Mama Papua

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Apa arti nama 'Irian' ?

Kata banyak orang 'Ikut Republik Indonesia Anti Nederland'. Ndak salah memang. Bung Karno dikenal sangat piawai mainkan dan gelorakan semangat orang. Kata itu 'diplintir' dalam arti positip. Saat itu sedang rame2nya operasi 'Trikora' untuk 'mengembalikan' Papua ke pangkuan Indonesia.

Arti sesungguhnya, setidaknya menurut Frans Kaiseipo, adalah 'panas', yang diambil oleh para pelaut pulau Biak ketika berlayar menuju pulau Papua.

Mereka berharap panas sinar matahari bisa melenyapkan kabut yang selimuti daratan. Jadi, tambah beliau, Irian juga bisa punya arti 'sinar' yang mengusir kegelapan . . .

Nama 'Papua' sendiri berasal dari orang Tidore Maluku, 'papa-Ua', tidak bersatu. Mungkin punya arti tidak termasuk wilayah kesultanan, Tidore. Ada yang sebut juga artinya 'keriting', berasal dari bahasa Melayu. Merujuk tampilan rata2 rambut warga Papua yang keriting. Ada warga yang tersinggung, ada pula yang biasa2 saja. Ada pula mungkin yang suka. Toh akhir-nya 'julukan' Papua jadi nama pulau terbesar ke dua atau ketiga di dunia ini . . .

Franz Kaisiepo ini Pahlawan Nasional yang lahir di Pulau Biak. Wajahnya bisa dilihat pada mata uang kertas RI pecahan Sepuluh Ribu-an.

Gunung-gunung 
Lembah-lembah yang penuh misteri
Kan ku puja selalu
Keindahan alam mu yang mempesona
Sungai mu deras mengalirkan emas
Syo . . . Ya Tuhan terima kasih . . . 

Tepuk tangan bergema usai Isac, mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta di Surabaya asal Papua, alunkan refrein lagu 'Tanah Papua', karya Yance Rumbino.

Hari itu perwakilan pemuda Papua ketemu Tri Rismaharini, Walikota Surabaya. Di tengah acara, si Isac ini didapuk untuk nyanyi. Kepala Humas Pemkot Surabaya Fikser Mora yang infokan Isac punya suara merdu.

Sebelumnya Isac menyampaikan kesulitan biaya kuliah yang selama ini diupayakan sendiri. Lalu Bu Risma janjikan beasiswa. Isac, pemuda Nabire, ini pernah ikut kompetisi nyanyi 'Indonesian Idol', sebagai wakil Surabaya. Kalah. Karena ndak punya KTP Surabaya . . .

"Salahmu sendiri kamu nggak ngomong. Diem saja" kata Bu Risma ditimpali tawa yang hadir. "Tapi kalau kamu menang, orang Nabire marahi aku. Dikira mbajak kamu" sambungnya lagi.

Risma, Walikota Surabaya, memang dikenal akrab dengan warga Papua disana. Saat listrik dan air asrama Papua di Surabaya terbelit masalah, segera disuruhnya benahi.

Banyak 'mama-mama' Papua yang berkunjung ke Surabaya untuk belajar berdagang dan UMKM. Kabag Humas Pemkot asal Papua. Ada lagi 2 camat dan staf, asal Papua juga. Tak heran jika Bu Risma dijuluki Mama Papua . . .

Jadi tak heran jika beliau katakan, "Tak ada itu, kami lakukan 'dengan sengaja' pengusiran Mahasiswa Papua di Surabaya" kata Risma. Tangkis isu tersebut. Namun tak urung Risma pun tak segan, tak malu, penuh semangat mengayomi, 'minta maaf'. Itu memang kesalahan kami . . .

Harusnya selesai sampai disitu . . .

Ada 'Mama Papua' lain.

Teriakan mengejek lecehkan, 'Monyet !', membakar hati warga Papua dan Papua Barat. Baik yang masih mukim disana ataupun yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Demo rusuh pun terjadi. Termasuk di Fak-fak Papua Barat.

Viral 'Mama Papua' yang kibar dan cium sang Dwi Warna, Merah-Putih, ditengah blokade jalan, membuat saya tergelitik. Cari sumber berita 'asli'nya. Akun FB Muhammad Andry Rifai Ali.

Pagi tadi saya buka, tayangan video you tube itu, membuat hati tersentuh tergetar. Air mata mengalir. Entah karena bangga atau apa.

Seorang ibu hanya pakai celana pendek dan kaos oblong, berdiri tegap 'menantang'. Teriak 'heroik' suarakan kata hatinya. Di tangannya tergenggam sebatang tongkat. Selembar kain berwarna 'Gula-Kelapa', sang saka Merah Putih. Bersih. Tak kusam lusuh dan robek2 pinggirnya seperti banyak bendera orang2 kota. Yang bahkan mungkin tak punya. Dikibar-kibarkan, disilangkan depan dada, lalu diciumnya. Gagah sekali.

Karena kita orang kampung Tanama
Orang Merah Putih
Kita pu nenek moyang
Berusaha untuk ini.
Negara Merah Putih
Jadi harus merdeka
Merdeka . . . !

Saya tidak bisa menangkap semua apa yang 'Mama Papua' ini teriakkan. Tapi digabung dengan aksinya yang gagah, sudah cukup bisa menggetar gelorakan rasa nasionalisme dan patriotisme saya. Kado 'Agustus-an' yang indah . . .

Pagi ini memang saya sedang diberi contoh, ada cara yang sederhana dan spontan untuk 'menghibur' hati 'Ibu yang sedang lara'. Ketika negeri ini coba dikoyak jadi serpihan yang tak punya harga.

Mungkin tidak gagah garang seperti Singa Betina yang lindungi anak2 nya dari ancaman bahaya. Wajar saja. Karena Induk Singa ber-tubuh besar lagi kokoh memang.

Mama Papua dari kampung Tanama, Fakfak, ini justru lebih nampak anggun gagah sekaligus menyentuh kalbu hati. Layaknya Induk Ayam dengan tubuh yang cuma sekepalan tangan, lindungi 'buah hati'nya, anak2nya, tanah tumpah darahnya, berusaha tampak tegar besar. Kembang mekar-kan sayap.

Jadi nampak terlihat gagah seperti burung dewa, Garuda. Tapi juga anggun seperti Cendrawasih, dewi para burung . . .

Betul, Mama Papua !
Setuju, Mama Papua ! 
Please, Mama Papua !

Biarkan 'kami' berlindung di balik mekar tegar-nya sayapmu. Kami, anak2mu, sedang di bakar. Di Adu domba. Kami ditunggu saling perang, lalu roboh bersama, teronggok jadi mayat.

Lalu mereka datang menjarah-rayah harta milik kita. Berdiri dan berpesta diatas tumpukan mayat kami.

Siapa penjarah dan perusuh 'sesungguh'nya kita sudah sama2 tahu . . .

Ayo Mama Papua !
Kita tunjukkan kita bangsa yang Satu Teguh
Yang sedang 'merangkak' naik, untuk kembali jadi bangsa yang Besar.
Dan percaya kita bisa dan mampu !

Ayo Mama Papua !
Bersama kita lawan mereka !

Jika kamu lelah, tak apa biar kami yang ada di depan. Tapi jangan biarkan kami sendiri. Doa mu yang mengalir dari belakang, kami harap pasti tak pernah lelah menguatkan punggung dan hati nyali kami . . .

Ayo Mama Papua !
Kita kibarkan Merah Putih-kita !

#CintaPapua

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Monday, September 2, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: