Maniak Surga

Ilustrasi

Oleh : Awan Kurniawan

Fenomena maniak Surga saat ini makin terasa, baru melek agama saja sudah merasa "pasti" ahli Surga. Bahkan para alim ulama, para kyai yang puluhan tahun pesantren, bahkan sampai saat ini masih terus belajar agama saja, oleh mereka para maniak Surga sudah di tuduh sesat, kafir dan ahli neraka.

Ritual ibadah bukan lagi sebagai bentuk berserah diri kepada Allah, untuk mengharap ridho-Nya, melainkan sudah berubah menjadi bentuk keakuan (kesombongan) dengan mengenyampingkan ridho Allah, beribadah karena maniak Surga, bersyari'at tapi tidak berhakikat, begitupun sebaliknya, mengaku kembali kepada Al Qur'an dan Sunnah, tetapi sejatinya meninggalkan makna dan arti sebenarnya dari Al Qur'an dan sunnah itu sendiri, tidak menerima perbedaan, merasa ibadahnya paling benar dan berani menyalahkan dengan menghukumi ibadah orang lain yang tidak sepaham.

Inilah bentuk keprihatinan kita saat ini terhadap mereka para maniak Surga. Tidak ada lagi kepasrahan kepada Allah secara total, ikhlas dengan penuh rasa Roja (rasa berharap diterima ibadahnya) dan khauf (rasa takut ibadahnya tidak diterima). Mereka para maniak Surga begitu percaya diri (over confidance) dengan ibadah yang dilakukannya sebagai ibadah tanpa cacat dan tanpa kekurangan sedikitpun, walaupun dengan ilmu yang terbatas, tidak belajar fiqih, tashawuf dan tauhid (tiga ilmu yang dihukumi ulama fardhu 'ain alias wajib untuk mempelajarinya).

Maniak Surga berharap bidadari nan cantik jelita, dengan jalan instan dan proses yang singkat, tanpa harus bersusah payah tholabul 'ilmi, yang akibatnya malah merusak tatanan keilmuan Islam itu sendiri. Sesuatu yang ditempuh dengan jalan cepat,instan dan terburu-buru, maka hasilnya pasti tidak akan memuaskan, malah akan cendrung mengecewakan.

Para maniak Surga, masjid bukan tempat perniagaanmu.

Sumber : Status Facebook Awan Kurniawan

Wednesday, April 25, 2018 - 20:30
Kategori Rubrik: