Makar

Oleh: Tomi Lebang
 

Delapan tokoh ditangkap polisi, Jumat pagi, menjelang unjuk rasa super damai di ibukota. Belum terang benar masalahnya, tapi dari kepingan-kepingan kabar yang berseliweran, kita menangkap satu benang merahnya: tudingan rencana makar dan permufakatan jahat. Sudah berhari-hari kata ini mendengung di kuping, seperti lalat yang mengendus aroma upil dan tak pergi-pergi.

Orang-orang ini sedari dulu tak pernah ramah berbicara tentang Presiden Joko Widodo. Bahkan di sebuah orasi yang beredar luas, kita tahu Ahmad Dhani menderetkan nama Jokowi dalam satu kalimat bersama hewan anjing dan babi. Massa bersorak-sorai, leher sang selebritis meregang jumawa. Sang calon wakil bupati Bekasi ini dielu-elukan.

Wajah Presiden Jokowi terbayang di benak saya, bersama pertanyaan yang menanti jawaban: di manakah batas kesabaran? Selapang apatah gerangan hati orang Solo ini saat ia dihina begitu rupa?

Bahkan seusai penangkapan – tepatnya jemput paksa – oleh polisi, pagi tadi, pertanyaan itu belumlah terjawab. Bisa saja, Ahmad Dhani dilepas seusai menjawab sebelas dua belas pertanyaan lalu kembali ke rumah, berkumpul dengan anak istri, dan di perbincangan dunia maya menjadi pahlawan.

Ratna Sarumpaet, Kivlan Zein, Rachmawati Soekarno, Sri Bintang Pamungkas, dan lain-lain. Mereka hanya sederet nama besar yang terang-terangan tak pernah bisa berbicara lebih santun tentang seorang kepala negara.

Mereka sungguh beruntung tidak hidup di Thailand. Di sana, undang-undang Lese Majeste semenjak tahun 1908 tak memberi ruang sedikit pun pada seseorang yang “merusak nama baik, menghina, atau mengancam raja, ratu, putra mahkota, atau bangsawan”. Di sanalah, pada 2007, lelaki Swedia, Oliver Jufer dipenjara selama 10 tahun setelah dalam keadaan mabuk mencoret poster Raja Bhumibol Adulyadej dengan cat semprot. Di sana pula, seorang kakek dihukum 20 tahun penjara karena mengirim pesan singkat SMS menghina Ratu Sirikit.

Bahkan lelaki pekerja pabrik bernama Thanakorn Siripaiboon diadili serius dengan ancaman 37 tahun penjara gara-gara menyindir Tongdaeng. Anda tahu siapa Tongdaeng? Anjing peliharaan Raja Bhumibol.

Ahmad Dhani dkk beruntung tak hidup di Turki. Satu gerakan kelompok kecil di militer saja, puluhan ribu orang diberangus nasibnya: dipenjara dan dipecat dari pekerjaan. Tangan besi Presiden Tayyep Erdogan – lelaki yang begitu dipuja sebagian orang di negeri ini – sungguh tak memberi ruang sedikit pun, bahkan sekadar isyarat untuk melawan penguasa. Seorang dara jelita, bekas Ratu Kecantikan Turki, Merve Buyucsarac, ditangkap dan diajukan ke pengadilan gara-gara sebuah puisi satire yang ditayangkannya di Instagram, dan dianggap menghina Erdogan.

Saya percaya, Jokowi seorang yang pemaaf. Ia pernah memaafkan seorang yang telah menghina dirinya dengan meme yang melewati batas, seorang lelaki yang belakangan ditangkap karena phedofilia. Jokowi selalu memaafkan setiap serangan personal.

Jika tak terbukti merencanakan makar, Ahmad Dhani dkk tentu akan kembali ke rumah. Lalu kembali bebas mencaci-maki Jokowi. Hinaan tanpa unsur kritikan sama sekali.

Mungkin karena itu, sampai sekarang pun saya selalu menyisakan pertanyaan: di manakah gerangan batas kesabaran?

 

(Sumber: Status Facebook Tomi Lebang)

Friday, December 2, 2016 - 23:30
Kategori Rubrik: