Madrasahku oh Madrasahku

ilustrasi

Oleh . Ahmad Sarwat, Lc.MA

Kalau saya ditanya orang, sekolah apa yang paling ideal buat putra putri kita, saya ingin sekali menjawab : madrasah. Karena itulah semua anak saya sekolah di madrasah, bukan di SDN juga bukan di SDIT.

Kenapa madrasah?

Soalnya saya dulu juga lulusan madrasah. Pagi sekolah SD siang masuk madrasah, pulang menjelang maghrib.

Dengan kurikulum Madrasah Ibtidaiyah itulah saya belajar dasar-dasar bahasa Arab, Nahwu dan Sharaf.

Ujian tes masuk LIPIA bisa lolos meski harus dua kali tes. Soalnya pas tes lisan, saya gak bisa jawab ketika diajak ngomong Arab oleh dosen yang orang Arab betulan. Tapi kalau cuma soal tertulis, itu urusan kecil. Maka nilai ujian tertulis saya bagus.

Tapi itu zaman dulu, saat madrasah masih pakai kurikulum sendiri. Semua pelajaran agama pakai kitab berbahasa Arab. Guru madrasah saya hasil cetakan madrasah muallimin yang sangat berkualitas. Malah Ayah saya yang 16 tahun di Mesir pun turun tangan mengajar saya dan teman sekelas.

Ternyata kualitas madrasah di masa sekarang anjlog, nyungsep, dan bubar berantakan.

Memang sih di atas kertas, madrasah zaman sekarang itu keren sekali. Selain pelajaran umum seperti matematika, bahasa Indonesia, IPA, IPS juga dilengkapi dengan pelajaran agama. Ada bahasa Arab, fiqih, aqidah, tarikh, tafsir, hadits dan lainnya.

Menu pelajaran kayak gitu sebenarnya sudah cukup lengkap. Empat sehat lima sempurna.

Tapi . . .

Saya tidak tahu salahnya dimana. Kenapa teori di atas kertas itu seringkali tidak sesuai di lapangan yang sesungguhnya. Lulusannya alih-alih jadi ulama yang paham urusan dunia, lulusan madrasah sekarang ini kebanyakannya malah tidak dapat dua-duanya. Ilmu umum tidak dan ilmu agama juga tidak.

Secara pergaulan pun merasa jadi warga kelas tiga, karena tidak ada kelas empat.

Pastilah ada pengecualiannya. Banyak juga hari ini madrasah yang unggulan, ilmu umumnya dapat tapi ilmu agamanya juga canggih. Tapi yang kayak gitu bisa dihitung dengan jari sebelah tangan.

Faktornya cukup banyak dan merata. Ada karena faktor kualitas SDM pengajar, juga bibit muridnya sendiri, termasuk juga sistem pengajaran serta kurikulum, bahan ajar dan semuanya.

Pengalaman saya ngajar di STAN belasan tahun yang lalu, memang dasar mahasiswanya pintar-pintar, rasanya kok mudah sekali memberikan materi kuliah Agama Islam.

Padahal mahasiswa saya jejali dengan kerumitan ikhtilaf fiqih para ulama dari kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu karya Dr. Wahbah Az-Zuhaili. Dan mereka bukan santri dari lulusan pesantren. Namun mereka paham dan bisa mengikuti materi. Sebabnya karena mereka memang anak pintar.

Beda banget ketika saya ngajar anak madrasah yang saya pimpin sendiri. Udah berisik, teriak-teriak sepanjang pelajaran, gak paham-paham juga, lama-lama saya tinggal pulang. Mana pada rajin nunggak bayar SPP pula.

Kok jadi blangsak gini ya anak madrasahku?

Dari segi kualitas gurunya pun saya seringkali mengurut dada. Heran saya kok bisa pada lulus kuliah dan jadi guru madrasah?

Ngajar bahasa Arab tapi dia sendiri nggak bisa baca kitab. Padahal bidang studinya bahasa Arab, diajak ngomong bahasa Arab cuma mesam mesem aja. Ini pelajaran bahasa Arab apa pelajaran mesam-mesem sih?

Guru yang lain mengajar Fiqih tapi tidak pernah mengaji fiqih. Yang diajarkan semata-mata apa yang tertulis di buku bahan ajar. Itu pun banyak kelirunya. Saya bingung, siapa yang ngarang buku pedoman kayak gitu. Jangan-jangan cuma proyek bodong.

Dengan rata-rata kualitas macam ini, kebanyak orang tua tidak mau lagi menyekolahkan anak di madrasah. Di yayasan saya, hanya bertahan sampai Ibtidaiyah saja, level Tsanawiyah dan Aliyah, tidak ada peminatnya. Sempat buka 3 tahunan lalu bubar.

Minat orang tua tidak ke madrasah, tapi ke SMP SMA atau SMPIT SMAIT. Islam terpadu itu maksudnya beraroma Islam, tapi teknisnya cuma ditambahin tahsin + tahfizh.

Bahasa Arab, Nahwu , Sharaf, Fiqih, Waris, Hadits, Aqidah, Tafsir, NOL alias tidak ada. Saya tidak tahu apa dianggap tidak perlu atau tidak ada SDM guru yang mampu.

Sakit hati melihat kondisi madrasah kayak gitu, akhirnya saya cuma bisa pasrah dan berdoa :

Allahumma Turja, ya Allah atur aja

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Thursday, March 19, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: