Mang Lu Sanggup?

Oleh: Sahat Siagian

 

Gak ada satu pun pemimpin di negara-negara demokrasi yang jantungnya gak kebat-kebit di masa pandemi ini. Pertumbuhan ekonomi suram. Mau PSBB direlaksasi pun pertumbuhan bakal cuma merayap sampai Desember nanti.

Di akhir Desember kita bisa mulai berharap. Liburan 2 pekan, yang direncanakan pemerintah mulai sehari sebelum Natal hingga sepekan sesudah Tahun Baru, bakal menggiatkan parawisata. Tapi itu dengan syarat baku: rakyat punya duit untuk beranjangsana. Kalau nggak, sami mawon.

 

Karena itu pemerintah harus mengucurkan uang ke rakyat. Lewat apa? Ya lewat berbagai upaya kreatif, bukan BLT. Lucu banget kalau bagikan duit buat ngelancong padahal kebutuhan shari-hari masih terancam.

Kemabokan itu masih ditambah dengan upaya menghadapai koki (kelompok otak kusut Indonesia). Mereka sotoy dan cuma mau nyari duit receh. Berani mereka kalau ditawari posisi memimpin BNPB? Cuih. Tititnya langsung mengkeret. Nikita yang sudah lama gak napsu sama elu bakal langsung nyari penggaris buat ngegampar punya lu.

Bego banget kalau lu percaya yang mengancam nyawa penyelenggara seminar di UGM adalah pendukung Jokowi. Ngapain?

Sebagai pemenang kita punya segalanya, terutama aparatus keamanan. Trus ngapain kita ngancem-ngancem otak kusut? Gila kali lu. Cukup aparat bertindak, semua beres. Kita gak perlu sibuk? Orang yang doyan ngancem adalah pecundang, bukan pemenang.

Politik Indonesia gak punya kemajuan. Isinya drama mulu. Masih inget lu di hampir sepuluh tahun lalu seorang jendral memamerkan foto-foto teroris yang ditengarai sedang mempersiapkan serangan ke dirinya? Lebay gak sih?

Model seperti itu berlanjut terus sampai ke emak-emak nyinyir korban operasi plastik. Trus sekarang penyelenggaran seminar di Yogya.

Gila! Ini negeri kaum kreatif. Harusnya gak gitu. Gak caya?

Lu musti ngabisin waktu satu setengah tahun makan bubur, ganti-ganti tiap hari, untuk menyelesaikan koleksi bubur Indonesia. Juga satu setengah tahun untuk nyobain sop atau soto Indonesia.

Kalau Amerika Serikat bermodelpolitik kayak gitu mulu, kita maklum. Coba aja lu mukim di NY selama 2 pekan. Lu bakal bosen. Makanan yang disuguhkan itu-itu mulu. Apa sih sarapan mereka? Telor orak-arik, cereal, bacon, buah. 

Kita? Lontong sayur, bubur ayam, kue serabi, nasi pecel, nasi goreng, kolak biji salak, bubur kacang ijo, bubur kacang item, roti bakar, buah yang ragamnya segudang, dan ratusan macam lain, lu aja yang nambahin.

Kreativitas jadi miskin ketika napsu berkuasa merajalela. Saban mau nulis buku, gw musti ngungsi dulu 1-2 hari buat meredakan pikiran. Semua napsu dipadamkan agar tersedia ruang di benak untuk menampung fantasi dan gagasan.

Jadi, kalau lu lihat gerakan-gerakan basi gak kreatif kayak di Yogya, kesimpulan gw cuma satu: gerakan itu dihelat oleh mereka yang begitu bernapsu berkuasa.

Negeri ini bisa beres kalau semua pihak menahan diri. Sebagaimana kita tunduk pada tatanan alam yang mengatur musim, kita juga seharusnya patuh kepada tatanan yang sudah disepakati: pergantian kekuasaan saban 5 tahun.

Tapi, selain diisi manusia-manusia baik, Nusantara juga dihuni orang-orang receh. Sebagian iri melihat koleganya berdiri di barisan pemerintah. Sebagian lain memang cuma mau nyari duit via kekacauan. Mereka gak bisa ngapa-ngapain, gak ada kerjaan, gak punya kecakapan, tapi ngelamun bisa ngorder perempuan lewat hape.

Gw èmpèt saban baca komen yang membandingkan Indonesia dengan Singapur, Vietnam, dan Cina perihal Covid-19. Otak dengkul emang gitu, ngambil perbandingan zonder mikir kesesuaian.

Anjay. Emangnya Singapur-Vietnam-Cina masuk di dalam kumpulan negara demokrasi? Mang ada demokrasi di sana.

Kalau Indonesia berhaluan seperti mereka, sudah lama negeri ini beres oleh Jokowi. Yang pertama dia lakukan pastilah menyapu dan menaruh kalian di sebuah pulau supaya hidup berteman biawak, komodo, buaya, macam, dan babi celeng.

Mungkin setelah saban hari hidup mendengar auman macan, gelegak napas buaya, kalian baru tahu apa itu hidup.

Teef varken!

 

(Sumber: Facebook Sahat Siagian)

Monday, June 1, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: