Manuver Zig Zag Yusril, Adakah Yang Disembunyikan?

ilustrasi

Oleh : Rudi S Kamri

Entah mengapa saya tidak terkejut saat membaca berita bahwa Yusril Ihza Mahendra ditunjuk sebagai pengacara tersangka kasus makar Habil Marati. Seperti kita tahu Habil Marati dipersangkakan oleh pihak Polri karena dituduh memberikan dana kepada Kivlan Zein untuk pembelian senjata dalam rencana pembunuhan 4 tokoh nasional. Meskipun tuduhan itu sudah mereka bantah.

Mari kita fokus ke Yusril. Pengacara flamboyan kelahiran Lalang, Manggar, Belitung Timur pada 5 Febuari 1956 yang beristrikan wanita cantik asal Filipina bernama Rika Tolentino Kato ini baru saja panen pujian dari para pendukung Jokowi karena dianggap sukses memimpin Tim Pengacara TKN dalam kasus sengketa Pilpres sebagai pihak terkait di Mahkamah Konstitusi. Meskipun menurut saya kekalahan kubu Prabowo di persidangan sengketa Pilpres ini bukan karena kehebatan seorang Yusril, tapi lebih karena memang lemahnya tuduhan dan bukti-bukti yang diajukan kubu Prabowo-Sandi.

Setelah keberhasilan memenangkan sengketa Pilpres di MK, nama Yusril Ihza Mahendra digadang-gadang akan masuk kabinet Indonesia Kerja Jilid II Jokowi sebagai kandidat Menteri Hukum dan HAM. Tapi rumor yang saya dengar masuknya Yusril ke dalam kabinet Jokowi jilid II ini mendapat tentangan dan hambatan dari sejumlah pihak.

Pertimbangannya antara lain Partai Bulan Bintang (PBB) yang dipimpin Yusril gagal lagi mencapai Parliamentary Treshold dalam Pileg 2019, sehingga tidak bisa diharapkan memperkuat partai koalisi pendukung Jokowi di Parlemen. Ada juga yang menganggap elite PBB kurang sepenuh hati atau tidak ikut berkeringat untuk memenangkan Jokowi-MA. Dan disamping itu secara personal Yusril juga dianggap sebagai sosok arogan yang tidak bisa bekerja dalam teamwork dan sering plin-plan pindah kamar sesuai dengan kebutuhan. Entahlah apakah ini benar atau tidak adanya rumor seperti itu.

Publik khususnya pendukung Jokowi pasti akan selalu ingat bagaimana beberapa tahun lalu di acara ILC Yusril menyebut Presiden bodoh dan plonga-plongo. Meskipun Yusril sudah membantah dan mengklarifikasi hal tersebut, tapi dengan alasan apapun ujaran Yusril dalam acara tersebut bisa dimaknai berbeda oleh publik. Dan satu hal kehebatan seorang Yusril adalah piawai memanfaatkan momentum tertentu sebagai panggung "personal show". Meskipun tidak semua adegan panggungnya berakhir sukses contohkan kasus rencana pembebasan Abu Bakar Ba'asyir.

Sebagai seorang pengacara profesional sebetulnya merupakan hak penuh Yusril untuk menerima kasus apapun. Sebagai catatan kita, Yusril Ihza Mahendra juga pernah menjadi pengacara Kivlan Zein dan Rachmawati Soekarnoputri pada kasus makar akhir tahun 2016 lalu, yang kasusnya sampai sekarang tidak jelas kabar beritanya. Yusril juga pernah menjadi pengacara yang membela HTI dalam menggugat pembubaran HTI.

Namun dalam kasus sebagai tersangka makar Habil Marati menurut saya sangat tidak elok karena Yusril baru saja menjadi pengacara yang membela kepentingan Jokowi-MA. Ada masalah "personal ethics" yang seharusnya dipegang teguh oleh seorang profesional. Kalau sangkaan Polri terhadap Habil Marati ini terbukti benar, bagaimana mungkin akal sehat kita bisa menerima Yusril membela dua pihak yang berseberangan ?

Pernah saya dengar argumen Yusril bahwa pertimbangan dia mau menjadi pengacara dari Habil Marati adalah untuk tujuan mulia yaitu mengusahakannya rekonsiliasi. Bagi saya itu pertimbangan yang super aneh. Rekonsiliasi itu biasanya dilakukan oleh para pihak yang setara kedudukannya. Bagaimana mungkin Presiden sebagai Kepala Negara harus melakukan rekonsiliasi dengan penjahat pelaku makar ? Apalagi rekonsiliasi dengan orang yang hanya selevel Habil Marati yang pernah disebut-sebut menerima kucuran dana BLBI. Jujur saya tidak bisa paham konstruksi berpikir mantan suami Kessy Sukaesih ini.

Apakah mungkin manuver Yusril ini salah satu strategi dalam upaya menaikkan posisi tawar dirinya di hadapan Jokowi ? Entahlah hanya Yusril dan Tuhan yang tahu.

Namun yang perlu kita sadari masalah etika personal dalam dunia kepengacaraan memang sangat sumir. Tidak bisa mutlak dipersalahkan. Tapi sebagai rakyat saya juga merasa berhak memberikan pendapat dan masukan kepada Presiden Jokowi, bahwa jangan sekali-kali membawa serigala ke kandang domba. Lengah sedikit dia bisa menggigit tengkuk sang tuan dan menggigit kawan-kawannya.

Ingat pepatah yang saya tulis beberapa waktu lalu : 
"Sedomba-dombanya serigala bergincu, dia akan tetap terlihat bengis dan akan terus mengincar tengkukmu"

Mudah-mudahan Presiden Jokowi paham maksud baik saya. Semoga

Salam SATU Indonesia,
15072019

Sumber : Status Facebook Rudi S Kamri

Tuesday, July 16, 2019 - 21:00
Kategori Rubrik: