Makna Kunjungan Kapolri Idham Aziz ke KPK, Gencet Novel Baswedan?

ilustrasi

Oleh : Arifin Siregar

Kunjungan Kapolri Jenderal Idham Aziz ke KPK mengejutkan banyak pihak. Gagal paham bahkan. Yang muncul di permukaan adalah sinergitas kerjasama Polri dengan KPK. Namun di balik itu sejatinya ada makna yang sangat mencengangkan. Ini terkait dengan internal KPK yang mulai kedodoran. Berantakan saling serang.

Febri Diansyah kini diam seribu bahasa. Tidak lagi menjadi kompor kebakaran. Novel Baswedan pemilik Negara dalam Negara KPK pun hendak hengkang dari KPK. Wadah Pegawai KPK dengan Yudi-nya tidak bersuara. Ini semua akibat dari terjangan badai media dan media sosial yang gencar.

KPK hanya diwakili oleh Tempo dan ICW, mahasiswa, kelompok HTI dan khilafah di kampus – yang dipakai oleh KPK untuk menggerakkan para mahasiswa yang sudah terpapar radikalisme. Akhirnya jualan para oknum minoritas di KPK, kaum Taliban gagal total.

Demo-demo kaum gelandangan khilafah dan HTI yang menunggangi para mahasiswa yang digalang untuk mendeskreditkan Jokowi, mengadu domba TNI-Polri, memfitnah aparat keamanan, gagal membangun opini. Rakyat yang masih waras sadar bahwa mereka adalah golongan yang anti Pancasila. Ingin Indonesia hancur.

Pimpinan KPK kini mulai sadar. Bahwa sesungguhnya mereka salama ini dikerjai oleh Novel Baswedan. Novel adalah duri dalam daging KPK.

Bangunan kekuasaan yang dia bangun di KPK, dari lini Pengaduan, Data, dan Penyidikan – dengan beberapa gelintir oknum Taliban – telah merusak KPK. Pimpinan KPK yang hendak hengkang pun bersih-bersih.

Para pimpinan KPK ini adalah korban dari Novel Baswedan, Bambang Widjojanto dan Abraham Samad. Terakhir dengan konstelasi perang yang hebat – ketika Novel telah merasa menang – dia hengkang dari Polri.

Dia merasa sudah kuat di bawah koordinasi lintas ruang. Bahkan ketika 1.5 tahun menjelang Pilpres 2019, KPK dengan Novel-nya (yang menguasai Pengaduan, Data, dan Penyidikan) memainkan kartu dengan semakin banyaknya pejabat pro koalisi Jokowi dicokok. Contohnya Rommy PPP dengan uang recehnya.

Informasi A-1, beberapa bulan ini KPK dengan Novel-nya tengah mempersiapkan 28 calon pesakitan KPK yang sudah dibidik yang hampir 100 persen dari kelompok pendukung Jokowi. Namun karena telanjur serangan dan gerakan perlawanan di dalam KPK menjadi liar, terdapat mosi tidak percaya kepada Yudi dan Novel Baswedan.

Mayoritas pegawai KPK kini marah besar kepada Novel, Yudi dan sekitaran 30 orang pengikut setia - yang secara cerdas mereka membangun Negara dalam Negara dengan menguasai lini Pengaduan, Data, dan Penyidikan. Dengan menguasai ketiganya maka bebaslah mereka memilih-milih kasus sesuasi dengan keinginan mereka.

Para pegawai KPK yang terkait Novel pun jengah kini. Mereka yang terpaksa mendukung Novel kini berbalik mendukung revisi UU KPK. Tidak perlu Perppu KPK.

Hebatnya, Firli Bahuri yang memang orang dalam KPK – menenangkan para pegawai KPK bahwa hanya orang seperti Novel yang akan disingkirkan begitu Pimpinan KPK yang baru dilantik bulan depan. Mayoritas karyawan akan bekerja. Bahkan Yudi pun akan diampuni oleh Firli Bahuri karena ketololannya menjadi alat bagi Novel Baswedan.

Melihat gelagat seperti itu, para Pimpinan KPK pun sadar bahwa mereka harus bersih-bersih. Setelah selama 4 tahun praktis mereka dijepit oleh kelompok Novel Baswedan. Membela Novel Baswedan bagi Pimpinan KPK sekarang adalah hal yang tidak bermanfaat. Itulah alasan Pimpinan KPK bertemu dengan Idham Aziz. Top.

Begitu pimpinan KPK baru dilantik, maka Novel Baswedan praktis akan disingkirkan. Maka dia koar-koar akan keluar dari KPK. Maka Polri dan Imigrasi harus sigap mencegah Novel Baswedan kabur dari Indonesia menuju Arab Saudi untuk meminum air kencing unta yang dia mungkin yakini sebagai obat kuat.

KPK dipastikan akan menyidik kasus Anies Baswedan terkait kasus Pameran Buku di Jerman semasa dia menjadi Menteri Pendidikan, hingga dipecat oleh Jokowi. Kasus itu tidak diproses karena Novel adalah penguasa di KPK. Pimpinan KPK? Hanya menerima laporan dari kedeputian yang ketiganya sudah dikuasai oleh Novel.

Nah, demi kemashlahatan dan kehormatan orang yang tidak bersalah. Jenderal Idham Aziz pun merangkul Pimpinan KPK yang sebentar lagi lengser. Itulah jiwa besar Kapolri. Memberi ruang sinergi (maaf) dan bersih-bersih sekaligus menonton Novel hilang dari KPK. Dan, Anies Baswedan pun akan menjadi pesakitan di KPK, semoga.

Sumber : Status Facebook Arifin Siregar

 

Thursday, November 7, 2019 - 10:45
Kategori Rubrik: