Makna dibalik Statemen Rasis Gubernur DKI Baru Anies

Ilustrasi

Oleh : Eyang Judiarso

Anies Baswedan, gubernur DKI yg baru dilantik bilang, Saatnya pribumi jadi tuan rumah di negeri sendiri, pdhl dia keturunan Arab yg otomatis sulit dibilang pribumi asli. Kesannya seperti seolah2 ada gubernur non pribumi yg membela kepentingan pribumi. Orang yg pribumi bisa saja merasa terhibur dgn statemen Anies tsb. Tapi ada sejumlah logika pemahaman yg perlu dicermati dari statemen rasis tsb, antara lain :

1. Anies belum bekerja sdh mengklaim diri seolah2 nantinya akan konsisten membela kepentingan pribumi. Statemen bernada sombong begini sbnrnya riskan sekali menyerang dirinya sendiri kelak. Bgmn tidak? Implementasinya saja sulit (contohnya program DP 0% yg ternyata tdk setiap rakyat kecil berhak menikmatinya akibat ada syarat baru yg disusulkan setelah pencoblosan), mustinya tdk sesumbar. Kalau nanti kinerja dia tdk bs memuaskan para pribumi, tentu yg pribumi akan merasa kecewa berat krn merasa diberi janji kosong. Anies sendirilah yg akan menanggung ucapan tdk perlunya itu.

2. Kinerja Ahok dinilai masyarakat DKI sdh bagus. Buktinya di balai kota dibuka layanan pengaduan masyarakat DKI terkait mslh kependudukan. Warga DKI datang dgn antusias. Maknanya bkn banyak yg datang karena banyak masalah di DKI krn di provinsi lain juga banyak mslh kependudukan, tapi warga datang karena yakin pengaduannya akan dicarikan solusi. Ahok masuk penjara juga tetap mendpt banyak karangan bunga ucapan terima kasih dari masyarakat. Melihat rival politiknya itu, sptnya Anies smkn tdk optimis akan bisa menyaingi prestasi Ahok shg dia merasa perlu memperbanyak manuver politik retorika yg kali ini untuk mengambil hati orang2 yg pribumi, sekalipun baru sebatas statemen yg blm ada buktinya apa2. Manuver politik yg sebelumnya adalah menarik simpati rakyat kecil dgn janji kampanye menolak reklamasi dan menarik simpati umat islam dgn ceramah2 sara lewat bantuan sejumlah tokoh2 agama dgn demo bela islam berjilid2. Jika kali ini Anies mencoba mengambil hati pribumi, tujuannya bs macam2, yg paling masuk akal adalah jika pasangan ASU (Anies- Sandiaga Uno) gagal menjalankan amanah, masyarakat pribumi yg sdh terlanjur mengidolakan pasangan tsb tdk akan merasa kecewa berat. Kan sdh biasa politikus kalau ada masalah lalu menyalahkan pihak lain. Tinggal masyarakatnya mau percaya atau tidak dgn dalih2 politikus tsb. Biasanya sih kalau sdh kadung diidolakan, gagal atau tdk melaksanakan janji politik tdk jadi masalah. Kan bisa menyalahkan pihak lain. Tapi di DKI yg tingkat kesulitan menjadi pemimpin amanah sangat tinggi dan tingkat persaingan hidup lumayan tinggi, resiko dijauhi pendukungnya jika tdk berhasil bekerja amanah juga tdk kecil. Pendukung setia juga butuh birokrasi yg lancar dan tdk berbiaya tinggi. Banjir, macet, korupsi dll akan jadi masalah jika tdk ditangani dgn baik. Smkn buruk penangannya, smkn tinggi resiko pemimpin dijauhi penggemar. Kalau Anies tdk hati2 dan serius bekerja, bisa2 malah muncul fenomena "kangen Ahok".

3. Anies diberhentikan dari jabatannya sbg menteri pendidikan oleh pak Jokowi, lalu dia merapat ke kubu rival politik pak Jokowi. Sepertinya Anies masih menyimpan dendam karena pemberhentiannya sbg menteri tdk membuat dia dianggap masyarakat sbg menteri yg berprestasi. Lalu dia bersama kubu rival pak Jokowi mencoba menggiring image publik bahwa pak Jokowi tdk pro terhadap pribumi dgn membawa2 issue non pribumi cina. Apalagi Ahok yg rival politik Anies dikenal masyarakat dekat dengan pak Jokowi. Keberhasilan kubu Anies menyingkirkan Ahok dr persaingan pilgub DKI tdk lepas dari penggorengan issue rasis dan beda agama. Persaingan macam ini sbnrnya sangat tidak sehat. Orang yg lebih baik kapabilitas dan integritasnya menjadi pemimpin akan mudah disingkirkan oleh orang yg licik muslihat politiknya. Jika fenomena ini dibiarkan berkembang, yg rugi terutama masyarakat yg dipimpin krn kesulitan mendapat pemimpin yg terbaik dan benar2 berprestasi. Kenapa Anies nekat begini? Jawabannya adalah pertanyaan juga. Prestasi apa dari Anies yg bisa diadu dengan prestasi2 Ahok dlm memimpin rakyat sipil? Sehebat apa smgt antikorupsi Anies yg bs dibuktikan yg membuat dia bs diklaim antikorupsi dan lebih baik drpd Ahok? Dalam politik, orang yg tdk punya modal prestasi berusaha menang dgn cara mencari2 kelemahan lawan lalu menjanjikan tdk akan begitu itu biasa. Tapi fakta menunjukkan bahwa gagal memimpin karena diciduk KPK akibat tersangkut korupsi juga biasa. Muncullah pertanyaan yg klise, "Kalau ada pemimpin yg jelas bagus kinerjanya, kenapa pilih yg tdk jelas?"

4. Bagus tidaknya seorang gubernur menjalankan amanahnya itu tdk diukur dari smkn rasis atau tdknya dia melainkan catatan2 sejarah ttg prestasi apa sj yg bisa dia wariskan kpd provinsinya kalau sdh tidak menjabat. Rasis justru menggambarkan kualitas buruk seorang pemimpin daerah krn yg dia pimpin dan hrs diayomi bukan cm yg masyarakat yg pribumi melainkan yg non pribumi juga. Apalagi dia bersekutu dengan politikus2 lain yg non pribumi juga spt Hary Tanoe, habib Rizieq, dll, bahkan dirinya sendiri bukan pribumi asli. Tidak mungkin dia bisa konsisten membela kepentingan pribumi di atas kepentingan non pribumi. Atau bahkan dia hendak memunculkan persepsi bahwa selama ini pribumi dijajah non pribumi krn itu sama saja menyerang diri dan etnisnya sendiri yg jelas bkn pribumi. Apakah Anies bermaksud menyerang etnis keturunan cina? Kalau iya, mustinya dia tdk bersekutu dengan Hary Tanoe (keturunan cina) yg sdh dimaki2 Rizieq pake kata2 gantung Hary Tanoe. Saya rasa ucapan Anies terkait pribumi jadi tuan rumah di negeri sendiri cuma ucapan kosong yg tdk ada maknanya apa2, bahkan mengandung kenaifan yg dalam krn tdk sesuai dengan falsafah bhinneka tunggal ika, berbeda2 tetapi tetap satu jua. Susah berharap pemimpin rasis model begini bs berlaku adil thd setiap warganya atau membantu merekatkan persatuan di bumi NKRI. Besar kemungkinan malah sebaliknya.

Sumber : Status Facebook Eyang Judiarso

Wednesday, October 18, 2017 - 21:30
Kategori Rubrik: