Mahal

ilustrasi

Oleh : Luna Dan Erna Sutisna

Tanya: Berapa harga kopernya?
Aku: Rp....

Tanya: Kok mahal sih? Kan ini cuma kain dalam negeri, masak mengalahkan buatan luar negeri yang sudah punya merk? Ini kan begitu-begitu saja, lagian ongkos pembuatan tukang lokal dibanding yang sudah profesional beda jauh, mba...

Aku: (tak jawab engga yah? Mikir-mikir dulu, apakah layak menjawab orang yang "mindset sudah disetel luar negeri is the best minded" ini?).

Alhasil, aku menjawab untuk info beliau.

1. Betul kain ini buatan dalam negeri. Dan saking bangganya saya ga lagi beli barang-barang orang luar kalau ke negaranya... kecuali makanan & minuman yang langsung habis di tempat.

2. Tidak mengalahkan luar negeri, tapi langsung meng-KNOCK OUT!!! buatan luar negeri dalam hitungan 2 detik. Bagi pemilik mata dan selera yang sederhana, ga ndakik-ndakik! Asli... barang luar gada apa-apanya, nyonya... dengan barang kami.

3. Betul, buatan luar negeri punya merk karena mereka duluan mendaftarkan ke haki internasional dan namanya sudah dikenal oleh pembelanja dalam negeri yang akan rugi jika sudah keluar negeri tapi tidak beli "oleh-oleh" dari negeri yang dituju. Coba dibalik/direwind mindset kita, siapa yang akan mempromosikan barang buatan tangan yang dilakukan dengan segenap cinta kalau bukan pemiliknya? Sampeyan itu buatan mana, wong hidung yah standar seperti saya loh... Diskusi saya dengan banyak penjual di luar negeri: "Saya senang kalau orang Indonesia yang belanja, mereka kaya-kaya walaupun dari dunia ketiga."
Eaaaa!!!

4. Iyah kainnya memang gitu-gitu ajah. Lah kalau begini begitu nanti sampeyan mbengok/teriak lagi: Kok mahaaal???!!! Lah konsekuensi yang mana yang perlu diikuti, hati nurani sampeyan? Masak standar pemerintah mematok suatu kebijakan berdasar angin berhembus, ga pakai survey, FGD, verifikasi, dsb. Coba kita sendiri yang menenun, boyok bisa encok kan? Atau melorod kain batik, walah bisa-bisa misuh ga karuan. "Sego sak pincuk" makian khas Suroboyo bakal keluar ye, tak?

5. Iyah sama sekali betul, ongkos pekerja Indonesia itu lebih murah dibanding pekerja luar negeri yang standarisasinya per jam. Lah para pekerja kita kalau kerja di sana mengikuti standar di sana juga kan. Ayolah bantu pemerintah, jangan menyalahkan tok agar biaya pekerja lokal di negara sampeyan berpijak ini dihargai. Tapi yah gitu, jangan komplain terus jika nanti harga koper atau kain-kain atau UKM bakal menyamai bahkan lebih standar harganya dari negeri yang sampeyan agung-agungkan itu.

6. Sampeyan minat, bagilah rizki dengan para pedagang dan pembuat kain atau tas atau koper itu. Loh itu namanya manusia yang bermanfaat. Mereka cari untung yah wajar karena punya banyak mulut yang harus dikasih makan dan anak-anak yang wajib bersekolah. Sampeyan sebar uang ke mereka, ada guru sekolah/ngaji yang dapat rizki dari situ, pedagang sayur yang diciprati rizki, ada tukang ojek yang menerima uang karena mengantar ke pasar atau sekolah, ada tetangga yang dagang makanan minumnya dibeli untuk sarapan, ada doa orangtua dan mertua, juga istri dan sanak saudara yang dapat rizki dari situ. Naaah, itu namanya efek rizki yang dipanjangkan. Monggo dipikirkan. Patut juga digarisbawahi, bahwa mereka betul-betul bekerja menyambung rizki dan hidup dari tebaran rizki Allah di bumi-Nya melalui sampeyan. Iya toh... bukanlah mereka bekerja keras untuk membangun mall. Mereka bahkan terkaget-kaget masuk ke dalamnya kalau sampeyan tahu.

Wis, itu dulu karena kalau dibiarkan saya bisa nyerocos timpuk sana-sini sampeyan bakal bersih nanti karena dicuci tanpa *inso atau *aia... monggo digagas kemawon. Bener atau engga saya pulangkan ke hati nurani sampeyan, at least: do not speak up if you never know how hard they struggle with the situation every minutes they have. Never give your comment up on their efforts, you have no rights, at all!

Monggo sholat atau maem dulu, saya tak maem soto Banjar yang edun pisan ini.

Sumber : Status Facebook Luna Dan Erna Sutisna

Thursday, December 5, 2019 - 10:30
Kategori Rubrik: