Manifesto Filosofis

ilustrasi

Oleh : Abdul Munib

"Bagi saya Pancasila itu tidak ada. Yang ada hanya gambar Garuda dan teksnya. Realitanya tidak ada. Bagaimana bisa anti terhadap sesuatu yang tidak ada?"
Sujiwo Tejo, ILC, TVOne

Kami Ilyas memang jualan sensasi. Supaya reting lah yang paling penting. Jangan membingungkan rakyat dengan sesuatu yang tidak tuntas.

Santri Kalong : Kang mohon dilengkapi soal proposisi Pancasila Tidak Ada dari Sujiwo Tejo.

Kang Mat :
Itu sama saja dengan Rocky Gerung bicara Kitab Suci itu fiksi. Pancasila tidak ada karena
prakteknya kita sedang kapitalis. Solat tidak ada karena masih buang sampah sembarangan. Jika ungkapan Sujiwo sebagai ajakan untuk menyempurna, masih bisa difahami. Agar kita tidak mudah cepat puas.

Islam itu manifesto ilahi sebagai puncak sempurnanya perjalanan syariat. Makanya setelah itu Tuhan tak menurunkan nabi lagi. Islam sempurna tidak otomatis identik dengan umat sempurna. Umat muslim adalah hal lain yang dalam perjalanannya jatuh bangun menggapai sempurnanya umat : peradaban adil. Sekarang belum sampai. Di jaman Imam Mahdi dan Nabi Isa turun lagi, baru akan terwujud janji Ilahi itu. Menegakkan pemerintahan adil menciptakan peradaban adil. Identik dengan sila kedua.

Bahkan naskah verbal Al Quran terang-terangan bahwa Nabi Yakub/Israel itu Islam memerintahkan pada anak-anaknya : Wala Tamutunna Illa Wa Antum muslimun. Kalian jangan mati terkecuali kalian muslim. Begitu juga Nabi Allah Isa, di akhir surat Al Maidah juga mengatakan hal sama. Nabi Sulaiman juga, Ratu Balkis berislam bersama Sulaiman. Kata Islam disini, bukan difahami sebagai merek suatu agama. Di Al Quran juga disebut Fi Dinillahi, ke dalam Dinillah. Allah esa maka Dinullah juga esa.

Agama Isian dalam kolom KTP kita itu tentu saja agama rekaan para teologis di masing-masing era dan tokohnya yang kita fahami sebagai agama berjumlah. Dalam ayat Lakum Dinukum Wa liya Addin, bahkan secara verbal kekafiran juga agama.

Coba Pak Karni jangan hanya menampilkan sensasi melulu di TVONe. Beri juga penjelasan yang lengkap supaya tidak runyam. Sujiwo itu budayawan mana ngerti sholat atau filsafat Pancasila, disuruh bahas itu. Ya sensasi saja hasilnya.

Pancasila itu sebuah manifesto filosofis. Sering disalah fahami sebagai manifesto agamis. Manifesto filosofis itu diberi nama Pancasila. Manifesto filosofis itu sebagai kesepakatan kita berbangsa dan bernegara. Kalau manifesto kesepakatan itu diganti khilafah misalnya, Papua, NTT, Sebagian Maluku, Manado, Batak hampir dipastikan tidak akan ikut dalam kesepakatan NKRI khilafah itu. Kalau Sujiwo tidak percaya coba saja. Dijamin akan pecah belah. Apa harus Indonesia pecah belah dulu baru faham bahwa Pancasila itu ada.

Sujiwo ini ambigu sekali. Bahwa perjalanan kita sebagai bangsa masih jauh dari substansi manifesto itu, kita semua sepakat. Negara ini seperti pesawat sedang dibajak oleh Mafia Kapital, dan sedang tidak terbang ke arah tujuannya di sila kelima. Memang seperti begitu perjalanan kita. Tapi jangan dibilang Pancasila tidak ada. Ngawur sekali dia.

Manifesto filosofis itu ada baru kesepakatan itu ada. Kesepakatan itu ada baru negara bangsa ada. Negara ada baru pemerintah ada.
Pemerintahan ada baru ada Kementrian Kominfo, baru TV One dapat ijin siaran. Baru ada ILC. Baru Ada Rocky Gerung dan Sujiwo Tejo jadi pembicara disana. Kalau Pancasila tidak ada kamu yang di ILC itu hantu belau semua.

Bung Cebong : Jadi propososi itu harus jelas ya Kang. Jangan hanya cari sensasi. Tata tertib di kelas itu satu hal, dan anak-anak adalah hal lain. Kalau anak-anak ribut, tak bisa dikatakan Tata-tertib tidak ada. Tapi betul juga Kang buat apa tata tertib kalau kenyataannya kelas ribut ? Bagaimana Kang?

Kang Mat :
Kalau proposisi tak perlu argumentatif buat saja acara resmi lawak. Supaya jelas. Setiap orang wajib nyocot dengan argumentatif. Bermantek baru berkotek, begitu Bong.

Agar upaya selalu condong kepada substansi maka diperlukan revolusi. Di negara kita kata revolusi masih ambigu. Di jaman Bung
Karno gandrung sekali pada kata revolusi.
Di jaman Suharto dihindari sekali penyebutan kata revolusi. Kecuali Pahlawan Revolusi tujuh jendral peristiwa G30S garis miring PKI.

Karena dialektika yang saling mematikan dan menafikan inilah maka, kita 74 tahun kehilangan tema-tema besar. Kalau tidak bangga-banggakan berlebihan, kita latah, atau fesimis dan mudah patah.

Dul Kampret : Kita harus bagaimanakan Pancasila ini Kang.

Kang Mat :
Kita harus fahami manifesto filosofis kita yang dinamakan Fancasila atau Al usul Hamsah, sebagai realitas bergradasi dengan derajat yang beragam. Pendikan Pancasila harus ditekankan pada sisi man behine the gun. Manusia pengguna alat. Bukan semata-mata manusia skill, yang otaknya dipadati knowledge tapi pinter keminter.

Angkringan Filsafat Pancasila

Sumber : Status Facebook Abdul Munib

Friday, November 8, 2019 - 09:45
Kategori Rubrik: