Makhluk Segala Simbol

Ilustrasi

Oleh : Soehadha Moh Abni

Kami Manusia Super Simbolis (mohon tidak dibaca saat anda berkendara)
Kalau filsuf Ernst Casirer bilang manusia adalah makluk simbolis (animal simbolicum), maka orang Jawa adalah makhluk super simbolis. Orang tua saya menyebutnya dengan ungkapan "wong Jawa panggonane semu", orang Jawa tempatnya yang samar.

Taruhlah saat ramadhan; dari persiapan sampai hari raya, semua pelajaran dan tuntunan syariat ditampilkan habis-habisan dg perilaku simbolis, seperti; nyadran, padusan, kenduren malem selikuran, bha'da kupat, mudik, sungkeman, dst. 

Jika anda tidak alergi menyimak; perilaku elit politik yg dominan adalah orang Jawa, juga penuh dengan simbol. Dan itu sudah terjadi jauh sejak masa pra-Islam, yg terus diabsorsi masa Islam hingga kini. Kita ingat bagaimana Panembahan Senopati dibawah penasehat ulung yg sudah momong beliau sejak kecil, dicitrakan sebagai sosok penakluk Penguasa Laut Selatan yg cantik jelita. Dan hal itu mampu mendongkrak "elektabilitas" perintis Mataram Islam saat itu, bahkan terus berlanjut sampai kini. Padahal kita juga tidak tahu, apakah saat itu Kanjeng Panembahan Senopati bisa berenang dan snorkling atau tidak?
Anda juga boleh melihat perilaku elit politik sekarang yang tentu mengandalkan pencitraan untuk mendongkrak habis elektabilitas.

Mari berandai-andai, jika Jean Baudrillard yg punya konsep keren; simulasi, simulakra, dan hiperrealitas itu pernah mampir ke Plawikan-Klaten dan sempat diskusi dengan saya, dia akan merubah teorinya itu. Bahwa di Jawa, konsep itu sudah jauh ada pada zaman pra Islam, bukan melulu di zaman Industrial yg berkembag budaya konsumen.

Pun demikian dengan konsep Post-Truth dari Ralph Keyes, akan direvisi sedikit setelah diskusi dengan saya dan mampir beberapa hari di Somodaran-Kalasan. Mungkin ia akan mengatakan bahwa era Pasca Kebenaran itu, di Jawa sudah ada sejak nenek moyang, bahkan jauh hari sebelum Deandeles bekerja keras menghubungkan pusat-pusat ekonomi di pedesaan Jawa dengan membangun jalan tol. Sehingga Post-Truth di Jawa bukan dominan di era informasi pos-industrial.

Namun Jawa juga selalu unik, sifat simbolis atau yg samar itu juga tidak melulu ada pada diri setiap orang. Satu dari lima Pandhawa, yaitu werkudara bukanlah orang yang suka bermain simbol, dan itu menurun pada cucunya yg bernama Wisanggeni. Ia adalah orang yg suka berterus terang, sehingga tidak bisa berbahasa halus Kromo Inggil.

Yang suka bermain simbol pun sebenarnya akan terlihat watak aslinya, yaitu ketika batas kesabaran telah hilang. Dalam kondisi itu ia akan suka mengajak atau "menantang" berterus terang, buka-bukaan. Ini dalam ungkapan Jawa disebut "blak kotang", blak artinya membuka, kotang artinya BH. Namun jangan dimaknai tekstual dengan "membuka beha". Maknanya adalah mari berterus terang, kita buka isi di dada, buka hati kita. 

Sumber : Status Facebool Soehadha Moh Abni

Wednesday, June 13, 2018 - 19:00
Kategori Rubrik: