Mana Aksimu Bawaslu Soal Hoax 7 Juta Surat Suara Tercoblos

Ilustrasi

Oleh : Ferdinand Tobing

Hari ketiga di tahun baru, beredar 3 hoax. Keruh. Konyolnya, seluruh pendukung kedua kubu Capres menikmati jadi buzzer politik. Tuduhan berbalas bantahan.

Sampai di situ tak ada lagi yang mempertanyakan ketidakberdayaan penegakan hukum, bahkan atas kasus-kasus hoax sebelumnya.

Bawaslu lumpuh. Polisi gamang.

Dalam kasus Ratna misalnya, polisi seperti hanya main aman. Mengamankan satu orang yang dianggap berdampak politik paling kecil. Tampaknya Ratna akan mempertanggungjawabkan sendiri kasus itu.

Lalu bagaimana nasib para elit politik yang sebelumnya menjadi amplifier Ratna ? Mereka yang secara kasat mata menebar kabar ke publik telah terjadi kasus penganiayaan, adalah penanggungjawab hoax yang sebenarnya. Bagaimana penegakan hukum terhadap mereka ? Tak ada kelanjutan cerita. Mereka, para elit itu, menikmati kebebasan memproduksi hoax selanjutnya.

Maka besok akan ada hoax lagi. Tebar hoax telah menjadi bagian dari cara berpolitik bangsa. Tak ada elit politik yang harus bertanggungjawab soal itu.

Lagipula siapa yang peduli. Di tahun politik, publik demam politik partisan. Hoax memang membuat keruh, tapi target kekeruhan ini adalah supaya JAGOANNYA MENANG. Dan memang selamanya perhatian publik bukan soal penegakan keadilan. Tak ada yang menuntut edukasi, moralitas dan akhlak politik. Tak ada yang menghendaki jalan sepi, yang lurus.

Tak ada yang melihat kasus hoax sebagai masalah penegakan hukum, atau moralitas, masalah nilai-nilai. Karena yang lebih dianggap menjadi masalah adalah jika jagoannya kalah. Ancaman bagi bangsa dilihat secara partisan: jika jagoanku tak menang, maka negara dan bangsa ini akan oleng.

Maka selama itu pula, status quo lah yang jadi pemenang di republik ini. Ketika pemilu usai, para elit itu akan menghitung posisinya kembali. Jokowi dan Prabowo bakal berpelukan, elit di kedua kubu melebur, sharing kekuasaan.

Lalu para produsen hoax itu akan duduk di posisi-posisi strategis, pegang kuasa menentukan kebijakan bagi publik. Tak ada lagi yang berefleksi atas peristiwa amoralitas hari-hari ini. Tiga, lima, sepuluh hoax terlalu enteng, mudah dibawa angin. Ketika musimnya tiba, angin akan membawa kabar-kabar bohong kembali.

Sumber : Status Facebook Ferdinand Tobing

Friday, January 4, 2019 - 18:00
Kategori Rubrik: