Mabuk Agama Merasuki Indonesia

Oleh : Fadli Rais

Sewaktu kecil saya dipertontonkan layar tancap yang menampilkan Jacky Chan yang memerankan adegan mabuk sembari mematahkan musuh-musuhnya. Matanya sayup, kakinya melangkah sempoyongan, dan gerakannya tak dapat diprediksi. Jurus tersebut dikenal “jurus mabuk”.

Tepuk tangan dari penonton riuh ikut merayakan kemenangan Jacky Chan atas lawannya. Si Jacky seringkali ditampilkan sebagai lakon yang akan menumpas kebatilan dengan jurus-jurus kungfunya.

“Jurus mabuk” tersebut tiba-tiba digunakan dalam kehidupan beragama di bumi pertiwi. Orang-orang beragama tiba tersengat arus listrik untuk mentranfusikan aliran “yang sama” kepada penghuni nusantara yang beragam spesies.

Mengutip petuah Abdurahman Wahid dalam acara talkshow Kick Andy, "Republik Indonesia telah ber-Pancasila sejak Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada yang diabadikan dalam Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular. Bhineka Tunggal Ika yang menggambarkan keberagaman Indonesia harus di jaga bersama-sama."

Dalam keberbedaan yang telah dipelihara, muncul ke permukaan buih-buih “keseragaman beragama” sebagai bentuk kepatuhan terhadap Tuhan. Pejuang-pejuang yang mencoba meretas sekat iman “menangis” melihat kaca benggala yang ditampilkan bahwa Indonesia sedang “dimabuk Agama”.

Perdebatan teis dan non teis tersiar di media elektronik sebagai sarapan sekaligus makan di setiap waktunya. Mereka rela menampilkan identitas agamanya yang merahmati seluruh umat manusia berubah menjadi ketakutan untuk semua umat manusia.

Hal ini desebabkan munculnya kesadaran yang tidak berlandaskan pada salah satu esensi agama yang menerima “keberagaman”. Direspons dengan hadirnya citra ilahi yang hanya dimungkinkan dengan menikam pengalaman yang intens dan luar biasa pada bagian perseptual mereka secara empiris (Geger Riyanto, 2015:96)

Follow Qureta Now!

Sikap kita yang sedang “sakaw” mengingkari ciptaan Tuhan mengikuti budaya bumi pertiwi, berupa keberagaman. Keadaan yang tidak sadarkan diri mengingkari kehendak Tuhan dengan mebuat konsep ber-Tuhan yang sesuai permintaan.

Pertimbangannya, kita kurang lebih sama dengan para perupa tersebut-memang, hanya melalui tubuhlah, di mana konvensi kultural itu sebagai abstraksi kognitif bersemayam. Simbol berupa ikon dapat mempengaruhi kebudayaan, entah untuk mengkonkretkan keberadaan sosok-sosok kunci sebuah teologi, entah untut menoerhkan kebesaran melaui simbol-simbol superior yang membuat inferior agama lainnya. (Geger Riyanto, 2015:97)

Tentu keputusan untuk menjadikan umat mayoritas serta menumbuhkan superioritas simbolik, menghakimi “masa lalu” dengan dalil-dalil teologis untuk menyudutkan mereka dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sesekali meminta “lembaga fatwa” untuk mengeluarkan dalil agama mengenai “sektarian” di ruang publik untuk mengukuhkan superioritas simbolik dan memberi efek inferior domino bahkan perdebatan yang berujung wajah lebam.

Ketika Marx menyatakan “Religon is opium” dalam pertentangan kelas antara agamawan yang lupa daratan, bergeser menjadi pemahaman yang kita kenal “sumbu pendek” yang mudah tersulut api dan mengobarkan api untuk ditularkan ke berbagai penjuru di media sosial. Sebagai perwujudan menyebarkan ajaran walau hanya satu huruf tanpa menggunakan double movement Fazlurrahman berupa konteks sebuah ajaran.

Tentunya dalam perosalan yang bermunculan, apakah masyarakat kita sakit? Terus penyebabnya apa? Mengapa agama berubah wajah?

Shock Culture

Pesan guru ketika melepas anak didiknya ketika lulus sekolah SLTA agar tidak menjadi seseorang yang “ojo gumunan lan gampang kepincu.” Jangan mudah takjub dan terkait pada suatu hal. Dunia luar sana sangat beragama serta membutuhkan beribu cara menghadapinya.

Faktanya, dunia keagamaan sekarang lebih didominasi untuk membuat orang “gumun” dan “kepincut”. Melalui berbagai sektor dilalui untuk membuat oran jatuh hati pada simbol agama. Sampai pada materi saja sehingga immateri yang tak terpenuhi mengantarkan pada paham yang kurang dalam mengenai ajaran tersebut.

Muncullah pemberi kabar Tuhan dengan “wajah” yang jauh dari kasih sayang Tuhan. Mereka berlomba-lomba mencari kesalahan pemuka sekte lain. Menganggap mereka yang tak sejalan hanyalah buih-buih umat yang tak diberkati oleh kehendak Tuhan yang sudah ada di tangan komunitasnya. Sambil menyelam minum air, menyiarkan ajaran Tuhan sembari mengoarkan kebencian. Kemudian dibesarkan di media sosial supaya viral dan dipercaya oleh khal layak umum.

Agama menjadi lebih hangat di telinga, menimbulkan kegemasan terhadap diri sendiri. Melihat muka mereka yang menjual mahal senyum pribadinya. Di tengah-tengah permasalahan bangsa yang kian hari “dimabuk agama” yang menjadi-jadi. Jika shock culture yang berjalan di masyarakat tidak segera ditangani dengan obat yang mujarab. Misalnya membiarkan mayoritas menggagalkan kegiatan yang menghilangkan hak-hak yang berbeda.

Aparatur Negara yang tak bertindak berarti menghalalkan tindakan tersebut dengan dalih ekspresi dari mayoritas yang tak bisa dihentikan. Sehingga kejadian yang tak pernah ditindak tegas justru menjadi daftar yang tertulis menjadi laporan tanpa adanya keberlanjutan. 

Tak mengindahkan keberagaman berarti melanjutkan budaya “dimabuk agama”.**

Sumber : qureta.com

Thursday, December 22, 2016 - 09:00
Kategori Rubrik: