Mas Mayor

ilustrasi
Oleh : Mas Soegeng
Tak mudah menjadi pemimpin. Terlebih Ketua Partai. Lebih-lebih Partai yang dikuasai keluarga.
Berada di puncak berarti harus memiliki kemampuan melihat sekeliling. Ia harus bisa meniru seorang guru seperti John Keating ( Robin William) dalam Dead Poet Society. Berdiri di atas meja kelas untuk bisa melihat setiap karakter muridnya.
Mungkin Mayor Agus belum melihat film itu. Tanpa melihat sekeliling, ia tak bijak mengelola para pembisik. Ia bisa menjadi korban dengungan di sekelilingnya.
Itu yang terjadi dengan Agus Harimurti Yudoyono ( AHY). Yang memilih mundur dari pangkat Mayor tentara untuk mewarisi tahta partai sang papi. Menjadi Ketua Partai sekaligus pemegang kerajaan Cikeas. Itu impian papi. Bukan impian mayor Agus.
Kasihan sebenarnya Mayor Agus ini. Ia tak mampu mendengarkan bisikan sekeliling dengan bijak.
Tanggal 1 Februari pagi, Mayor Agus nekat kirim surat kepada Pesiden Jokowi. Isinya soal dugaan keterlibatan pejabat Istana dalam gerakan kudeta di Partai Demokrat. Surat itu diacuhin Istana. Dan memang selayaknya begitu. Sopan santun politik telah dilupakan Mas Mayor. Persoalan internal justru ditarik keluar.
Ketika tanggal 18 Februari surat itu tetap tak dibalas Istana, gundahlah Mayor Agus.
Ia bikin jumpa pers. Mengkoreksi diri bahwa Kudeta Partai Demokrat tak terkait dengan Presiden Jokowi. Ia tak minta maaf mengganggu orangtua macam Jokowi.
Mayor Agus hanya mengakui bahwa Ini gerakan memecahbelah antara SBY dan Jokowi. Ada yang bermain di internal Demokrat.
That’s what he said.
Zeng Wei Jian mengirim tulisan status melalui WA saya bernada keras. Bahwa Mayor Agus ini seorang yang mencla-mencle. Unreliable. Incosistent. Emotional dyslexia. Ia salah kalkulasi. Ia bukan leadership paradox. Belum matang. Childish. Sangat berbahaya jika menjadi presiden. Itu sebabnya demokrat tidak solid. Yang dipecat ngumpul di Jakarta. Menuntut KLB yang bisa jadi solusi kekisruhan internal.
Posisi Mayor Agus sepertinya terancam. Gampang didepak. Ia harus waspada bahwa ini soal poitik. Bukan sekedar intrik keluarga. Terlalu banyak orang sakit hati di sekitarnya. Terlebih ini musim hujan. Salah langkah sedikit, terpeleset dia.
Mengapa ?
Karena ia memang bukan panglima. Bukan jendral.
Ia sekedar mayor.
He needs lots of experiences.......
MS
Sumber : Status facebook Mas Soegeng
Sunday, February 21, 2021 - 10:30
Kategori Rubrik: