Ma'ruf Amin Senang, Mahfud MD Sedih?

Oleh : Harun Iskandar

O . . . ALAAAH ! KIAI MAKRUF AMIN !
(Suara Bêngêngêng Tawon )

Tidak seperti diduga banyak orang, Mr. M ternyata Kiai Haji Ma'ruf Amin ! Di benak banyak orang, lawan atau kawan politik Jokowi, menduga 'beliau-nya' adalah pak Mahfud MD ! 

Respon dan komen pun kontan muncul seperti suara lebah yg 'digusah' dari sarangnya. Berisik dengan frekwensi rendah. Bikin pusing karena mampu nyelip2 lekuk lubang telinga.

Pendukung Jokowi tidak sedikit yang kecewa. Namun lawan politik pun jadi mati langkah. Permainan SARA lewat Ijtima' Ulama, PKI, mendzalimi ulama, di 'pithês' dengan cerdas.

Kiai Ma'ruf sendiri saya pikir bukannya bangga. Orang sesepuh dia pasti tidak silau lagi urusan jabatan.

Yang diredam justru 'mungkin' ego-nya, harga dirinya. Apakah pantas ? Beliau tahu Jokowi memilihnya hanya karena 'predikat' Ulama yg disandangnya. Tidak lebih ! Tak ada lagi yang perlu disumbangkan pemikiran pada Pria cerdik dan cerdas yang selama ini dikenal begitu menghormatinya.

Namun naluri kebangsaannya sebagai sesepuh kaum Nahdiyin, meredupkan nyalang egonya.

Beliau memang manusia biasa meski berpredikat ulama. Tapi harap diingat beliau adalah cucu Syech Nawawi al-Bantani. Ulama besar Imam Besar Masjidil Haram. Guru 'ngaji' mBah Hasyim Asy'ari dan mBah Ahmad Dahlan. Nalarnya pasti dibalut 'naluri' keulamaannya.

Saat ini justru mungkin Kiai Ma'ruf ketawa sendiri. Membayangkan dirinya pakai pakaian resmi. Sorbannya mau disampirkan dimana ? 

Lalu Mahfud MD bagaimana ? Kecewa ? Mungkin. Tapi mantan aktivis HMI (Himpunan Mahasiswa Indonesia) bak pendekar. Samurai yang terus berjuang sampai ujung dayanya. Keadilan pegangannya.

Meski di sebut bukan 'anak kandung' NU, kedekatannya dengan Gus Dur pasti akan mempengaruhinya.

Diotak-atik rasanya sendiri dan ujungnya, 'gitu saja kok repot !'. Ini penting biar tak ada celah untuk masuk anasir adu domba.

Lagipula ada posisi lain yang lebih cocok utk menyalurkan instink 'kependekarannya'. Jaksa Agung, Menteri Hukum dan HAM, atau KPK. Semoga . . . .

Lha pak Basuki Tjahaja Purnama yg dulu bisa dikatakan 'korban' Kiai Ma'ruf lewat fatwa MUI-nya ?

Ah . . . Orang ini telah menjadi 'begawan' setelah dipaksa menyepi dalam sel-nya. Jika ditanya apa tanggapannya, jangan harap ada jawaban zakelijk, terus terang.

Paling 'Nurut lu bagaimana ?' Kita yang tak terbiasa menakar isi hati pasti tak menemukan jawaban apa2. Tapi nanti coba lihat gestur tubuh, tatapan mata, sunggingan senyumnya. Tampak jelas kepercayaannya pada 'Sahabat' tak pernah luntur. Persis seperti jiwa dan rasa Kebangsaan dan Keimanan pada Tuhannya. Tak pernah pudar . . . 

Jika ada yg nanya pada saya, 'Sampeyan sendiri bagaimana ?'

Ah ! Wong saya ini cuma seperti orang mbarang, ngamen, kemana-mana menjajakan apa saja yg saya punya. Ndak pantas untuk menilai Ulama atau Umara.

Saya cuma melihat ada 'kebaikan' dari pria tinggi kurus asal Solo ini. Ndak tahu melihat pakai mata 'wadag' atau matahati.

Lagipula saya merasa masih bau2 Wong NU. Jadi seperti biasa 'Sami'na wa Atho'na'. Saya mendengar dan saya nurut.

Taqliq dong ?
Apa 'dingklik' ?. Oh ya saya perlu itu ! Kalau capek mbarang, istirahat di bawah pohon asem. Untuk duduk. Dingklik kan ? 

Pulogebang Permai, Jakarta Timur
Jum'at Pahing, 10 Agustus 2018.

 

Sumber : facebook Harun Iskandar

Friday, August 10, 2018 - 11:30
Kategori Rubrik: