A Man Called Heroes

ilustrasi

Oleh : Fadly Abu Zayyan

(Operasi Senyap di Tengah Kegaduhan)

Tulisan dua tahun lalu ini sempat mampir di linimasa akun fb saya sebagai fitur memories. Dan saya memutuskan menundanya satu hari untuk membagikan kembali.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=326201024440432&id=100011516113440

Inti dari tulisan tersebut secara eksplisit saya menyebutkan bahwa pelantikan Jonan sebagai Menteri ESDM adalah sebagai "Operasi Senyap di Tengah Kegaduhan". Dan kini dua tahun berselang, Mission Accomplished! Jonan telah menyelesaikan misi besar, yaitu Divestasi Freeport Indonesia. Sebuah Mission Impossible jika kita melihat siapa saja dibelakang Freeport.

Lantas, apa hubungannya dengan Ahok? Ya! Dua "kafir" anak bangsa ini sedang berbagi peran. Ahok berperan sebagai decoy saat "Perang Divestasi" berlangsung. Itulah kenapa Ignatius Jonan dilantik tepat saat Aksi 411 berlangsung. Isu penistaan Agama menjadi sebuah pengalih perhatian terhadap musuh seolah bangsa ini sedang di ambang kehancuran. Seolah Jokowi juga sedang diambang kejatuhan. Dan para tuan dibelakang Freeport tinggal memetik buahnya.

Kemudian kenapa Jonan yang dipilih sebagai Panglima Perang? Memang pada awalnya Jokowi memilih Archandra. Sosok yang sama sekali luput dari radar Freeport sebagai panglima. Namun ia harus terganjal kasus kewarganegaraan ganda dan akhirnya ramai-ramai menjadi sasaran tembak para politisi yang sudah menjadi proxy. Padahal Freeport sebelumnya sudah merasa menggenggam negeri ini di segala lini. Sebagaimana tergambarkan dalam kasus "Papa Minta Saham".

Bagi Jokowi, Jonan adalah sosok yang dianggap mumpuni. Secara manajerial, track recordnya tak diragukan lagi. Dia mampu merubah PT.KAI dari merugi menjadi meraup laba. Dari kondisi berhutang dibalik menjadi aset yang berlipat ganda. Tentu dengan terobosannya, diharapkan dia juga dapat melakukan hal yang sama atas Freeport Indonesia. Dimana kita sebagai pemilik saham minoritas, harus berbalik menjadi mayoritas. Apakah peran Jonan hanya "sebatas" itu?

Dan satu hal lagi yang jarang diketahui publik adalah Jonan memiliki akses untuk melobi Vatikan. Lantas, apa hubungannya? Diakui atau tidak, Vatikan juga memiliki pengaruh yang kuat terhadap Kongres Amerika sampai The Fed. Kekuatan yang dikenal sebagai Jaringan Jesuit dibawah kendali Vatikan inilah yang mampu menandingi hegemoni kelompok Elit Yahudi. Dan harus diakui, "Perang Freeport" adalah perang yang tidak bisa kita hadapi sendiri. Karena disitu juga ada perang lobi yang melibatkan jaringan Elit Global. Jadi sangatlah naif jika ada politisi yang menganalogikan Perang Freeport sebagai Rumah Kontrakan. Karena selama ini Gunung Emas Papua telah menjadi salah satu kolateral The Fed melalui Freeport Mc MoRan.

Kini, tinggal menghitung hari Ahok akan bebas dari penjara. Misinya sebagai decoy juga sudah selesai. Peran Anies sebagai "Tuan Pengganti" kelompok Politik Identitas untuk memberikan efek jera juga cukup berhasil dilakukan. Prabowo sebagai "Timses" Jokowi dengan berbagai blunder politiknya juga semakin efektif mendongkrak elektabilitas Jokowi. Nah, ketika berdasarkan hitungan diatas kertas Jokowi bisa dipastikan terpilih kembali, kenapa dia mengambil langkah yang tidak populer dimata pendukungnya? Yaitu membebaskan Ustadz Abu Bakar Ba'asyir dari penjara?

Biarlah Jokowi mengambil keputusan ini atas dasar Kemanusiaan. Namun jika isu ini ditarik-tarik masuk ke ranah politis, bisa jadi ini bukan tentang Jokowi. Mungkin untuk seseorang yang tak mau dipanggil Ahok lagi. Sesuatu yang besar telah dipersiapkan untuk BTP. Ya, bisa jadi! Itulah juga kenapa saya menunda mengunggah tulisan (memori) ini. Karena saya menunggu isu Ba'asyir mulai muncul ke permukaan. Itupun juga bisikan dan saran dari #SILIT. Bisa benar bisa juga salah!

*FAZ*
#SILIT

Sumber : Status Facebook Fadly Abu Zayyan

 

Sunday, January 20, 2019 - 14:15
Kategori Rubrik: