Mardani Lempar Hoax, Tamparan Bagi Prabowo Cs

Oleh : Aldi Bhumi

"Prabowo sudah membuktikan kualitasnya, 26 April 1997 ketika tidak ada seorang pun dari Asia Tenggara yang mampu menaklukkan Everest, Prabowo dan tim Kopassus-nya mampu menaklukkan gunung tertinggi di dunia. Itu ciri khas kepemimpinan utama,"

Begitu promosi om MAS (Mardani Ali Sera) ketika jualan Prabowo pada acara Mata Najwa kemarin. Sekilas terdengar keren, heroic. Kalau saja aku belum pernah bertemu tukang obat penumbuh jenggot minyak tarantula ketika SMA, mungkin aku akan percaya.

Tapi pengalaman membuatku skeptis terhadap claim bombastis. Toh minyak itu tidak mampu membuat jenggotku menempel keren sampai k jambang. Padahal s penjual bilang hati2 mengoleskannya ketika promosi, kalau tak hati2, bulu lebat bisa tumbuh d jari telunjuk.

Benar saja, effect dari asbunnya om Mardani d Mata Najwa kemarin berbuntut pada menyeruaknya fakta2 pendakian Everest yg pernah d lakukan org Indonesia sekitar 21 tahun yg lalu. Sebelum aku sempat melakukan recheck, sudah bertubi2 fakta bermunculan.

Beberapa fakta yg tdk d sebutkan om MAS adalah, Prabowo tidak pernah menaklukkan Everest.

Yg dapat d bilang menaklukkan Everest adalah Asmujiono dan kedua rekannya, Misirin dan Iwan Setiawan, saat itu adalah anggota kopasus. Tapi entah mengapa, yg paling menarik adalah kisah tentang Asmujiono.

Prabowo, dalam sejarah hanya tercatat sebagai penggagas expedisi Asmujiono & rekan2nya k Everest.

Kisah Asmujiono sendiri menaklukkan Everest tidak seindah kisah Disney, d mana setelah berhasil beliau live happily ever after.

Asmujiono d Everest hrs merelakan fungsi mata kanannya, krn sempat membuka masker.

Setelah berhasil mengibarkan merah putih d puncak Everest pun, Asmujiono langsung d bawa pulang tampa d beri kesempatan merehabilitasi kondisi tubuhnya terhadap cuaca extreme puncak Everest.

Sesampainnya d Indonesia, Asmujiono mengalami sakit yg tak d ketahui. D duga krn suhu dingin yg menyerang sarafnya. Sehingga menyebabkannya sulit menjawab ketika d wawancara.

Bukan hanya itu saja, prestasi Asmujiono pun d ragukan oleh rekan2nya. Diapun d duga mengalami gangguan kejiwaan.

Kebanggaan dan penghargaan yg d harapkan Asmujiono dari prestasinya tak kunjung datang. Sehingga Asmujiono harus membangun kembali prestasi dan reputasinya dari awal.

Asmujiono saat ini sudah tdk lagi tergabung dalam kopasus, krn sebuah kejadian pahit d Aceh, yg sayangnya tidak d ceritakannya secara mendetail.

Jadi, dari sini sudah jelas pernyataan MAS salah. Prabowo tidak pernah menaklukkan Everest.

Lucunya, dalam klarifikasinya, om MAS menjelaskan:

"Pak Prabowo Danjen Kopassusnya saat itu. Dan beliau membentuk tim 23 orang dan luar biasa menjadi tim pertama di Asia Tenggara yang menaklukkan Everest dan sampai sekarang berat sekali Everest itu dan itu menunjukkan betapa bahwa Pak Prabowo ini punya kemampuan, salah satu target harus tuntas,"

Yg perlu d catat adalah claim tim pertama d Asia Tenggara yg menaklukkan Everest. Benarkah?

Sejarah mencatat keberadaan nama Clara Sumarwati.

Seorang pendaki gunung lulusan Perkumpulan Pendaki Gunung Angkatan Darat (PPGAD) pada tahun 1993.

Dalam pendakian pertama Clara, tahun 1994, dia gagal krn kondisi medan yg berbahaya dari jalur Selatan.

Pendakian keduanya, tahun 1995 pun gagal krn badai besar yg menyapu Himalaya saat itu.

Tahun berikutnya, 1996, barulah cita2 Clara tercapai. D sponsori oleh Panitia Peringatan 50 Tahun Indonesia Merdeka, d sponsori pak Harto.

Clara mencapai puncak Everest pada tahun 1996, setahun sebelum Asmujiono dan kedua rekannya melalui jalur Utara.

Tapi kisah Clarapun tak jauh berbeda dengan Asmujiono.

Bukan penghargaan dan nama baik yg d bawanya turun dari puncak Everest, melainkan keraguan.

Walaupun sejumlah jurnal luar negeri seperti "Everest" karya Walt Unsworth (1999) dan “Everest: Expedition to the Ultimate” karya Reinhold Messner (1999) mengakui prestasinya.

Clara juga menorehkan namanya pada website EverestHistory yg dapat d lihat pada link d bawah.

Yg d dapatkan Clara hanyalah penghargaan Bintang Naraya dari Soeharto, dan sejumlah penyakit.

Ya, tdk jauh beda dengan Asmujiono. Clarapun mengalami gangguan kesehatan, sehingga harus menjalani pemulihan beberapa lama setelah pulang k Indonesia.

Dan persis seperti Asmujiono, Clara jg d duga mengalami gangguan kejiwaan. Bahkan sempat masuk RSJ krn depresi setelah prestasi yg mempertaruhkan jiwanya tidak d hargai.

Dalam catatan expedisi Clara yg membawanya k puncak Everest, tercatat nama Ang Gyalzen, Chuwang Nima, Dawa Tshering, Gyalzen, dan Kaji sebagai Sherpa dari Nepal.

Walaupun baik Asmujiono maupun Clara pastinya tidak peduli dengan gelar siapa yg pertama menaklukkan Everest dari Asia Tenggara, yg pasti MAS tidak punya hak, tidak punya capabilitas, dan tidak punya kemampuan untuk claim.

Apalagi claim penaklukkan Everest sebagai prestasi Prabowo.

Aku hanya bisa percaya Prabowo taklukkan Everest kalau sempat pulang dalam keadaan beku seperti es lilin, pemulihan beberapa waktu, dan d rawat d RSJ seperti Clara.

Jangankan menaklukkan Everest, kencing d Nepal saja bisa jadi es krim kok.

Kalau misalnya Asmujiono mendapat penghargaan yg setara dengan prestasinya. Kalau hidup Asmujiono terjamin setelah pulang. D sambut bagai pahlawan. Mendapat harga setimpal untuk mata kanannya. Barulah om MAS boleh banggakan prestasi Asmujiono sebagai prestasi Prabowo.

Kalau yg terlihat sekarang, keberhasilan Asmujiono hanyalah pertunjukkan Prabowo pada calon bapak mertuanya, Soeharto, yg berhasil mengirimkan Clara terlebih dahulu.

Dan nama Asmujiono dan teman2nya hanyalah sebagai catatan kaki dalam promosi Mardani Ali Sera jualan Prabowo sangking tak adanya hal lain untuk d jual.

Kalau mau angkat nama kopasus, yah angkat kopasusnya aja. Wong dulu jg ga ada cerita Soeharto dan Clara taklukkan Everest kok.

Bagaimanapun juga, harus ku ucapkan terimakasih pada om MAS. Yg telah ingatkan Indonesia akan keberadaan pahlawan yg terlupakan.

Bernama Asmujiono, Misirin, Iwan Setiawan, dan Clara Sumarwati.

Sumber : facebook Aldi Bhumi

Friday, October 12, 2018 - 12:30
Kategori Rubrik: