Manusia Angka

Oleh: Denny Siregar
 

Dunia politik di Indonesia itu sangat kotor.

Kotornya dunia politik karena disana bercokol banyak orang kotor. Mulai dari investor politiknya sampai politikus-nya sendiri berkubang di selokan yang sama.

Mencari orang bersih di dunia politik seperti mencari sebatang jarum di tumpukan gudang garam. Sulit sekali. Apa yang terlihat, belum tentu itu yang terjadi. Karena itu jangan mengharapkan bahwa pelaku politik itu bersih-sebersihnya. Kita hanya berharap bahwa mereka lebih sedikit kotornya dari yang lainnya.

Sebagai contoh, para investor politik yang mempunyai dana besar selalu mempunyai tujuan untuk mengamankan mega proyeknya. Mereka tidak akan pernah ber-investasi di satu kandidat, tetapi di semua kandidat. Para investor menganut kepercayaan nol kesalahan. Jadi, siapapun kandidatnya, pada prinsipnya mereka-lah pemenang sesungguhnya. Karena ada perjanjian bahwa mega proyek mereka, dimana mereka sudah menanam uang sampai ratusan triliun rupiah, tidak akan terganggu oleh kebijakan-kebijakan pimpinan baru maupun lama.

Begitu juga para kandidat yang bertarung.

Jangan disangka mereka bertarung beneran. Ada kandidat-kandidat yang memang sengaja berinvestasi dalam pertarungan politik. Mereka sebenarnya sudah paham bahwa mereka tidak akan menang, bahkan belum tentu juga dicalonkan. Tetapi mereka terus menerus meng-klaim bahwa mereka sudah didukung sekian juta pemilih, padahal masih sebatas belasa orang. Itupun sebatas keluarga dan tetangga karena dia ketua RT.

Kenapa mereka begitu ? Apakah mereka tidak rugi mengeluarkan uang untuk membangun tim suksesnya ?

Namanya juga investasi, profit adalah tujuannya. Ini adalah pertaruhan. Kalah biasa, menang Alhamdulillah. Banyak sekali disini yang punya tujuan profit jangka pendek.

Ada yang punya strategi menyerang dengan propaganda membasmi "konglomerat hitam". Belum tentu mereka ingin membasmi, tetapi setidaknya mengingatkan para "konglomerat hitam" yang mrk serang, bahwa mereka eksis. Untuk apa ? Ya mereka ingin mulut mereka ditutup dengan uang. "Lu mundur aja deh dr kandidat, butuh berapa ?" Itulah poin yg diinginkan.

Semakin keras teriakan dan semakin besar massa, maka harganya meningkat. Kalau mereka disuruh mundur, tentu harus pulang dengan kipas-kipas.

Jadi sebenarnya - kemanapun semua berputar tujuannya biasanya satu, yaitu uang. Jarang sekali ada yang memang bergerak karena panggilan hati. Biasanya mereka ini bukan politikus murni, tetapi pekerja yang sudah pada taraf selesai dengan materi. Sekarang masanya mereka sosial.

Saya sendiri entah dituduh berapa kali terima uang, sudah makmur karena terindikasi membela satu kandidat.

Padahal, kopi aja masih ngutang. Nasi bungkus ga datang-datang. Tahu isi dah ga boleh ngemplang. Tapi setidaknya ada satu yg terus saya pertahankan. Hati nurani.

Kapan lagi saatnya saya berkata lantang tanpa ada sedikitpun kepentingan ? Benar adalah benar, begitu juga salah. Ketika itu saja bisa dibayar, maka saya merendahkan nilai diri saya sebagai manusia.

Saya hanyalah manusia angka. Dan menjadi sama seperti mereka.

(Sumber: Facebook Denny Siregar)

Monday, March 28, 2016 - 14:30
Kategori Rubrik: