Mahfud MD, Apa yang Baru

ilustrasi

Oleh : Supriyanto Martosuwito

Sejujurnya saya sudah malas menonton ILC - Indonesia Lawyers Club. Itu talkshow penampungan suara mereka yang frustasi pada pemerintah - karena dipecat dan hilang jabatan - syahwat kekuasan tak kesampaian - atau dalang wayang tak laku, yang ngomongnya bisa ke sana kemari, tergantung siapa yang nanggap - mantan dosen yang "difilsufkan" - sekedar "nyleneh" dan ternyata piaraan keluarga Cendana. Atau ustadz penyabung ayam yang asal mangap dan suka adu domba. Piaraan Cendana juga.

Kita sudah sama sama tahu bahwa pada dasarnya acara ILC akan membahas topik panas apa saja yang berpotensi menyerang dan menyudutkan pemerintah - atas nama demokrasi - sebagai pengalih perhatian induk bisnisnya, Bakrie Grup, yang enggan membayar utang Lapindo dan dugaan keterlibatannya pada skandal Jiwasraya, yang merugikan negara dan nasabah - hingga triliunan rupiah.

Setelah rezim Orba jatuh - jurnalisme paskarefromasi bebas mengritik dan melawan kebijakan pemerintah dan negara - tapi tidak berdaya melawan pemodal dan pemasang iklan. Apalagi pemodal itu membawahi media dan menggaji jurnalis itu.

GARA GARA akun instagram Vera Aoki aktifis pro NKRI - yang bermukim di Jepang - mengutip bagian terakhir dari Menkopolhukham Pak Mahfud MD, saya jadi tertarik. Tentu saja saya hanya menonton bagian itu saja - di Youtube.

Saya hanya mau mendengar apa yang saya dengar ? Ya, memang. Kan hak saya juga untuk dengarin lagu pop romantis ketimbang dangdut koplo? Untuk apa menyiksa diri dengarkan musik koplo yang bikin sakit kuping dan sakit kepala?!

Lagi pula, mudah ditebak juga omongan Rizal Ramli, Gatot Nurmantyo, pakar UGM dan YLBHI yang tempo hari diberitakan ngarep bantuan Gubernur DKI itu? Ya, sudah terukur. Sudah ketebak ke mana haluan dan arahnya.

Naluri kewartawanan yang bertahun tahun melekat - yang Alhamdulillah terawat hingga kini - adalah selalu bertanya, "Apa yang baru ?"

Persis seperti yang disampaikan Pak Mahfud MD di bagian penutup ILC atau "closing statement" itu: Memang apa yang baru yang disampaikan oleh oposan dan KAMI atau siapa saja yang berseberangan dengan pemerintah saat ini?

Pemerintah dituduh anti Pancasila, melenceng dari Pancasila - antek Komunis - pro Kapitalis - pro asing. Oligarki bla .. bla.. bla.. Dari dulu sudah begitu teriakan oposannya. Bahkan disampaikan kepada Bung Karno yang notabene tokoh penggali Pancasila.

Yang baru adalah yang disampaikan oleh pakar hukum tata negara itu. Bahwa orang orang yang merasa hebat di luar pemerintah ketika menduduki jabatan dan kekuasaan akan menyadari keterbatasannya.

Prof. Dr. Amin Rais, yang pernah dinobatkan tokoh reformasi - tak bisa berbuat apa apa ketika jadi Ketua MPR RI, kata Mahfud MD.

Jendral Gatot Nurmantyo yang pernah jadi panglima TNI tak bisa menangkap seorang komunis satu pun. Dan, dalam memori publik, juga tak ada prestasinya juga yang membanggakan di pucuk pimpinan tentara.

Tapi - setelah pensiun mendadak ingin menyelamatkan Indonesia. Membentuk gerakan moral, katanya.

Orang yang ketika jadi panglima TNI sibuk berbisnis senjata dan menambah isteri, bicara moral dan ingin menyelamatkan negara ?!

Demokrasi bukan hanya mendengar suara oposan. Demokrasi juga mendengar pihak pemerintah yang sedang bekerja meyelesaikan masalah bangsa dan negara. Mengurus rakyat.

Kata almarhum Pramodya Ananta Toer, sastrawan, penulis novel 'Bumi Manusia' : "seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan"

"Bersikap adil lah sejak masih dalam pikiran! " kata Pramis, pengikut Pram.

Hal baru yang baru kita ketahui publik saat ini adalah orang orang yang punya kekuasaan pemerintah, setelah turun jabatan kelihatan aslinya : melow, nyinyir, mendendam, dan merasa diri paling patriot.

Gatot Nurmantyo, Rizal Ramli, Said Didu, Refly Harun, bahkan SBY. Kini jadi barisan sakit hati. Tak memperlihatkan aura bahagia, dan selalu menyampaikan pernyataan pernyataan bernuansa kenegatifan, sambil memuji diri sendiri mengenang masa lalu:

"Pada zaman saya berkuasa, ....
"Saat saya memimpin pemerintahan, "Ketika saya menjadi menteri....
"Kalau saya jadi presiden
Bla.. bla .. bla .. bla... ***

Sumber : Status Facebook Supriyanto Martosuwito

Friday, October 23, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: