Main di Dua Kaki

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Seperti biasa manuvernya selalu kebaca. Kadang pura-pura, kadang terang-tarangan, kadang juga kekiri-kirian.

PERPPU ORMAS, memanas dan membuat sebagian tidak puas karena mainannya kandas. Kelompok yg cenderung radikal dan dangkal akal, berseliweran bak laron jelmaan rayap.Tumbuh subur diera SBY sempat show of force di GBK tahun 2013 seolah eksistensi dirinya mendapat restu dewa, bahwa Khilafah bisa mengganti pancasila dan Indonesia akan dienyahkan dari bumi nusantara. Mereka lupa Indonesia ada dari perjuangan panjang, aliran darah pahlawan tidak bisa ditukar dengan selogan yang dihadirkan dengan surga yang seolah di depan mata namun kenyataannya menuju kesana saja sudah penuh dusta.

 

 

HTI makin menjadi-jadi, FPI beringasnya melebihi singa lapar, semua yg tak sepikiran di hajar seolah mereka pemegang otoritas terbesar bahkan memuncaknya demo 212 designnya adalah makar. Berbagai alasan memutar disajikan dgn cara murah dan kasar, lebaran kuda dan sejenisnya disampaikan seorang mantan yg menjadikannya makin rentan bhw dirinya punya peran atas besarnya sebuah ormas yg kelak bisa memalak negeri yg kita cintai.

Sikap hati-hati namun pasti, bukan peragu dan ambigu, Jokowi menunjukkan kelas sendiri bgmn dia menjaga ibu pertiwi bkn seperti yg lainnya ganas melihatnya, ibu pertiwi dijadikan seperti ibu tiri. Para pengeram ormas haram ini mendadak gagu. Busyro Muqodas akan melakukan judicial review, Sby akan minta pemerintah merevisi, seperti biasa dia gertak pemerintah dan pararel bersayap mengambil serpihan keuntungan utk dirinya.

Kenapa PAN dan Demokrat kelihatan panik, dua partai banci ini selalu main pada dua kaki. Mereka mau menunjukkan bhw mereka menolak PERPPU dan berpihak ke ormas binaannya dimana jumlah suaranya masih mereka harapkan, dgn kenyataan mereka dihujat habis-habisan namun pemilih militan harus dijaga jgn sampai kecewa. Itulah yg membuat mereka seperti diatas jembatan kaca, melihat kebawah mereka gamang, mau jalan lurus kedepan ada keraguan. Satu-satunya jalan mereka harus bersandiwara, menunjukkan kesetiaanya bersama ormas yg dieraminya, agar bisa menyumbang kursi lagi. Kita yg waras harus bergas karena Indonesia masih dalam proses transisi, antara orang berambisi dan Jokowi yg sedang melakukan restorasi.

# Kita ditantang berperan dalam perubahan, atau jadi penonton perubahan dengan tetap berjiwa picisan.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Wednesday, November 1, 2017 - 23:00
Kategori Rubrik: