Marawi

Oleh: Tomi Lebang

Ini potret warga Marawi di Filipina yang hendak mengungsi mencari selamat. Anak-anak dan perempuan berjejalan di atas truk untuk keluar dari kota itu.

Marawi, ibukota Provinsi Lanao del Sur di Pulau Mindanao, masih mencekam. Sebagian besar dari dua ratus ribu penduduknya mengungsi, 2.000-an di antaranya dilaporkan sempat terjebak di kota sendiri. Kelompok Maute, sebuah kelompok garis keras yang berafiliasi ke ISIS, menguasai sebagian kota itu sejak sepekan lalu meski kini telah terdesak oleh tentara Filipina. 

 

Konflik itu telah menewaskan seratusan orang. Kelompok ini kini menyandera sejumlah warga. Yang mengkhawatirkan adalah, kelompok Maute juga diisi para petempur asing, di antaranya dari negeri kita, dari Indonesia. 

Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Setyo Wasisto mengatakan, dari ratusan militan ISIS yang bertempur di Marawi, sedikitnya 38 orang Indonesia -- 37 laki-laki dan satu perempuan. “Enam sudah dideportasi oleh pemerintah Filipina, yang diduga tewas ada empat orang,” kata Setyo Wasisto. Selebihnya masih di sana. 

Dengan pernyataan ini, nyata sudah bahwa kita telah bertetangga dengan kota yang menjadi target pangkalan ISIS. Jarak Marawi dari Sulawesi Utara hanya 300-an kilometer. Mungkin karena itu Polri sampai menempatkan seratusan personel di tiga pulau terluar Indonesia di utara yakni di Pulau Marore, Pulau Miangas dan Pulau Nanusa. 

Saya dengar, hari ini ada unjuk rasa di Bandung, sebagian mengibarkan bendera hitam ISIS. Dan di negeri ini, simpatisan ISIS pun ternyata banyak. Tak sulit melacaknya, cukup menelusuri ungkapan-ungkapan dukungan mereka di media sosial. 

Surat kabar besar The Straits Times melalui sumber-sumbernya di badan intelijen negara-negara Asia Tenggara, pernah melaporkan bahwa sekitar 392 orang Indonesia diyakini berjuang untuk ISIS di Suriah.

Begitulah. 

“ISIS: The Inside Story” -- sebuah buku reportase yang ditulis Michael Weiss dan Hassan Hassan tahun 2015 -- mengungkap bagaimana ISIS datang ke kota Al-Bab di Suriah, kota pertama yang berhasil dikuasai ISIS di akhir tahun 2014. Harian Kompas mengutip buku ini dalam artikel tentang radikalisme, kemarin.

Pada mulanya, ISIS memajang wajah ramah, melayani administrasi sipil menggantikan peran resmi pemerintahan Suriah. ISIS bahkan memperbaiki jalan dan gedung sekolah, serta menanam bunga di alun-alun kota. 

Namun, itu tak berlangsung lama. ISIS kemudian mengaluarkan aturan hukum syariah menurut versinya. Perempuan tak boleh berkegiatan di luar rumah dan harus berpakaian khusus, anak-anak dilarang ke sekolah umum, dan ini: warga kota tak dibolehkan bersantai di kafe untuk sekadar mengisap shisha. Bagi yang melanggar akan dihukum potong tangan atau disembelih di muka umum.

Mau?

 
(Sumber: Facebook Tomi Lebang)
Friday, June 2, 2017 - 21:00
Kategori Rubrik: