Mas Ipar Saya dan Covid

ilustrasi
Oleh : Ainur Rofiq Al Amin
Kisah ini saya tulis bertujuan membuat lebih tenang orang-orang daripada ketakutan berlebih. Tentu bukan bermaksud mengentengkan, apalagi jumawa.
Saya punya Mbakyu kandung yang penyayang, namanya Dzuriyatin (saya panggilnya Yah Dur). Sejak saya kecil, beliau yang membantu Mak ngopeni saya entah memandikan, mencuci pakaian saya dan lain sebagainya. Begitu seringnya sampai saat ini saya masih ingat hal itu. Tentu ada Mbakyu saya yang lain yang juga top.
Yah Dur (55 tahun) yang dahulu saat sekolah di Madrasah Irsyadiyah Salafiyah pondok Gedongsari, Prambon, Nganjuk naik sepeda pancal dan pernah terjatuh di sungai bok kembar ini adalah orang desa yang sederhana dan tabah. Dia punya satu anak semata wayang yang bernama Mujiburrohman.
Suami Yah Dur bernama Moch Thoifur, petugas pencatat pernikahan. Mas Thoifur sudah 16 tahun kena diabet kering.
Tanggal 27 Desember 2020, Mas Thoifur merasa lemes tapi masih bisa jalan normal dan juga bisa sholat Jumat. Lemas badan yang harus dibopong dimulai sejak tanggal 30 Desember 2020.
Pada tanggal 1 Januari 2021, Mas Thoifur ingin ke rumah Mak kami di dusun Tuko walau dengan dibopong oleh putranya. Hal ini karena pada tanggal 2 Januari ada haul Bapak saya. Di rumah Mak, Mas Thofur hanya di kamar saja tanpa kemana mana dan tidak bertemu dengan para famili.
Sepulang dari Tuko, tepatnya pada tanggal 3 Januari, kondisi badan Mas Thoifur masih tetap lemas. Lalu dibawa ke RS swasta di Kediri. Masuk IGD & rapid test hasil reaktif. Lalu dibawa dan dikumpulkan ke ruang isolasi sementara yang di situ ada pasien lain yang katanya juga reaktif. Selanjutnya diopname selama 3 hari di ruang isolasi yang satu kamar untuk satu pasien. Kalau berpikiran macam-macam beragam asumsi saat berada di ruang isolasi sementara berseliweran dalam benak sang putra karena reaktif belum tentu covid.
Inna lillahi wa Inna ilayhi rajiun Mas Thoifur meninggal dunia pada malam tanggal 5 Januari 2021. Dimakamkan secara protokol covid pada jam 1 malam (tanggal 6 Januari).
Paginya orang-orang sama takziah ke rumah Yah Dur, termasuk saya. Saat itu hasil swab belum keluar.
Pada 7 harinya, saya ke rumah Yah Dur lagi. Saat saya baru parkir mobil, putranya baru pulang dari aparat desa dengan dikabari katanya bapaknya positif dari hasil swab.
Karena keponakan saya bilang bahwa Dinkes mau ke rumahnya, maka agar tidak panjang urusan, saya pamit pulang. Ternyata setelah saya sampai Jombang, yang terjadi adalah sang ponakan ditelpon puskemas dengan bertanya riwayat sakit Mas Thoifur. Pihak puskesmas menyarankan untuk isolasi 14 di rumah. Sampai selesai isolasi tidak ada swab untuk mbakyu dan keponakan hingga saat ini.
Alhamdulillah Yah Dur dan anaknya serta keluarga kami sehat semua, termasuk Emak (88 tahun) yang ikut takziah juga sehat. Pun demikian kakak saya Kiai Shodiq dan istrinya yang tiap malam ikut tidur di rumah Mbakyu sampai tujuh harinya juga sehat. Ketika Mas Thofur di Tuko, saat mau ke kamar mandi berusaha jalan sendiri. Namun saat mau keluar kamar mandi gak kuat jalan, akhirnya yang gendong adalah Kiai Shodiq juga. Semoga kita semua terhindar dari seluruh balak dan bencana. Sehat wal afiyat.
Berhati-hati dalam segala hal adalah pesan para mbah kita. Tentu kehati-hatian itu sesuai pengetahuan dan kemampuan kita.
Sumber : Status Facebook Ainur Rofiq Al Amin
Wednesday, January 27, 2021 - 17:15
Kategori Rubrik: