Mas Anise, Apa yang Kau Cari?

Oleh: De Fatah
 

Mas Anise mengatakan, majunya dia sebagai calon gubernur DKI bukan atas keinginan dia, tetapi atas keinginan Prabowo Subianto dan PKS. Dengan kata lain, Mas Anise mau bilang bahwa sebetulnya ia bukan orang yang haus kekuasaan, ia sebenarnya tak punya ambisi menjadi gubernur DKI Jakarta, tetapi karena diminta oleh Gerindra dan PKS, maka ia terima. Padahal banyak calon dari PKS yang menangis akan keputusan ini

Saat menjadi juru kampanye Jokowi, Anise beberapa kali mengecam langkah politik Prabowo. Salah satu kritik keras Anise "Kita tahu siapa Prabowo karena sudah beriklan selama 6 tahun di televisi. Cara berpolitik dengan biaya luar biasa mahal, tidak membuat politik menjadi lebih sehat,".

 

Bahkan di dalam suatu kesempatan Pilpres 2014, Anise juga pernah mengingatkan rakyat Indonesia bahwa kubu Prabowo-Hatta diduga diusung oleh sejumlah partai politik yang dibekingi oleh mafia, seperti mafia migas (Petral), impor daging sapi (PKS), haji, pengadaan Alquran (PPP), dan lumpur Lapindo (Golkar).

Ada isu yang mengatakan bahwa Jokowi mencopot Anise karena dia mengendus ternyata Anise memanfaatkan jabatannya itu untuk menggalang kekuatan untuk Pilpres 2019. Apakah benar begitu? Hanya Anise dan Tuhan yang tahu. 
 Ada juga analisis yang mengatakan Anise dicopot dikarenakan tekanan politik, ini pun lemah, karena kekuatan politik manakah yang bisa menekan Jokowi, sedangkan keinginan PDIP agar menunjuk Budi Gunawan menjadi Kapolri saja ditolak Jokowi

Mas Anise sepertinya kecewa berat karena dicopot dari jabatannya. Seketika itu pulalah sikapnya berubah, jika pendukung Jokowi memiliki pakem "Jika ingin mencari kebenaran maka berdirilah dimana lawan PKS berada", maka Mas Anise sepertinya memilih berdiri disana. Iming-iming kekuasaan sudah membutakannya dari yang semula penentang dan pengkritik keras Prabowo, sekarang Mas Anise menjadi “anak buah” Prabowo, Konco si Zonk, dan "kader baru" Partai Gerindra

Genderang ludruk nya mulai ditabuh,..alih alih bukannya merangkul pemilih yang sedang mengambang karena kasus penistaan agama tapi mas anise malah ikut ikutan merobek-robek kain kebangsaan kita, bukannya mas anise ikut menyatukan umat yang terpecah pecah malah sebaliknya Mas Anise ikut menari di Genderang tersebut, butanya hati membuat Mas Anise tidak dapat melihat kesempatan emas untuk menyatukan mereka yang berserakan untuk tujuan yang lebih besar lagi

Dimana Mas Anise yang dulu ikut jihad menjaga tenun kebangsaan Indonesia tetapi sekarang Mas Anise bisu, buta dan tuli disaat ormas FPI merobek tenun kebangsaan kita, bahkan Mas Anise ikut menjadi cheerleader ormas tersebut hanya karena untuk Pilkada DKI,..OKOCOK Mas Anise,..Persatuan Indonesia lebih penting dari sekedar Gubernur DKI yang hanya 5 tahunan

Dimana Mas Anise sewaktu Prabowo mengeluarkan pernyataan “Siapa yang tidak mendukung Sandiaga Uno adalah antek asing!”. Demokrasi macam apa ini mas Anise ? Mengapa Mas Anise diam ?, tapi sebaliknya jika Mas Anise mengkritisi kebijakan Basuki Tjahaya Purnama mas Anise sungguh Jagonya Ayam dengan pilihan kosa kata yang santun tapi mengiris ulu hati, walaupun isinya telek belaka

Mas Anise sudah berlayar bertransformasi menjadi politikus pragmatis dan oportunis ? Sayangnya Mas Anise memilih Politikus minim karakter, Mas Anise sedang mabuk Pilkada rasa Pilpres, "karena rasa itu tidak pernah dia cicipi sewaktu pilpres 2014" ujar De Fatah
Selamat bergabung Mas Anise kedalam Genk 7 dosa Sosial Mahatma Gandhi

NB: Nama Mas Anise dalam tulisan ini bukan Tokoh Anies Baswedan si Beghawan Indonesia yang dulu.

 

(Sumber: Status Facebook De Fatah)

Saturday, January 28, 2017 - 15:00
Kategori Rubrik: