Mari Tenggelamkan Partai Yang Dukung Perda Syariah

Ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Dalam tiga jam sesudah tulisan saya kemarin tayang, SEKIAN pesan japri masuk dan buzzing kayak petasan. Selama seminggu, kata japri-japri tersebut, banyak petinggi partai kirim WA ke Grace Natalie, mencela pidatonya soal anti perda syariah dalam Festival Harijadi PSI.

Semprul!

Indonesia macam apa yang ada dalam otak mereka? Salah satu pengirim WA bahkan dari partai pemenang Pemilu, kata japri itu. Asu!

Demi alasan elektoral, partai-partai rela memoles wajah dengan gincu meski hasil akhirnya mengasingkan mereka. Bagaimana mungkin sebuah negara non-agama menjadikan kitab suci tertentu jadi landasan hukum? Hentikan lamunan tolol membayangkan agama bisa tidur bareng politik. Sebagaimana sudah diucap ratusan kali banyak tokoh, spiritualitas agama-agama menerangi setiap insan dalam berpolitik.

Karenanya, sila bina-ternak-latih ummatmu dengan banyak ajaran di masjid, gereja, vihara, kuil, klenteng, dan macam-macam, agar mereka hadir tangguh sebagai insan berbelarasa, diluapi cinta, berkepalakan keadilan—dan segala yang luhur—sehingga mengekspresikan semua kebaikan itu dalam ucap dan tindakan politik.

Saya punya beberapa teman. Saban kirim email atau WA panjang, selalu terselip ayat Alkitab sebagai pendukung nasehat. Sekali-dua saya tanggapi. Lama-lama bikin senep hati. Saya arahkan surat-surat mereka langsung ke trash. Dan sial-seribu-sial. Di surat ke sekian salah seorang dari mereka berkabar tentang kematian mantan pacar saya. Tentu saja secara otomatis masuk kotak sampah. Saya baru tahu 3 tahun kemudian ketika diundang hadir dalam acara 1000 harian. Ayat alkitab bikin gara-gara.

Tapi juga jangan salah duga. Saya baca Alkitab. Tiap hari. Tidak pernah alpa. Ada pola pembacaan dalam setahun. Teks lalu bersilang dengan peristiwa sehari-hari, dengan bacaan sastra, dengan film, dengan fisika, dengan banyak lagi. Darinya hadir permenungan, kadang komedi saru…, serius, kadang kekuatan baru yang menyelusup ke sumsum dan urat nadi. Saya menjadi dewasa dan matang oleh itu semua.

Tapi gak pernah ayat-ayat tersebut saya gunakan untuk mengukur orang lain, atau memantaskan sebuah keadaan, atau menjadi landasan dalam mengambil keputusan. Kalau ditanya, saya bahkan sudah tak hapal satu pun. Mereka menyatu di dalam gerak, ucap, pikiran, dan penghayatan hidup yang membentuk akal-budi.

Akhirnya, saya mencintai Sahira, misalnya, karena pertimbangan akal-budi, bukan karena Hukum Kasih. Alkitab, Injil, Yesus, sudah tidak berbekas dalam diri saya. Itu tak bakal keluar dari mulut ketika berbincang dengan Anda. Tapi kalau Anda mengajak saya membincangnya secara khusus dan serius, saya siap.

Karena itu, saya tak pernah berucap GBU, Halleluyah, Puji Tuhan, JLU, dan semua yang serba rutin itu. Buat saya, GBU malah berarti God Butuh Uang. Kurang ajar? Memang. Tersinggung? Itulah saya. Kebaruan negeri ini harus diinisiasi oleh mereka yang mencintai Tuhan sehingga kemudian sanggup membunuhNya.

Karena itu, ketika Grace Natalie dihabisi para begundal, kita perlu berdiri di sebelah ibu itu.

Saya bukan orang PSI, kenal secara pribadi dengan salah satu dari mereka pun tidak. Kebanyakan kawan-kawan istri saya. Tapi dada siapa tak bergetar oleh pidato Grace?

Jangan gentar, PSI, jangan cundangi dirimu. Tetaplah berteriak, tetaplah bertekad. Sementara ini, jangan tinggalkan koalisi Indonesia Kerja. Jalani dan tuntaskan hingga Jokowi secara resmi ditetapkan sebagai Presiden Indonesia masa bakti 2019-2024. Sedetik setelah itu terjadi, tinggalkan KIK. Pusatkan perhatianmu berkiprah di gedung parlemen. Abaikan tawaran 1-2 kursi menteri. Tugas kalian belum di situ.

Tata ulang Indonesia melalui legislasi dan budgeting. Bangun ulang negeri para Garuda ini.

Kepada kalian semua para pembaca: pastikan dirimu berteriak bagi PSI di pileg 2019. Periksa daftar caleg di tempat kalian. Simak beberapa nama dari PSI. Datangi, tawarkan diri membantu mereka.

Kita pastikan partai-partai pengirim WA tak punya tempat lagi di Senayan. Sudah terlalu lama mereka rampok Indonesia.

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Wednesday, November 21, 2018 - 12:00
Kategori Rubrik: