Mardigu dan Celah Lebar Ilmu Sosial

ilustrasi

Oleh : Muhammad Raihan Sujatmoko
 

Mardigu Wowiek Prasantyo atau kerap dipanggil Mardigu, kini menjadi sosok yang banyak dibicarakan di kalangan warganet. Video wawancara dirinya dengan Deddy Corbuzier mendapatkan 4.3 Juta penonton di kanal Youtube mantan pesulap ini. Seperti tahu potensi media darling Mardigu, Deddy kembali mengunggah bagian kedua dari wawancaranya dengan Mardigu dan kali ini penontonnya mencapai 3.1 Juta orang. Sebuah angka yang fantastis untuk sebuah wawancara dengan seorang figur yang bukan selebritis maupun influencer muda.

Dalam kedua video wawancaranya Bersama Deddy Corbuzier, Mardigu banyak memberikan pandangannya terhadap politik di Indonesia, sebuah bidang yang jauh dari profesinya sebagai pebisnis. Dia banyak mengomentari tentang bagaimana “orang brengsek” harus mengambil alih pemerintahan dan mulai mengabaikan perjanjian-perjanjian internasional yang telah diratifikasi dan ditandatangani oleh Indonesia dengan alasan kalau negara-negara seperti Tiongkok dan AS tidak patuh juga ke dalam perjanjian internasional tersebut. Lebih lanjut lagi ia mengatakan ada banyak konspirasi di balik pandemi Covid-19 atau virus Corona yang melanda dunia saat ini. Ia banyak menyebut berbagai istilah-istilah yang lekat dengan dunia konspirasi seperti elit global, illuminati hingga konspirasi perusahaan farmasi dalam menjelaskan pandemi.

Pemikiran Mardigu ini tidak lepas dari kritik. Hafizh Mulia, Editor-in-Chief Kontekstual, sebuah media alternatif yang berfokus pada isu politik luar negeri berpendapat, argumen Mardigu yang mengharapkan Indonesia untuk tidak mematuhi UNCLOS, perjanjian internasional yang mengatur hukum kelautan antar negara. Hafizh berpendapat kalau Mardigu tidak paham UNCLOS sehingga dapat berpendapat kalau tidak apa-apa bagi Indonesia untuk memasang tarif untuk setiap kapal asing yang ingin masuk ke selat-selat di Indonesia terutama Selat Malaka karena posisi strategis selat tersebut tersebut dapat menjadi daya tawar Indonesia terhadap Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.

Menurut Hafizh, hal yang tidak dipahami Mardigu adalah rumitnya situasi geopolitik Selat Malaka dimana aktor yang terlibat bukan hanya AS dan Tiongkok tapi ada Malaysia, Singapura sebagai pemilik hak atas Selat Malaka selain Indonesia dan itu belum termasuk negara-negara lain yang menggantungkan nasib perdagangan mereka di rute perdagangan yang melewati Selat Malaka. Apakah daya tawar Indonesia sudah sekuat itu untuk membuat AS dan Tiongkok menuruti permintaan Indonesia? Bagaimana dengan kemungkinan memanasnya Laut Tiongkok Selatan jika Indonesia berseteru dengan Malaysia dan Singapura terkait pengelolaan Selat Malaka?

Seperti julukannya, Bossman Sontoloyo, Mardigu teguh dengan pendapat “sontoloyonya” bahwa UNCLOS bukan perjanjian yang patut untuk terus dipatuhi. Baginya jika negara seperti Tiongkok dan AS tidak patuh terhadap perjanjian internasional kenapa Indonesia musti patuh? Mardigu menekankan hanya orang brengsek yang paham dengan cara mengelola negara yang dapat membawa sebuah negara untuk maju. Jika Indonesia tetap dengan pendiriannya untuk menuruti perjanjian internasional, berarti Indonesia setuju untuk dijajah terus oleh bangsa asing. Jika perang tidak bisa dihindari dari tindakan Indonesia ini, maka terjadilah. Indonesia harus meninggalkan adagium politik bebas-aktifnya dan mulai berpihak ke salah satu blok.

Melihat perang wacana yang ditabuh genderangnya oleh Mardigu terhadap pemahaman geopolitik yang berbeda dengan pemahaman geopolitik konvensional Indonesia. Perbedaan sudut pandang antara Mardigu dan Hafizh adalah hal yang tidak bisa dihindarkan. Akan tetapi, ada hal yang perlu dipikirkan lebih lanjut dari sekadar mendebat Mardigu. Ada beberapa hal yang masih membingungkan disini: Siapa Mardigu? Bukankah ia hanya sekadar pebisnis dan seorang youtuber yang pembahasan videonya melenceng dari kepakarannya? Mengapa “ocehan” Mardigu dapat 3 juta penonton di Youtube?

Mardigu, Intelijen & Populisme

Membahas Mardigu tentunya kita juga musti adil dalam melihat sosoknya. Mencari sosok Mardigu dari orang atau badan yang sudah anti dengan sang bossman tentunya bukan ide yang bagus. Ada banyak dimensi menarik dari sosok Mardigu yang mungkin direduksi menjadi sekadar youtuber teori konspirasi yang mengaku pengusaha kaya tetapi masih menyelenggarakan pelatihan berbayar. Apa yang membedakan dia dengan JRX atau figur pendukung teori konspirasi lain?

Salah satu kekuatan Mardigu adalah persona yang ia tampilkan ke publik. Berbeda dengan JRX yang terkesan slengean dan anti-otoritas, Mardigu mencitrakan dirinya sebagai pebisnis intelek yang mendasari omongannya dengan data. Dalam wawancaranya dengan Deddy, ia terlihat banyak menyodorkan data berupa buku dan pengetahuan umum. Iapun banyak menggunakan istilah-istilah akademis bak ilmuan sosial seperti oligarki dan plutokrasi untuk melegitimasi pandangannya. Pembawaannya tenang dan terlihat tahu apa yang akan dia akan ucapkan untuk menjawab pertanyaan yang datang kepadanya. Lebih penting lagi, Ia dapat memainkan emosi pendengarnya lewat narasi-narasi yang ia bawakan.

Sudah bukan rahasia lagi kalau Indonesia sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Berita mengenai kasus korupsi, ketidakadilan hukum, hingga penanganan terhadap pandemi Corona menjadi perhatian masyarakat umum. Ketidaksiapan Pemerintah Jokowi dalam menanggulangi dampak penyebaran virus Corona menuai banyak kritik. Terlebih, perpecahan antar masyarakat warisan Pemilu 2014 yang belum juga selesai juga memprovokasi ketidakpuasan masyarakat atas kinerja Pemerintahan Jokowi. Masyarakat butuh alas an atau solusi yang dapat memberi mereka harapan baru. Disinilah Mardigu berperan untuk membawa narasi-narasi yang popular di mata masyarakat atau dengan kata lain, populis.

Muller (2016) secara mudah mendefinisikan populisme sebagai sebuah imajinasi politik yang memiliki sikap moral tertentu. Moral populisme sangat fluid alias bisa ditemukan di ideologi manapun dengan mengatasnamakan kehendak rakyat. Paham ini banyak digunakan para politisi untuk menyatukan rakyat dibawah kepercayaan atau ideologi tertentu melawan kelompok minoritas atau elit. Banyak ilmuan politik memandang populisme sebagai pedang bermata dua. Di satu sisi ia bisa menjadi satu-satunya pemersatu masyarakat dalam melawan pemerintahan yang otoriter namun di sisi lain, populisme juga bisa digunakan untuk mempermainkan sentiment anti-golongan yang membuat satu masyarakat bersatu untuk menindas golongan tertentu. Lantas, apa kaitan Mardigu dengan paham ini?

Mardigu selalu memposisikan rakyat sebagai pihak yang selalu dirugikan oleh keputusan pemerintah yang menurutnya terlalu patuh dengan institusi internasional. Ia menjelaskan bagaimana meruginya Indonesia jika tetap patuh terhadap UNCLOS. Di videonya yang lain, ia juga menyoroti sistem ekonomi yang diajarkan di universitas tidak bisa menggambarkan realita yang ada sekarang. Ia memposisikan Indonesia sebagai negara yang dikepung berbagai kepentingan yang tidak menguntungkan kepentingan nasional, bahkan landasan ilmu yang dipelajari di sekolah pun menurutnya hanya untuk melanggengkan dominasi negara adidaya.

Terlepas dari benar-tidaknya klaim Mardigu, ada satu kata sakti yang membuat klaim-klaim Mardigu banyak dipercaya banyak orang: intelijen. Beberapa kali ia menekankan kata intelijen sebagai landasan dari analisisnya mengenai geopolitik, politik Indonesia, hingga kontra-terorisme, sebuah bidang yang ia klaim pernah berkecimpung disitu. Dunia intelijen adalah dunia dengan akses yang terbatas, dimana hanya orang-orang tertentu yang punya aksesnya. Sayangnya, terkadang kata ini seringkali digunakan untuk menyulap kebohongan menjadi sebuah kebenaran yang terpercaya.

Prunckun (2010) dalam bukunya, Scientific Methods of Inquiry for Intelligence Analysis menjelaskan bagaimana unsur kerahasiaan menjadi pembeda utama antara analisis intelijen dengan analisis ilmu sosial lainnya. Dalam analisis intelijen, asas kerahasiaan sangat penting mengingat tujuan utama dari intelijen bukan temuan atau bukti melainkan kesuksesan misi. Dalam konteks intelijen negara, kepentingan negara adalah nomor satu. Seorang intel adalah seorang yang paham data mana yang harus disampaikan ke publik dan data mana yang harus disimpan sebagai rahasia misi. Jadi, jikapun Mardigu adalah seorang intel yang sedang membagikan informasi mengenai dunia intelijen, klaimnya belum tentu benar karena bisa jadi kemunculannya di Podcast Deddy Corbuzier adalah bagian dari misi.

Mardigu dan Celah Ilmu Sosial

Fenomena kemunculan Mardigu, bisa dilihat sebagai tren matinya kepakaran. Tom Nicholls dalam The Death of Expertise (2016) mengatakan, salah satu faktor yang berkontribusi terhadap ketidakpercayaan publik terhadap pakar adalah menjamurnya media anti-kepakaran dan anti-intelektual yang didukung oleh keberadaan internet. Di satu sisi, kemajuan internet membat akses terhadap ilmu pengetahuan menjadi luas tetapi di sisi lain, suara-suara anti-kepakaran dan anti-intelektual juga diakomodasi oleh internet. Dalam kasus Mardigu, serangan bahkan tidak ditujukan kepada pakarnya tetapi pada ilmu pengetahuannya itu sendiri. Dengan mengatakan kalau ilmu ekonomi yang dipelajari mahasiswa-mahasiswi jurusan ekonomi sekarang sebagai ilmu kampus yang tidak relevan di dunia nyata tanpa metodologi yang kokoh, Mardigu tidak hanya membunuh kepakaran, tetapi ia juga telah mendekonstruksi definisi kepakaran itu sendiri.

Melihat semakin mudahnya kepakaran dibunuh, lalu dimana tanggung jawab ilmuan? Bukankah penelitian mereka didukung oleh metodologi yang kokoh? Mengapa kepakaran mereka dapat begitu mudah dikalahkan oleh klaim yang metodologinya lebih lemah? Saya melihat ada dua masalah disini.

Pertama, ketidakpuasan masyarakat dengan penjelasan yang ada. Dalam The Psychology of Conspiracy Theories (2017), Douglas dkk menjelaskan bahwa setiap manusia membutuhkan rasa aman dan control atas lingkungannya. Teori konspirasi secara jelas menjabarkan aktor-aktor dibalik sebuah peristiwa sehingga menimbulkan rasa aman di kalangan penganutnya karena mereka sudah tahu kepada siapa jari mereka akan menunjuk. Hal ini juga sangat menolong bagi kelompok yang selalu merasa jadi korban ketidakadilan dunia. Mereka dapat menyalahkan kelompok lain atas ketidakberdayaan mereka menghadapi masalah yang menimpa mereka sekaligus menjaga citra positif kelompok mereka.

Kedua, metodologi ilmiah, khususnya ilmu sosial meninggalkan celah yang dapat diisi oleh teori konspirasi. Ilmu sosial memiliki metodologi yang jelas mengatur bagaimana penelitian sosial dilakukan. Ada tahapan yang harus dilakukan seorang peneliti untuk mendapatkan sebuah kesimpulan yang ilmiah. Jika ada satu komponen yang tidak terpenuhi, pengambilan kesimpulan tidak bisa dilakukan. Memaksakan kesimpulan hanya akan membuat nilai kebenaran sebuah penelitian menjadi berkurang.

Adapun pengambilan data dari penelitian ilmiah tidak bisa dilakukan sembarangan. Ada etika yang harus dipatuhi ilmuan sosial dalam penelitiannya seperti tidak memaksa narasumber untuk bicara jika narasumber memang tidak mau bicara dan tidak berbohong hanya untuk mencapai kesimpulan tertentu. Alhasil, mungkin kesimpulan penelitian yang dihasilkan lebih lama dibanding kesimpulan hasil cocoklogi atau sekadar menyalahkan ilmu yang diajarkan.

Pentingnya Transformasi Ilmuan

Pada dasarnya, masyarakat butuh jawaban atas apa yang terjadi hari ini. Mereka sadar keadaan sedang tidak baik tapi mereka tidak tahu kenapa. Mardigu datang dengan jawaban yang mereka butuhkan untuk membuat mereka merasa lebih aman. Apakah mereka salah percaya dengan Mardigu? Jelas tidak. Klaim Mardigu sangat bisa dipercaya bagi orang biasa yang tidak tahu bagaimana dunia bekerja. Bagaimana kita bisa membuktikan kalau tidak ada elit global yang menguasai dunia? Kalau kita bisa buktikan, berarti keberadaan orang tersebut tidak sekuat itu.

Hal yang bisa dilakukan oleh ilmuan sosial untuk mengadvokasikan ilmu mereka adalah memahami tuntutan masyarakat. Masyarakat butuh keyakinan atas fenomena yang terjadi dalam hidupnya. Tunjukan ke masyarakat kalau sekalipun kenyataan adalah hal yang kompleks, bukan berarti mustahil untuk diteliti. Buat penelitian tandingan untuk melawan konten-konten Mardigu. Jangan takut untuk meneliti hal-hal konspiratif. Jika ilmuan sosial tidak ambil tindakan untuk meneliti hal konspiratif, teori konspirasi akan terus menang di hati masyarakat awam.

Selain itu, ilmuan harus juga lebih proaktif dalam menyampaikan kepakarannya. Ketika masyarakat terbuai dengan wacana-wacana konspiratif, harus ada figur ilmuan yang membantah wacana menyesatkan yang ada di masyarakat. James Randi, salah satu pesulap dan juga pegiat keilmuan Kanada, mengadakan acara TV berkonsep membantah klaim pseudo-sains dan fenomena ghaib. Ia berani memberikan Satu Juta Dollar bagi siapa saja yang bisa membuktikan klaim aktivitas paranormal dan fenomena pseudo-sains. Kenapa konsep acara Randi tidak diadaptasi ke ilmu sosial? Masyarakat akan dididik untuk mencari bukti dari setiap klaim yang mereka temui di media sosial.

Terakhir, penggunaan kata intelijen yang digunakan oleh Mardigu memang seperti kartu truf yang dapat digunakan untuk membenarkan setiap klaimnya. Harus diakui, cara kerja dunia intelijen berbeda dengan ilmu sosial lain. Asas kerahasiaan membuat akses ke pengetahuan intelijen menjadi terbatas. Akan tetapi, bukan berarti setiap berita dengan adanya embel-embel “informasi A1 dari intelijen” maka klaim tersebut otomatis bisa dipercaya. Intelijen pun juga punya dasar keilmuan yang bisa dipelajari. Jika kita ingin mengetahui tentang dunia intelijen, Universitas Pertahanan di Citeureup selalu buka pendaftaran tiap tahun. Universitas Indonesia juga membuka magister Kajian Stratejik dan Intelijen dimana ilmu mengenai dunia intelijen dapat dipelajari dengan pakarnya. Hanya dari situ kita bisa memastikan kebenaran dari klaim Bossman Mardigu.
Referensi
Douglas, K. M., Sutton, R. M., & Cichocka, A. (2017). The Psychology of Conspiracy Theories. Current Directions in Psychological Science Vol. 26.
Muller, J.-W. (2016). What Is Populism. Philadelphia: University of Pennsylvania Press.
Nicholls, T. (2017). The Death of Expertise: The Campaign Against Established Knowledge and Why it Matters. New York: Oxford University Press USA.
Prunckun, H. (2010). Scientific Methods of Inquiry for Intelligence Analysis. London: Rowman & Littlefield.

Sumber : Status Facebook Muhammad Raihan Sujatmoko

Friday, June 5, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: