Manusia Halu

ilustrasi

Oleh : Tonny Hanif

Anda boleh saja rame2 mentertawakan dan menyangkal klaim para tokoh Sunda Empire. Tapi Ki Ageng Rangga Sasana sebagai Sekjen Pentagon dg pangkat letjen, tetap bersikukuh bahwa PBB dan NATO itu awalnya didirikan di Kota Bandung, lalu dipindah ke USA. Bahwa Sunda Empire itu sudah diakui oleh 198 negara di muka bumi. Bahwa tgl 15 April 2020 semua negara di dunia sudah expire dan harus mendaftar ulang ke Bandung jika masih ingin diakui negara. Mungkin di benaknya legalitas negara2 itu sama dg SIM A atau SIM C yg perlu diperpanjang sebelum jatuh tempo.

Kemaren Roy Suryo mengadukan ke polisi pembohongan publik atas klaim2 tokoh Sunda Empire. Khususnya tracing perubahan oleh seseorang yg terindikasi Sunda Empire atas catatan sejarah lahirnya PBB di Wikipedia versi bahasa Indonesia, catatan dirubah seolah PBB itu lahir th 1942 di Gedung Isola di Bandung. Ini ternyata berbeda dg versi aslinya yg masih dalam bahasa Inggris. Lalu apa tanggapan Rangga Sasana? Dia tetap bersikukuh bahkan balik menasihati bahwa catatan sejarah yg valid itu sudah diakui oleh banyak negara di dunia. Entahlah catatan mana yg dia maksud. Dia bahkan akan mengadukan balik Roy Suryo ke Mahkamah Internasional. Hebat banget ya!

Anda sudah mulai kesal? Jangan. Cukup anda sadari saja bahwa banyak orang dg penyakit halusinasi megalomania akan bersikukuh atas alam pikirannya sendiri, walaupun jelas dan nyata pendapatnya itu bertabrakan dg realitas dunia nyata. Pikirannya akan tetap bertahan di alamnya dan dia akan selalu menampik semua fakta.

Sekarang kita bicara soal proyek revitalisasi di sisi selatan monas. Monas adalah salah satu RTH (ruang terbuka hijau) yg paling luas di DKI. RTH ini punya fungsi ekologis meningkatkan resapan air ke dalam tanah karena terbentuknya sistem perakaran dari berbagai tanaman keras yg tumbuh di atas lahan tsb. Dengan begitu maka RTH ini bisa mengurangi run off water yg selalu menggenangi daerah sekitarnya pada saat terjadi hujan. Maka di daerah2 dg banyak tanaman keras elevasi air tanah biasanya lebih tinggi, jika kita gali sumur maka air bisa kita temukan tanpa harus menggali terlalu dalam. Jadi RTH itu bukan semata kosmetik atau beautification, tapi salah satu fungsi dalam pengendalian banjir. Tapi karena menanam pohon2 sampai punya akar yg besar itu butuh biaya perawatan dan waktu yg lama, maka sebagai jalan pintas kini populer program sumur resapan dan lubang biopori. Tentu berbeda dg tanaman, sumur2 resapan ini tidak bisa menjaga iklim mikro agar udara tetap sejuk dan rindang, tidak menyerap CO2 dan mengasilkan oksigen, juga tidak menyerap polusi udara dan polusi suara.

Nah, dalam proyek revitalisasi monas ini telah dibabat 205 pohon mahoni yg berumur 40-50 tahun, lalu dibuat bangunan beton untuk parkir bawah tanah, dan di atasnya dibuat plaza terbuka yg luas dg kontruksi ubin batu. Kendati begitu, PPK proyek ini mengklaim bahwa setelah proyek revitalisasi monas maka nanti luas RTH di monas akan bertambah luas. Anda mulai heran?

Coba anda bayangkan, anda punya kavling lahan, lalu anda bikin bangunan di atas kavling tsb. Setelah bangunan itu jadi anda bilang ke semua tetangga bahwa taman anda sekarang menjadi makin luas. Horee! Tetangga anda pun akhirnya maklum jika anda ternyata adalah anggota the Sunda Empire.

Selama ini anda sering menyaksikan gubernur DKI dan para staf TGUPP menolak program normalisasi sungai, dan mereka selalu bicara kesana kemari tentang pentingnya program naturalisasi sungai yg lebih alami, dan klaim bahwa di seluruh DKI akan dibangun sekian juta sumur resapan untuk mengatasi masalah banjir. Tentu saja ini niat baik yg harus kita dukung. Naturalisasi adalah kondisi ideal jika tersedia lahan yg luas seperti di pedesaan. Entahlah bagaimana mereka merealisasikan program naturalisasi di DKI yg lahannya sudah padat dan mahal ini. Mungkin pembebasan lahan buat naturalisasi ini akan dilakukan secara besar2an seperti yg sudah dilakukan gunernur Anies pada program pembangunan rumah DP 0 rupiah. Berkat program tsb kini sudah tak ada lagi warga DKI yg sewa rumah atau menumpang. Semua warga sudah punya aset yg membanggakan!

Lantas, di tengah ramainya wacana naturalisasi dan promosi TGUPP tentang pentingnya membangun sumur2 resapan di tiap lahan kosong. Di tengah gencarnya edukasi TGUPP agar warga untuk bisa tangkap air, manfaatkan air, jangan alirkan ke luar lahan, jangan membanjiri tetangga. Lalu pemda DKI ini membuktikan bahwa mereka bekerja dalam diam. Tiba2 sedemikian banyak tanaman keras di RTH monas bagian selatan yg luas dibabat dan diganti dg bangunan beton dan ubin batu. Konon ini adalah cara untuk memperluas RTH monas. Nah, sampai di sini apakah sekarang anda masih heran?

Jika anda heran dan takut pikiran waras anda terganggu, ada baiknya anda mulai ikut aktif menjadi anggota the Sunda Empire. Siapa tahu anda bisa langsung punya pangkat mayjen atau letjen tanpa harus punya pasukan. Semoga di sana anda bisa segera sembuh. Seperti Rangga Sasana the Pentagon, atau Nasri Banks the grand prime minister, anda pun setelah ikut the Sunda Empire akan menjadi sangat fasih dan penuh percaya diri menjelaskan panjang lebar dan luas, bahwa memang betul setelah dibeton lahan RTH monas itu nanti malah jadi bertambah luas kok.

Tidak hanya luas RTH makin bertambah. Bahkan nanti anda bisa tunjukkan bahwa di atas beton2 bangunan parkir itu masih bisa dibuat banyak berbagai sumur resapan, dimana air hujan akan masuk secara lancar ke dalamnya secara sunatullah. Lalu anda yakinkan publik bahwa itulah contoh sukses program naturalisasi yg sejarahnya sudah diakui banyak negara di dunia. Bahkan prestasi ini sudah dicatat oleh Mahkamah Internasional!

Sumber : Status Facebook Tonny Hanif

Saturday, January 25, 2020 - 17:00
Kategori Rubrik: