman saya di Singapura langsung mendamprat habis. “Hail Sahat. Dia punya iman sebesar biji kedondong. Corona takluk sama dia."

"Tapi tahukah kamu, Sahat? Di pakaianmu mungkin bersarang virus Corona. Mereka belum menginfeksi kamu. Pulang ke rumah, kamu cuci-muka, cuci-tangan, mandi. Kamu selamat. Tapi sekian orang yang berpelukan dengan kamu terpapar hebat. Dua pekan kemudian mereka wafat. Semua bermula dari kesombongan kamu.”

Pendeta dalam ibadah yang dihadiri pasien 31 sekarang dibawa ke meja hukum, didakwa sebagai pencetus keonaran. Dia menangis, mencium bumi, memohon ampun, mengakui kesombongannya. Saya tidak tahu seberapa besar nyali kita di negeri ini untuk mendakwa Uskup, Kardinal, pengurus MUI, dan Parhalado HKBP?

Meme yang menuntut Pemerintah RI untuk mengarantina Uskup dan Kardinal dishare banyak orang. Sebagian dibagikan ke grup orang NTT. Banyak dari mereka marah dan tersinggung, menantang saya berkelahi, menganggap saya provokator, bahkan bermaksud mencaritahu alamat saya.

Saya tidak melakukannya atas nama kebencian. Tuntutan tersebut melayang berbasis cinta kepada orang-orang NTT yang menjadi temporal habitus bagi sekian ribu hadirin ibadah penahbisan. Kalau semua hadirin itu tidak dikarantina, pekan depan masyarakat NTT terpapar, lalu menjadi spreaders, menewaskan orang-orang ke mana pun mereka bergerak.

Tahukah kalian? Dalam situasi pandemik, setiap orang berpoteni menjadii penyebar virus. Meski sehat, meski belum atau tidak terinfeksi, saya dan Anda berkemungkinan menjadi pembawa virus. Kita selamat, mereka wafat. Semua berawal dari kesombongan.

Saya yakin Parhalado HKBP tahu tentang itu. Maka, bagaimana saya menilai mereka? Manusia jahat? Tidak, saya bisa dituntut ke pengadilan kalau melansir dugaan kayak gitu.

Sekelompok manusia tolol? Anda punya kemungkinan lain?

Saya warga jemaat HKBP. Saya tidak rela dipimpin sebarisan orang tolol. Maka, baiklah saya teriakkan dengan lantang:

"Kepadamu umat HKBP, kosongkan gerejamu pekan ini dan pekan depan."

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Friday, March 20, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: