Mari Kita Ajari Menkominfo Minta Maaf Secara Baik dan Benar

ilustrasi

Oleh : Rudi S Kamri

Setelah membuat malu secara personal artis TARA BASRO yang dikatakan melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) karena postingan edukatif tentang bagaimana melawan 'body shaming' dan mencintai tubuh di akun media sosialnya, akhirnya Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Johnny G Plate meralat tuduhan dari anak buahnya. Itupun setelah mendapat kecaman keras dan memalukan dari warganet di dalam dan luar negeri.

Namun kalau kita menyimak ralat yang disampaikan oleh Menkominfo pada Kamis (5/3/2020) tersebut hanya sekedar klarifikasi normatif atas keputusan gegabah anak buahnya. Dia mengatakan bahwa foto tubuh Tara Basro di Twitter tidak melanggar UU ITE dan ia meminta agar pornografi dibedakan dari seni. TANPA ada permintaan maaf secara langsung kepada Tara Basro.

"Harus dilihat baik-baik. Evaluasinya adalah itu bagian dari seni atau bukan. Kalau bagian dari seni, maka itu hal yang biasa. Namanya juga seni," kata Plate di lingkungan istana kepresidenan Jakarta.

Berkaitan dengan kasus penghakiman tanpa dasar atas postingan Tara Basro dan klasifikasi dari Menkominfo, ada tiga hal yang saya soroti:

PERTAMA, Johhny G Plate tidak tahu adab dan etika untuk meminta maaf secara baik dan benar. Seharusnya bukan sekedar klarifikasi normatif tapi dia juga harus meminta maaf secara terbuka kepada Tara Basro bahwa apa yang dilakukan anak buahnya adalah suatu kesalahan yang memalukan. Plate harus sadar bahwa akibat yang ditimbulkan dengan tuduhan ngawur itu secara psikologis telah merugikan citra diri seorang Tara Basro yang berniat baik untuk memberi motivasi dan edukasi kepada sesama perempuan.

KEDUA, penjelasan Plate tidak nyambung. Dia membahas masalah seni atau pornografi, padahal postingan Tara Basro sama sekali tidak berkaitan dengan 'artistic appearance' atau sejenisnya. Di sisi ini saya memastikan Plate belum menguasai medan media sosial. Dia juga belum membaca secara detail postingan Tara Basro, sehingga dia asal 'mangap' dengan narasi sekedarnya. Jadi tidak salah kalau orang punya kesimpulan Menkominfo tidak bisa membedakan mana postingan motivasi edukatif dan mana postingan seni.

KETIGA, Menkominfo Johnny G Plate terbukti belum mampu menguasai dan merubah mindset anak buahnya di Kemenkominfo yang masih ada sisa-sisa lasykar Kadruniyah peninggalan PKS. Harus kita akui zaman Kominfo dikuasai oleh rezim Tifatul Sembiring mazhab PKS telah mengakar kuat dan sulit dihapuskan jejaknya oleh pengganti Tifatul Sembiring. Sehingga mindset sebagian orang Kemenkominfo dalam melihat postingan warganet hanya sebatas persepsi visual yang dangkal dan tidak mau membaca arah dan tujuan dari narasi yang dibangun oleh sebuah postingan di media sosial.

Hal seperti ini adalah konsekuensi logis apabila suatu urusan diserahkan pada orang yang bukan ahlinya. Yang terjadi banyak blunder dan menghabiskan energi bangsa yang tidak perlu. Seharusnya urusan teknis yang berkaitan dengan teknologi komunikasi dan informatika diserahkan pada ahlinya khususnya generasi milenial yang familiar dan punya kapabilitas dan passion di bidang itu.

Kalau orang yang passion-nya lebih pada urusan transaksi minyak bumi dan sejenisnya kemudian dipaksakan ngurus teknologi komunikasi dan informatisi ya begini jadinya......kita bisa apa ?

Dari Tara Basro kita belajar berpikir bahwa merawat tubuh itu memang penting, tapi lebih penting dari itu adalah merawat nalar, logika dan rasa syukur atas karunia Tuhan kepada kita.

Tetap semangat selalu memberikan pencerahan dan motivasi edukatif untuk Indonesian yang lebih baik, Tara. Atas nama Indonesia saya minta maaf karena punya Menkominfo yang tidak pandai untuk meminta maaf dengan baik dan benar !!!

Salam SATU Indonesia

Sumber : Status Facebook Rudi S Kamri

Sunday, March 8, 2020 - 11:45
Kategori Rubrik: