Madzhab itu Tidak Penting

Ilustrasi

Oleh : Agus Salim

Jum'at pagi itu saya di antar kerja menggunakan mobil jenis pick up putih, supervisor saya ini pecinta sunah, celananya selalu di atas mata kaki, jidatnya agak sedikit hitam, setiap ada kesempatan jalan dengan saya ia tampak semangat berdiskusi agama, ia memulai bertanya padaku

"Waktu kerja di ipoh kamu sholat di masjid india atau masjid melayu?".
"Masjid india". Jawabku singkat
"Loh, mereka kan bermadzhab hanafiah sedangkan kamu syafi'iyah".
"Tapi islamnya sama kan?". Sanggahku.
Ia terdiam, memfokuskan diri pada kemudi, beberapa saat kemudian ia berkata

"Madzhab itu tidak penting, langsung saja ke rosulullah, ngaji kitab itu tidak perlu langsung saja ngaji al-qur'an dan hadis".

Seperti di tampar muka saya mendengar celotehnya, saya berusaha menahan diri agar tidak terpancing emosi, Mendekati pom bensin ia berkata

"Kita mampir dulu isi bensin, sekalian saya beli air mineral".
Aku hanya mengangguk mengiyakan.

Kami melanjutkan perjalanan, aku perhatikan ia tampak fokus mengemudi dan sesekali meminum air mineral yang baru di belinya, saat hening itulah aku mulai bertanya padanya

"Abang kenapa isi bensin di pom bensin?"
"Isi bensin ya di pom bensin masa di toko matrial" jawabnya seraya tertawa
"Kenapa tidak isi saja langsung dari sumbernya di dalam bumi?" Kataku sedikit menghentak. Ia terdiam, mungkin mulai mengerti arah pembicaraanku.
"Abang juga minum air mineral beli dari toko, sudah di kemas dalam botol, kenapa tidak minum langsung dari sumbernya di gunung?" Kataku lagi.

Keadaan hening, ia tidak berkata sepatah katapun, mukanya merah padam, keadaan seperti itu aku manfaatkan untuk menjelaskan padanya.

"Kami bermadzhab karena kami orang awam, tidak mampu menafsirkan kandungan al-qur'an dan hadis secara langsung atau baca terjemah saja, dengan mengkaji kitab mereka ( imam madzhab ) kami jadi tahu dan mengerti hukum-hukum agama, mudah memahami kandungan al-qur'an dan hadis, semudah abang minum air mineral dari botol, dan itu bukan berarti kami melupakan sumbernya, sebab kitab-kitab imam madzhab itu bersumber dari al-qur'an dan hadis yang sanad keilmuannya bersambung sampai ke rosulullah".

Ia tetap terdiam, sorot matanya fokus kedepan, kesempatan itu aku manfaatkan lagi untuk membuka logikanya

"Saya tidak akan tahu cita rasa kopi jika biji kopi saya kunyah mentah-mentah kemudian air panasnya saya tenggak langsung dari termosnya, yang saya dapat justru celaka, kami bermadzhab agar kami tidak celaka, tidak salah kaprah dalam beragama, tidak menjadi intoleran, tidak menjadi radikal, tidak menjadi khawarij, tidak mudah mengkafir sesatkan, tapi menjadi umat kanjeng nabi yang rokhmatan lil'alamin".

Sampailah saya di KL CENTRAL, saya di turunkan di depan gerbang museum negara, saya segera turun, setelah saya tutup pintu mobil ia bertanya padaku

"Kamu ini sebenarnya siapa?" Tanyanya heran. Aku tersenyum dan segera menjawabnya
"Saya santrinya kyai asmawi yang kebetulan menjadi TKI di negri jiran ini, jika abang ingin tahu lebih banyak tentang madzhab, datanglah ke indonesia, saya hantar abang pada kyai asmawi".

KUALA LUMPUR, JULI 2014.

Sumber : Status Facebook Agus Salim

Thursday, September 28, 2017 - 18:45
Kategori Rubrik: