Masa Lalu Kita

Oleh: Erizeli Bandaro

 

Tahukah kamu, kata teman, hal yang paling berbahaya ada teori politik yang bertumpu kepada SDA dan modal. Bahwa mayoritas rakyat harus dimiskinkan, dengan menciptakan lingkungannya yang tidak mendukung mereka cerdas dan kreatif. Tujuannya apa ? agar mereka semakin bergantung kepada kekuasaan. Semakin besar ketergantunganya maka semakin kokoh oligarki bisnis dan politik mengontrol SDA dan Modal. Teori itu diperkenalkan di Eropa tetapi untuk daerah koloninya ratusan tahun lalu. Nah ketika Jokowi berkuasa, dia mewarisi Indonesia yang dibangun puluhah tahun dengan mindset seperti itu. Mau bukti?

Rasio GINI selama 10 tahun SBY berkuasa turun menjadi 0,5. Indeks Gini ini biasanya digunakan untuk mengukur kesenjangan pendapatan dan kekayaan suatu negara. Dengan indeks gini di atas 0,4, ketimpangan di Indonesia tergolong tinggi. Ini bisa mengancam stabilitas politik, karena bisa digunakan oleh petualang politik untuk terjadinya chaos. Mengapa? gap antara orang kaya dengan miskin sangat lebar sekali. Jadi sangat mudah di provokasi untuk menimbulkan kecemburuan sosial. Tetapi SBY smart, sebagaimana Soeharto, dia melempar uang ke publik lewat subsidi BBM yang akan menibulkan dampak berganda mempengaruhi harga kebutuhan pokok. Diperkirakan jumlahnya mencapai 3000 Triliun rupiah. Dan karena itu stabilitas politik terjaga.

 

 

Lantas apa yang didapat dari oligarki Politik dan Bisnis dari stabilitas Politik semu itu ? Para pemodal semakin tinggi mendapatkan peran memacu pertumbuhan Ekonomi. Tetapi bukan pertumbuhan yang menciptakan lapangan kerja luas. Elastisitas 1 persen growth dalam membuka lapangan kerja turun dari 436.000 menjadi 164.000. Bukan itu saja, efisiensi ekonomi semakin memburuk, ditandai dengan semakin tingginya indeks ICOR, dari 4,17, menjadi 4,5. Sehingga membuat investor pendatang baru malas masuk ke Indonesia, yang tentu semakin mengkokohkan oligarki politik dan bisnis yang ada. Makanya jangan kaget nilai uang swasta yang ditempatkan di luar negeri diatas 5000 Triliun rupiah. Itulah hasil dari kekuatan kebijakan oligarki politik dan business.

Nilai tukar petani selama 10 tahun terakhir turun 0,92. Itu karena inefisiensi birokrasi, korupsi, dan keterbatasan infrastruktur. Sehingga membuat orang malas jadi petani. Kemiskinan massive terjadi, namun diatasi dengan Bantuan Tunai Langsung. Para buruh banyak yang kena PHK dan angkatan kerja baru terus bertambah tanpa terserap karena selama 10 tahun terjadi deindustrialisasi. Kontribusi industri terhadap PDB menurun. Orang lebih suka impor daripada buat barang sendiri. Mengapa ? karena semakin tinggi indeks ICOR, dari 4,17, menjadi 4,5. Yang menandakan tidak adanya efisiensi produksi akibat korupsi dan bisnis rente.

Di era Jokowi, kebijakan yang by design memiskinkan rakyat itu di hapus. Apapun yang sebenarnya terjadi , Jokowi buka di hadapan rakyat. Bukan hanya dibuka tetapi juga tercermin dari kebijakannya yang memaksa rakyat bangun dari tidur panjang akibat pembodohan berpuluh tahun dari elite kekuasaan. Dampaknya sangat luar biasa secara politik. Para petualang politik menggunakan data GINI itu untuk memprovokasi rakyat miskin bahwa mereka miskin karena Jokowi. Padahal kemiskinan itu sudah ada dari dulu, hanya di siasasi secara culas agar rakya terlena. Memang kejujuran itu mahal, dan Jokowi mengambil resiko atas kejujuran itu agar rakyat mau berubah dan bersama sama memperbaiki bangsa ini demi masa depan yang lebih baik.

Selama satu periode Jokowi berkuasa, tidak mungkin dia bisa membalik keadaan dari yang super buruk menjadi sangat baik. Mengapa ? karena pertumbuhan dibawah 7% akibat situasi ekonomi global masih lesu, sangat tidak menguntungkan. Berbeda dengan China yang ketika mereformasi ekonominya kondisi ekternal pasar international lagi booming. China sukses keluar dari kegelapan akibat kebijakan Maoisme dengan pertumbuhan dua digit selama dua dekade. Tetapi untuk itupun, China butuh waktu 25 tahun untuk menjadi kekuatan ekonomi nomor dua dunia. Dan sukses itu didukung pula oleh stabilitasi politk yang terjaga. Jadi memang berat tantangan indonesia kedepan. Ini bukan soal Jokowi tetapi soal kita sebagai bangsa. Maukah kita berubah dimasa kini , untuk generasi masa depan yang lebih baik?

Semoga para elite politik yang masih punya mindset memiskinkan rakyat agar tobat. Kalau sudah tobat, maka mari sampaikan kejujuran itu kepada rakyat bahwa masa lalu kita sangat kelam, kita harus berubah dengan berkorban di hari ini agar besok anak cucu kita dapat hidup lebih baik. Mungkinkah ?

Sumber : Buku "Jalan Sepi" karya Erizeli Bandaro

Monday, February 5, 2018 - 15:00
Kategori Rubrik: