Manusia Normal

Oleh: Erizeli Bandaro

 

Dulu ketika perang Vietnam, Amerika melatih prajurit melalui pendekatan psikologi untuk merubah persepsi prajurit tentang rasa sakit, menderita, kesepian dan ketakutan. Merubah persepsi sakit menjadi kenikmatan, menderita menjadi bahagia , kesepian menjadi damai, ketakutan menjadi euforia. Dengan latihan intensif melalui berbagai metode akhirnya memang berhasil melahirkan prajurit yang tangguh.

Benarlah , ketika di terjunkan dalam perang Vietnam, mereka menjadi mesin pembunuh dan kalau tertangkap musuh mereka tidak mempan di siksa, dan bisa melepaskan diri dari siksaan melintasi belantara sendirian tanpa ada rasa kesepian dan ketakutan. Mereka menikmati derita demi derita. Apa yang terjadi kemudian setelah perang usai? Mereka semua jadi orang gila karena persepsi mereka tentang ketetapan Tuhan bertolak belakang.

 

 

Kita butuh menderita agar kita tahu dan bersyukur bila bahagia. Kita butuh rasa kesepian agar kita tahu mensyukuri kebersamaan. Kita butuh ketakutan agar kita bisa merasakan betapa indahnya ketentraman dan berjuang untuk mendapatkan itu.

Apabila kita menghindari rasa takut, kesepian, menderita , kesakitan, maka kita tidak akan pernah berbuat apapun. Setiap orang yang berbuat, ia pasti merasakan semua hal yang tak di inginkan dan tentu berpeluang mendapatkan yang di inginkan. Masalahnya apakah Anda ingin meraih peluang itu ataukah sibuk menghitung segala kemungkinan buruk tanpa berbuat apa apa?

Kalau Anda terus berpikir negatif terhadap orang lain dan masa depan maka , dapat di pastikan Anda selalu punya alasan mendoktrin diri sendiri untuk berpikir negatif dan menyebarkan sikap itu kepada orang lain. Sebetulnya bisa di katakan Anda orang gila. Tidak bisa hidup secara normal layaknya Manusia yang harus melewati segala ketidak mungkinan dengan berpikir positif.

 

(Sumber: Facebook Erizeli Bandaro)

Friday, June 1, 2018 - 21:45
Kategori Rubrik: