Manifest Destiny dalam Hijabisasi

ilustrasi

Oleh : Gayatri Muthari

"Jaga budaya Indonesia dengan kearifan lokalnya. Wariskan dan lestarikan itu kepada anak cucu kita. Mulai dari tradisi atau adat istiadatnya, pakaian adatnya yang murni tanpa hijab, masakan khas nusantaranya dan keluhuran sikap dari para leluhur. Dengan begitu, Indonesia tetap terjaga dan damai." Demikian kata Ust. Miftahul Choir.

Saya sangat setuju dengan Bung Miftah saudara seperjuangan saya tersebut. Dia dari trah-tumerah Sriwijaya penguasa Melayu, sedangkan saya dari trah-tumerah Majapahit penguasa Jawa. Bung Miftah adalah ustadz lulusan seminari Islam yang menguasai mazhab fikih Syafii, sedangkan saya adalah syekhah yang memperoleh "ijazah" tradisional dari tarekat Daudiyah.

Hijabisasi yang terjadi selama tiga dasawarsa terakhir adalah sama dengan "Manifest Destiny" (MD) yang merupakan semangat kolonialisme Amerika Serikat. Hijabisasi ini hanya terjadi pasca kolonialisme Eropa di seluruh dunia.
Guru saya Syekh Ali Haidar ikut menegaskan bahwa hijabisasi adalah dampak kolonialisme.

Dalam MD, sebagian imigran Eropa di AS ingin menguasai benua Amerika dengan mempopulerkan bahwa bangsa-bangsa lain di wilayah baru mereka adalah belum beradab, barbar dan primitif. Dengan dalih membuat mereka beradab, mereka menguasai tanah-tanah bangsa Indian Amerika, merampas kearifan mereka (misalnya dalam ilmu pengobatan), maupun melakukan genosida budaya terhadap mereka. Akibatnya, ratusan bahasa Indian Amerika kini telah punah. Generasi Indian-Amerika saat masa segregasi masih mewarisi trauma karena penindasan dan pembunuhan massal serta Kristenisasi-Westernisasi paksa terhadap mereka.

Dalam hijabisasi, salah satu doktrin yang sangat jelas adalah busana-busana perempuan di Nusantara tanpa jilbab atau tanpa hijab (yaitu pakaian kepala yang menutupi leher dan seluruh rambut) adalah barbar, primitif, tidak mulia, dan tidak Islami. Mereka menanamkan standar Islam MD ke dalam benak Muslimah sejak empat dekade lalu untuk mengubah Islam yang telah ratusan tahun dipraktekkan Muslimah di Nusantara: para Muslimah yang tidak berjilbab sepanjang waktu dan hanya saat ritus salat.

Memandang busana-busana wanita Nusantara tanpa jilbab, hijab dan cadar sebagai pakaian-pakaian tidak mulia, tidak terhomat, tidak religius, tidak taat Allah, tidak mengikuti sunnah, dan tidak sesuai syariat Islam, semua ini adalah pandangan-pandangan yang rasis dan karena itu justru layak disebut sebagai Pseudo-Islam. MD dalam Islam poskolonial ini tidak lain adalah bentuk keagamaan pagan, atau musyrik, dan bertentangan dengan tauhid.

Para nenek moyang saya dan bung MIftah telah menyebarkan dan menganut Islam di Nusantara sejak berabad-abad lalu dengan berintegrasi dan mengadopsi segala kearifan setempat. Itu sebabnya bahasa-bahasa di Nusantara dari mulai Jawa, Sunda, Bugis, Aceh, dll masih tetap eksis dan terus berkembang tidak seperti nasib bahasa-bahasa Indian Amerika di Amerika. Kesenian seperti batik, sendratari, patung, gamelan dan pencak silat masih tetap lestari.

Namun, dalam suasana psikologi poskolonial, hantu-hantu genderuwo dan wewe gombel Pseudo-Islam dari masa lalu hendak dibangkitkan dalam indoktrinasi hijab yang rasis dan zalim. Bertaubatlah sebelum terlambat! 2026 sudah dekat.

***
Mari silakan sekalian jin dan dedemit pengikut Hamba-hamba Tengik Iblis, jin dan dedemit pengikut Wibu-abdi-hamba-Baal Iblis, serta kaum Setan-Alas-Fasik-Iblis, mari hai sekalian Pseudo-Muslims, marilah kemari hai hai kemari:

Mari, berilah emoticon marah, melecehkan dan menertawakan atau segala bentuk perisakan kepada saya. Golem saya sudah menunggu perintah saya untuk mentransfer pemfigus saya dkk ke desmoglein kalian yang teguh merisak, merundung dan ingin menindas saya.

Jangan dipikir saya tidak serius dan tidak dibeking oleh arwah-arwah leluhur Nusantara dan Mesopotamia saya. Ini masalah serius, yaitu masalah satu kemanusiaan, sedangkan rasisme maupun ketidaksetaraan dalam kemanusiaan adalah suatu kejahatan kemanusiaan yang ditentang Alquran, dan Rasulullah saw telah menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengakhirinya. Saya tidak ingin menyia-nyiakan warisannya itu.

Billahifisabililhaq fastabiqulkhairat,
Sumber : Status Facebook R.A Gayatri W.Muthari.

Thursday, July 2, 2020 - 10:00
Kategori Rubrik: