Mas Gub Mati Gaya, Kehilangan Kata-Kata

ilustrasi

Oleh : Agung Wibawanto

Tumben-tumbennya seorang Anies bisa kehilangan kata-kata hingga mengaku shock. Biasanya stok narasi dianggap cukup selalu ia sediakan di sakunya. Sehingga dengan mudah menjawab semua pertanyaan wartawan, bahkan membuat wartawan terbengong kagum atau bingung, gak jelas.

Tapi kali ini Anies tidak bisa memberi penjelasan banyak kepada wartawan saat ia bercerita mendapat laporan bahwa selama ini Pemda DKI Jakarta tidak memiliki alat ukur curah hujan, "Awal tahun ini, ketika saya mendengar bahwa kita ini tidak punya alat ukur (curah hujan). Itu saya betul-betul shock (terkejut)," kata Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Pengakuan Anies ia mengetahui itu di awal tahun, apakah sampai sekarang sudah menyediakan alat ukur tersebut? Ah iya, bukankah mas Gub sudah gerak cepat menguras APBD buat membeli TOA sebagai alat ukur curah hujan. Fungsinya untuk memberitahu warga agar waspada jika curah hujan tinggi dan berpotensi banjir. Iya to?

Sungguh cerdas dan cepatnya mas Gub berpikir dan bertindak. Pertanyaannya, kenapa sekarang masih bingung? Butuh dana lagi? Belanja lagi? Lha, nasib TOA yang sudah kebeli gimana? Bener gak TOA memang sudah kebeli, kenapa sih gak pernah ada transparansi belanjanya? Tuh, warga awam pada nanya seperti itu.

Kalian saja yang tidak paham, wahai warga Jakarta. Mas Gub itu lebih memilih silent work, bekerja dalam senyap. Masih ingatkan track record nya? Lihat lagi. Diam-diam RAPBD dimark-up, diam-diam atap JPO terbang, diam-diam pohon di Monas tumbang, diam-diam banjir aja.

 

Diam-diam mengumpulkan warga dalam antrean panjang di halte TJ di tengah pandemi. Dan masih banyak lagi kerja senyapnya yang diam-diam. Semuanya dapat dijelaskan dengan ciamik penuh narasi berbuih-buih. Ada aja alesane. Maka jangan diragukan mas Gub dalam menata kata dan membangun mimpi.

Kembali ke laptop. PR besar mengatasi banjir Jakarta yang digembar-gemborkan di awal tahun masih belum teratasi. Teori air sunatulloh masuk ke bumi tinggal teori. Tidak percaya air ke laut, maka pinggir pantai Ancol pun diurug dengan kerukan lumpur dari sungai. Tapi pahami dong, PR nya mas Gub tidak hanya ngurus banjir.

Soal pandemi yang kini sedang menigkat signifikan kasus positif warganya juga pasti bikin pusing tujuh keliling. Ada atau tidak ada wakil gubernur juga ternyata gak pengaruh banyak, gak membantu. Jadi bisa dipahami kan betapa stress nya ngurus Jakarta. Sampai yang biasa jago berkata-kata akhirnya speechless.

Tanggungjawab itu memang berat terutama untuk 10 jt penduduk warga Jakarta. Jadi kepikir kan betapa lebih kompleks lagi ngurusi negara dan bangsa yang berpenduduk 267 jt jiwa ini. Gak mudah lho jadi presiden, coba deh dipikir-pikir lagi, gak bakal kuat . Eh, apalagi nih ngurusi seluruh penduduk dunia ya? Berat banget kan jadi Sekjen PBB? (Awib)

Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto

Tuesday, August 11, 2020 - 10:45
Kategori Rubrik: