Maafkan Negara Ini Teuku Markam

ilustrasi

Oleh : Awan Kurniawan

Bulan Juli 2019, genap 44 tahun Monas berdiri. Ada satu nama Teuku Markam, sosok yang tidak pernah lepas dari monumen kebanggaan negeri. Kilau emas 28 kilogram dipuncak monas adalah sumbangannya.

Monumen setinggi 132 meter (433 kaki) itu telah dibuka untuk umum sejak 12 Juli 1975 setelah pembangunan yang dimulai pada 17 Agustus 1961 rampung.

Teuku Markam sungguh kaya kala itu. Markam membantu perjuangan Indonesia dalam bidang ekonomi yang ketika itu masih belum bangkit. Pria keturunan Uleebalang (panglima kerajaan) ini memang tamatan militer, tapi perjuangannya malah jauh dari bidang itu.

Masa awal kemerdekaan inilah Teuku Markam muncul dengan bisnis sebagai profesinya. Mulai dari bisnis ekspor impor, besi beton hingga plat baja ia tekuni. Dengan berbagai macam bisnis itu ia bisa menjadi sangat kaya. Markam juga tercatat sebagai eksportir pertama mobil Toyota hardtop dari Jepang.

Saking kayanya, Markam sempat membangun infrastruktur di aceh seperti membangun jalan Medan-Banda Aceh, Bireuen-Takengon, Meulaboh dan Tapaktuan. Ia juga disebut-sebut memiliki beberapa dok kapal di Jakarta, Makassar, Medan dan Palembang.

Konglomerat yang dekat Soekarno ini juga ikut mensukseskan KTT Asia Afrika. Namun pada akhirnya Markam malah tak dianggap dan diakui oleh negara.

Saat pemerintahan Soeharto, Markam diciduk dan dijebloskan ke dalam penjara dengan tuduhan terlibat dengan PKI serta dianggap kaum penyembah Soekarno. Hingga akhirnya Markam dijebloskan ke penjara pada tahun 1966.

Pada masa orde baru, nggak hanya difitnah dan berakhir dipenjara saja penderitaan yang dirasakan oleh Markam. PT Karkam miliknya yang telah menyumbang cukup banyak dana demi pembangunan ekonomi Indonesia juga diambil Pemerintah Indonesia dan menjadikannya sebagai BUMN.

Tak ada harta sedikitpun yang disisakan untuk keluarga dan anak-anaknya. Hingga akhirnya keluarga Markam hidupnya terlunta-lunta. Pada saat Markam keluar dari penjara di tahun 1974 pun, ia dan keluarganya juga masih kesulitan untuk mengklaim hartanya lagi.

Dan hari ini ada yang menyebut Suharto sebagai orang baik? Keluarga Suharto dan bangsa ini berhutang maaf pada anak dan cucu Teuku Markam

Sumber : Status Facebook Awan Kurniawan

Thursday, July 25, 2019 - 09:30
Kategori Rubrik: