Majapahit (bukan) Kerajaan Islam

Oleh : Jajang Agus Sonjaya

Saya merasa terpanggil, seperti kena sihir aneh, oleh leluhur Gaj Ahmada (Gajah Ahmada) yang namanya menjadi viral--bahkan jadi bahan olok-olok. Setelah saya telusur, hal itu adalah respon publik atas tulisan Herman Sinung Janutama berjudul Majapahit Kerajaan Islam dengan label merah dalam kotak FAKTA MENGEJUTKAN. Setidaknya ada enam fakta yang diungkapkan dalam buku itu. Pertama, penemuan koin Majapahit bertuliskan syahadat. Koin ini ada empat buah menjadi koleksi Museum Nasional (Mas Herman juga katanya melihat koin emas di Museum Trowulan, dan menggali informasi dari penjaga). Kedua, nisan Sunan Maulana Malik Ibrahim yang menyebutkan bahwa dirinya merupakan Qadhi (hakim agama Islam) Kerajaan Majapahi. Ketiga, lambang Majapahit berupa matahari dengan tulisan Arab. Keempat, Raden Wijaya adalah seorang muslim. Kelima, nama Gajah Mada disebut sebagai Gaj Ahmada atau Syaikh Mada. Keenam, peristiwa eksodus besar-besaran warga muslim Baghdad ke Nusantara setelah diserang tentara Mongol pada tahun 1293. Mas Herman tentu saja memiliki fakta dan argumen lebih lengkap dari seri ringkas ini sebab bukunya yang 150 halaman adalah reduksi penerbit dari draft 300-an halaman (detiknews).

Saya salut pada Mas Herman dan tim yang telah berjerih payah menulis Majapahit dari sudut pandang keyakinan tradisi Jawa, jauh melampaui para arkeolog yang sudah lama menggeluti Majapahit tetapi sangat sedikit melahirkan tulisan ilmiah populer yang enak dibaca dan bisa mencerdaskan masyarakat. Di antara yang sedikit itu, tanpa bermaksud meniadakan yang lain, ada buku menarik tulisan Pak Agus Aris Munandar berjudul Keistimewaan Candi-candi Zaman Majapahit. Juga ada buku serial Candi-candi Majapahit ditulis secara populer untuk bacaan anak-anak. Penulisnya arkeolog yang bukan bekerja di institusi arkeologi, hormat saya untuk Mas Daniel Agus Maryanto. Bukunya tentang Seri Jawa Timur (Majapahit) dan Jawa Tengah sudah habis dilahap anak saya yang waktu itu masih kelas 5 SD. Juga ada tulisan Nurhadi Rangkuti di Intisari berjudul Menggali Candi, Temukan Naga. Semua fakta yang dipaparkan dalam buku itu jelas menunjuk Majapahit bercorak Hindu. Saya tulis "bercorak" sebab saya belum menemukan bukti dalam kitab atau prasasti tentang klaim bahwa Majapahit adalah Kerajaan Hindu. Bercorak merujuk pada beberapa penanda kuat, antara lain jejak-jejak berupa naskah kuno, prasasti, bangunan suci, arca, tata kota yang sinkron dengan kosmologi Hindu. Menurut Ririet Kartawijaya, arkeolog yang bekerja di BPCB Samarinda, Prasasti Majapahit pada bagian pembuka dan penutup biasanya menyebut dewa-dewa Hindu dan Budha. Meski penanda Hindu lebih dominan, tetapi keberadaan Budha di Majapahit pun perlu diperhitungkan. Konon, dalam satu waktu dan ruang yang sama, di sini pernah berkembang Shiwa-Budha.

Berdasarkan pengalaman saya terlibat dalam beberapa proyek konservasi di Trowulan dan penulisan buku Masyarakat Jawa dalam Keseharian bersama Prof. Dr. Sumijati Atmosudiro dan Drs. PH. Subroto, M. Sc, saya meyakini bahwa Majapahit bercorak Islam—eh Hindu. Candi-candi di Trowulan, dari bentuk, arca, relief, dan ornamen jelas Hindu. Jadi, enam fakta yang ditunjukkan Mas Herman terlalu kecil untuk mengklaim Majapahit sebagai kerajaan Islam, kecuali Mas Herman dan para arkeolog menemukan jejak Masjid Agung di Trowulan dari abad ke-13. Kalaupun kita menemukan Masjid Agung, kita tidak serta merta bisa mengklaim Majapahit sebagai kerajaan Islam. Ada banyak komponen sebagai penanda kota/kerajaan Islam. Jadi, klaim sebuah kerajaan itu Islam atau bukan, tidak cukup dengan koin, nama, dan nisan semata. Jika 700 tahun yang akan datang kita menemukan salah satu nama mentri Negara Indonesia I Made...., apakah lantas kita bisa mengklaim Indonesia pada Abad ke-21 adalah Negara Hindu? Faktanya Indonesia abad ke-21 bukan pula negara Islam meski para pemimpin dan penduduknya mayoritas muslim dan masjid besar tersebar di mana-mana.

Tentang Gajah Mada yang dianalisis secara kebahasaan berasal dari Gajah Ahmada yang lalu menjadi viral Gaj Ahmada, saya tidak bisa komentar, sebab sudut pandangnya berbeda, bukan masuk ranah arkeologi. Namun tidak bisa dipungkiri, di antara penduduk dan pemimpin Majapahit sudah ada yang muslim, termasuk (barangkali) Patih Gadjah Mada. Perdagangan antara Jazirah Arab dengan Nusantara diperkirakan sudah ada sejak awal Masehi. Bukti-bukti arkeologi baru dijumpai berasal dari abad ke-11 sampai ke-13 M, antara lain ada di Troloyo.

Koin mata uang bertuliskan Arab, perlu kita kritisi. Artefak itu terlalu kecil, mudah bergerak, hingga sudah lepas dari konteks. Waktu yang ditulis dalam caption koleksi Museum Nasional pun rentangnya jauh, yaitu abad ke-13 sampai ke-18. Masih terlalu terbuka pada berbagai tafsir. Orang Islam-jawa gemar menuliskan huruf arab pada kain, kulit, logam, dan bahan lain untuk jimat. Bisa jadi koin itu bukan untuk alat tukar (sebagai penanda kerajaan), melainkan jimat--terlebih di balik lain koin ada figur wayang (seperti figur Semar yang banyak dipuja penganut Kejawen).

Sejarah tergantung pada siapa yang menulis. Penulis dipengaruhi ideologi, pengetahuan, dan pengalamannya--terkadang siapa yang mempekerjakannya. Kebetulan hari ini saya bekerja untuk diri sendiri.

-----

Monggo guru-guru dan sahabat-sahabat saya yang ahli arkeologi klasik, turut berbagi di sini: Prof. Mundardjito Otti, pak Nurhadi Rangkuti mbak Ania Nugrahani, mas Andi Putranto. Terima kasih untuk Sultan Kurnia AB yang sudah memantik saya menulis ini, semoga bisa mengisi tong kosong yang nyaring bunyinya.

Sumber : facebook Jajang

Monday, June 19, 2017 - 07:30
Kategori Rubrik: