Masalah Bali Bukanlah pada Rakyatnya

ilustrasi

Oleh : Niluh Djelantik

Bali itu ibarat hutan yang sedang kebakaran.
Yang jadi pemadamnya adalah rakyat itu sendiri yang putar otak cari cara bagaimana tetap hidup dan bertahan.

Rakyat Bali itu polos dan penurut.
BALI UDAH HAMPIR 3 BULAN "PSBB'

Masalah Bali bukan pada rakyatnya. Tapi pada kamu yang katanya bekerja mengatasnamakan nama mereka.

Kamu kemana aja ?

Bali itu sudah hampir 3 bulan PSBB secara halus, bahkan sebelum istilah PSBB itu lahir dan jadi acuan pemerintah pusat.

Baru dihimbau saja rakyat sudah paham. Sebagian besar dari mereka memutuskan untuk berdiam dirumah. Bekerja dari rumah. Bukan karena buat gaya-gayaan. Tapi karena satu memang sudah dirumahkan bahkan diberhentikan,dan juga untuk alasan menekan penyebaran Covid-19 yang santer diberitakan.

Gak percaya ?
Silakan jalan-jalan ke daerah pusat perekonomian yang menyumbang 60% devisa negara untuk pariwisata. Udah kayak kuburan sejak Maret 2020.

Silakan tanya teman dan baca berita berapa banyak usaha yang udah tutup bahkan gulung tikar.

Silakan cek para pengusaha yang masih tegar bisa senyum, tapi hati menjerit karena cadangan kas berjalan hanya bisa bertahan dalam hitungan bulan.

Silakan cek tetangga dan saudara. Berapa banyak dari mereka yang dirumahkan bahkan diberhentikan.

Silakan buka sosmed ada berapa kawanmu yang banting stir, cari pemasukan tambahan dan alih profesi sejak 3 bulan belakangan.

Yang masih punya semangat dan tenaga untuk bertahan akan putar otak, cari jalan agar roda ekonomi keluarga dan kompor di dapur tetap bisa nyala. Tak semua punya pilihan itu. Banyak yang akhirnya menyerah dan mati perlahan.

Bali tak punya mental pengemis.

Jikalaupun terkadang mereka komplain, curhat, ngomel di sosmed. Itu lebih kepada ungkapan isi hati bahwa rakyat sudah nurut.

Di PHK nurut gak ada demo-demo.
Dirumahkan dibatasi jam kerja nurut metilesang iban.
Dihimbau tinggal di rumah nurut.
Ngurus anak sekolah dari rumah sudah nurut.

Tapi perut kosong tak bisa dikenyangkan dengan himbauan.

Kreativitas rakyat Bali super keren.
Survival Instinct mereka tak perlu dipertanyakan.

Yang menjadi masalah adalah kamu yang bekerja mengatasnamakan nama rakyat. Yang memohon dan mengemis suara rakyat. Yang mengetuk pintu mereka saat kamu membutuhkan mereka.

Bali dipuji Jokowi karena angka kesembuhan tinggi.
Kamu tahu kenapa ?
Karena Bali melalui desa-desa adat mereka sudah menjalankan PSBB secara tak langsung. Sebagian menutup wilayah mereka. Dan kamu tahu karakter orang Bali ? Kalau gak penting-penting amat. Kalau gak sedang bekerja dan harus cari nafkah. Mereka itu tipe yang memang betah dirumah.

Silakan gunting pita itu. Silakan senyum sumringah oleh pujian itu. Silakan nongol sana sini sambil menepuk dada penuh kesombongan.

Sebagai bagian dari rakyat jelata.
Pendapatku sederhana saja.
Rakyat Bali dan desa adat adalah penjaga pulau ini yang sebenar-benarnya. Kekuatan dan ketabahan rakyat jadi bekal mereka untuk bertahan di tengah bencana yang tak pernah terbayangkan oleh mereka sebelumnya. Mereka saling bahu membahu, membantu dengan cara yang mereka bisa. Walau tak jarang merekapun sebenarnya sedang kesusahan. Itulah Bali. Itulah menyama braya. Itulah karakter yang telah melekat sejak mereka dilahirkan.

Tugasmu sebenarnya tidak berat dalam mengurus Bali.
Cukup turun temui rakyat sesekali. Sampaikan bahwa kamu menyayangi mereka. Sampaikan bahwa kamu mengabdi dengan sepenuh hati.

Sampaikan bahwa kamu akan melakukan APAPUN SEMAMPUMU dengan kekuasaan yang kamu miliki untuk memastikan roda perekonomian Bali tetap bergerak. Kalau uang sudah tak datang ke Bali. Kamu ikut putar otak cari jalan untuk jemput bola bagaimana Bali tetap survive.

Di akhir hari. Rakyat bisa tetap hidup. Dapur mereka tetap ngebul. Rakyat bisa beraktivitas kembali dengan mengikuti aturan untuk jaga protokol kesehatan.

Dan kamu-kamu yang masih haus untuk mereguk kekuasaan. Silakan jajakan lagi dirimu di pemilihan nanti.

Rakyat sudah mencatatmu,memutuskan perlahan.
Masihkah kamu memiliki kunci untuk memasuki pintu hati mereka yang terdalam.

Dan sebagai bagian dari mereka. Aku akan terus bersuara. Aku akan terus melakukan apapun yang kubisa untuk memberikan solusi pada mereka. Puluhan ribu UMKM yang bergabung di Grup Rumah Belajar Niluh Djelantik adalah salah satu bukti cintaku pada mereka.

Aku akan terus bersuara. Walau cacian, makian bahkan ancaman kuterima.
Aku akan terus bersuara. Walau langit runtuh.

Karena suara rakyat adalah suara Tuhan.
Dan jika kamu khianati, suatu hari nanti kamu harus pertanggungjawabkan.

Sumber : Status Facebook Niluh Djelantik.

 

Friday, May 15, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: