Madinah Negeri Damai

Oleh: KH Nurul Huda Haem

 
Islam itu santun, tapi belakangan ini banyak penganutnya yg atas nama Islam menjelekkan saudaranya, menyuarakan permusuhan sesama anak bangsa. Dulu, sang nabi membangun daar as-salam (negeri damai) dan seirama dgn itu begitu pula aktifitas kerahiman menjadi primadona risalah yg membuat nyaman semua orang tanpa memandang ras, golongan bahkan agama.
 
Madinah yg majemuk tampak rukun lewat piagam kebangsaan yg egaliter. Meski berbeda agama, mereka tumbuh sebagai ummah yg berjalan berkelindan membangun negeri. Itu dulu, seiring waktu banyak kalangan gagal faham mengambil substansi dan elan dasar dakwah sang nabi.
 
 
 
Sementara di negeri kita, di negeri dengan penganut Islam terbesar, wajah2 kerahmatan tampaknya sdh mulai pudar, jangankan dengan yg berbeda agama, sesama saudara-pun tega menebar fitnah, menjelekkan, bully tak berkesudahan, mencerabut akar2 persaudaraan.
 
Politik kepentingan telah menjerumuskan banyak penganut agama ini "menghamba" kepada simbol, kpd partai, kpd jargon, kpd tokoh2 yg arogan. Banyak umat yg dibutakan oleh jargon2 atas nama agama seolah2 partai nasionalis sama sekali tidak beragama. 
 
Dalam Islam, perbincangan politik tentu saja tidak dilarang. Istilahnya "Siyasah". Arti generiknya adalah strategi atau mengatur. Bila dikaitkan dengan kekuasaan atau negara. Siyasah Islam berarti Kebijakan dan atau Tindakan untuk mengatur negara demi kemaslahatan Rakyat. Rakyat itu dari bahasa Arab, adopsi dari kata "Ar-Ra'iyyah". Seakar kata dengan "Râ'in", artinya pemimpin. Kata Râ'in dan Ra'iyyah terhubung lewat kata al-mas-ûliyyah yang artinya tanggung jawab.
 
Kullukum Râ'in wa kullukum mas-ûlun 'an Ra'iyyatih__ Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya, rakyatnya (al-hadits).
 
Tanggung jawab seseorang dalam memimpin itu setidaknya memenuhi dua unsur penting; al-amânah (kepercayaan) dan al-'adâlah (keadilan). Bila kedua unsur ini tegak dalam kepemimpinan seseorang, maka tegaklah politik Islam.
 
So, politik Islam atau sifat apa pun ia dinisbatkan, sebenarnya itu perbincangan sistem nilai, bukan person. Bicara keadilan dan amanah itu bicara nilai yang ditegakkan bukan siapa yang melakukan. Di negeri kita, bicara politik seringkali dikaitkan dengan person, orangnya, pelakunya. Maka, ada saja orang yg gagal move on, kalau sudah menyebut nama Jokowi dan Ahok atau Dedi Mulyadi dan Ridwan Kamil. Nalarnya sempit, sehingga keempat nama itu kerap dikaitkan dengan hal ihwal yang justru tidak ada kaitannya sama sekali dengan politik nilai.
 
Jokowi itu kerempeng
Ahok itu Kafir
Dedi Mulyadi itu Musyrik
Ridwan Kamil itu Lebay
 
Akibat nalar sempit menjadikan sumbu akal memendek. Apapun prestasi yang dicapai oleh salah seorang dari keempatnya, tidak akan diakui dengan elegan. Kebencian telah menghitamkan hati mereka. Ayat sucipun mudah dijual untuk pembenaran. Tuhan dipasung bahkan dijadikan budak hawa nafsu mereka. Itulah mengapa, sejak lama Gus Mus melarang kita membawa Tuhan dalam urusan kampanye tokoh politik, "Gusti Allah diajak kampanye. Kebangetan tenan, kurang ajare nemen banget. Gusti Allah kok diajak kampanye. Kalau nggak bisa berpolitik, ya nggak usah berpolitik lah." Tegas Gus Mus dalam tausiyahnya saat Haul Gus Dur beberaoa tahun silam.
 
Pagi ini, aku baru saja bubaran shalat subuh di masjid nabawi, kota madinah, kota berperadaban yang dibangun oleh sang nabi di atas pondasi politik nilai. Politik yang mencerahkan. Politik yang menyatukan puluhan suku yang duli kerap bertengkar. Politik yang cinta damai. Politik saling menghargai yang menegaskan nasionalisme Madinah dalam bingkai Piagam kesepakatan antar suku dan agama yang berbeda.
 
Dari sebuah kota yang cinta damai, kumohon sebarkan pesan kerahmatan ini untuk anak-anak negeri kita, di Nusantara yang selalu jaya;
 
Kini, rahmati saja lisanmu, jemarimu, akal fikiranmu, prilaku dan tindakanmu, biarkan ketundukan kepada Allah Yang Maha Agung ini menjadi motif semua aktifitasmu, bersama kasih-Nya engkau menjadi dewasa dalam memaknai setiap peristiwa, santun dalam berpendapat, arif dalam bertindak.
 
Etapi, kalau nanti ditanggapi nyinyir, pastilah mereka dari kalangan umat saracen yang mengharamkan kopi. Atau terpaksa ngopi tanpa seruput, melepuh, kelojotan lantaran bibir kepanasan. 
 
 
(Sumber: Facebook KH Nurul Huda/Enha)
Sunday, October 8, 2017 - 20:00
Kategori Rubrik: