Mari Pahami Proses Radikalisasi

ilustrasi

Oleh : Alto Luger

Apa itu radikalisasi? Ada banyak defenisi tentang radikalisasi, termasuk yang ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Di KBBI tertulis bahwa radikalisasi adalah proses menjadi radikal. Sedangkan radikalisme sendiri diartikan sebagai (1) paham atau aliran yang radikal dalam politik; (2) paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis; (3) sikap ekstrem dalam aliran politik.

Dalam konteks ini, tentu radikalisasi terdengar 'tidak terlalu berbahaya', dan dengan memakai konteks ini pula maka ada organisasi massa maupun tokoh-tokoh yang tidak mempersoalkan radikalisasi. Akan tetapi, dalam konteks Violent Extremism (VE) maka makna dari radikalisasi itu menjadi berbeda.

Radikalisasi dalam konteks VE mengacu kepada peningkatan komitmen sosial dan psikologis seseorang terhadap ideologi politik atau agama yang ekstrim.

Bagaimana dengan VE alias kekerasan berbasis ekstrimisme? VE bisa dikategorikan sebagai aktivitas yang secara langsung maupun tidak langsung mendukung kekerasan yang dimotivasi atau dibenarkan secara ideologis untuk meraih tujuan sosial, ekonomi dan politik.

Dalam konteks ini, radikalisme menjadi penting karena secara gradual menumbuhkan kecintaan seseorang terhadap kekerasan yang dibenarkan oleh ideologi, baik politik maupun agama, demi tujuan meraih kekuasaan secara sosial, ekonomi maupun politik.

Nah, kenapa sampai seseorang itu bisa menjadi radikal? Yang pertama yang akan dialami seseorang adalah adanya kebutuhan. Yang laing utama adalah orang tersebut ingin menjadi seseorang yang dihargai oleh orang lain. Salah satu faktor lainnya adalah rasa tidak mendapat tempat atau alienasi di masyarakat. Ini adalah orang-orang yang kehilangan 'moral compass'. Ini bisa terjadi pada orang-orang dengan berbagai latar belakang sosial maupun ekonomi yang bermacam-macam.

Yang kedua adalah adanya narasi-narasi yang membenarkan alienasi yang terjadi pada dirinya, khususnya narasi-narasi yang berbasis ideologi (agama). Bukan hanya narasi-narasi yang menyalahkan orang lain terhadap kehilangan 'moral compass' yang sedang dialami seseorang tersebut, tapi juga narasi-narasi yang membenarkan tindakan kekerasan terhadap pihak-pihak yang dirasa mengakibatkan proses alienasi tersebut.

Setelah kebutuhan dan narasi itu ada maka yang terakhir adalah jaringan. Saat seseorang sudah secara gradual membenarkan bahwa dia tidak mendapat tempat di masyarakat dan mendukung narasi-narasi yang dimotivasi secara ideologi untuk menyalahkan bahkan melakukan kekerasan terhadap orang lain, maka dia akan mencari orang-orang yang punya pemahaman yang sama dengan dia.

Yang terakhir adalah adanya 'enabling environment' alias kondisi yang memungkinkan bagi jaringan tersebut untuk tetap ada dan berkembang. Enabling Environment ini tidak harus bersentuhan langsung dengan jaringan-jaringan di atas, akan tetapi enabling environment mengirimkan signal bahwa jaringan ini aman untuk tetap eksis.

Jadi, proses de-radikalisasi itu harus mentargetkan 4 unsur di atas. Yang pertama tentunya harus menghilangkan 'enabling environment' tersebut. Kemudian baru membatasi bahkan menghancurkan jaringan-jaringan yang berfungsi sebagai wadah berkumpulnya orang-orang yang kehilangan moral compas dan secara gradual memilih jalan kekerasan yang menurut dia dibenarkan oleh ideologi yang dia anut.

Dalam konteks Indonesia, menghilangkan 'enabling environment' itu adalah tugas yang sangat berat dari Presiden Joko Widodo karena mungkin saja orang-orang di sekeliling dia pun ada yang turut menciptakan enabling environment tersebut.

So if you're not part of the solution, then you're part of the problem, or even worse, you are the problem.

#IndonesiaTanahAirBeta

Sumber : Status Facebook Alto Luger

Saturday, August 3, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: