Maaf Saja Tidak Cukup, Jonru Patut Dituntut

 
Oleh: Suci Handayani
 
Jika kita biasa mendengar pepatah ‘mulutmu harimaumu’, di zaman serba medos ini, rasanya lebih tepat jika mengunakan pepatah ‘tulisanmu, harimaumu’. Entah sudah berapa banyak orang yang mengingatkan kita untuk tidak asal jeplak/ngawur, atau asal nulis saja. Kalau di Jawa biasa dibilang ojo waton ngomong (jangan asal bicara) tetapi ngomongo nganggo waton (bicara pakai tatanan). Kalimat bijak tersebut rasanya cukup mengulik pikiran, dan mestinya mampu menahan keinginan untuk asal bicara/menulis. Sudah ada kejadian yang tidak mengenakkan karena tulisan asal sehingga berujung pada kasus pidana.
 
Namun demikian, banyak orang yang tak bisa bijak dalam bersikap dan menulis. Tidak belajar dari pengalaman yang sudah ada. Mereka tetap saja asal bicara/menulis tanpa berpikir risikonya. Kalau menulis hal biasa saja, ya tak masalah. Tetapi kalau nulis hal-hal yang menyudutkan pihak lain, bahkan cenderung ke arah fitnah, apakah sudah siap dengan risikonya? Barangkali ini yang dianggap sepele sehingga terus saja ada orang yang suka mengumbar hasrat untuk menulis di media sosial tanpa berpikir panjang. Intinya adalah jangan mengumbar hasrat untuk terus meneruskan kebencian dengan menuliskan hal yang tidak benar lantaran urusan hukum bisa menanti.
 
Kali ini ada pelajaran penting dari salah satu netizen yang memberikan reaksi terhadap foto Presiden Joko Widodo (Jokowi). Si Jon Riah Ukuh Ginting atau biasa dipanggil Jonru. Ia menulis status di Facebooknya untuk menanggapi foto Jokowi di awal tahun saat berada di dermaga Waiwo Raja Ampat Papua. Seperti diketahui, Jum’at (1/1/2015), Jokowi mengunggah foto dan kicauan di Twitter resmi @jokowi, dengan kalimat "Fajar perdana 2016 di dermaga Waiwo, Raja Ampat, tempat terbaik di dunia untuk snorkeling." Di atas tulisan tersebut tampak foto Jokowi sedang duduk santai di dermaga kayu.
 
Jonru agaknya meragukan foto Jokowi tersebut bukan foto asli, seperti dalam kalimatnya: "Gaya Jokowi Nikmati Sunrise Perdana 2016 di Raja Ampat" Itulah judul berita dari sebuah media (http://news.liputan6.com/read/2402229/gaya-jokowi-nikmati-sunrise-perdana-2016-di-raja-ampat), untuk menjelaskan gambar berikut ini. Tak ada yang salah dengan beritanya. Yang membuat saya heran adalah FOTONYA: Sinar matahari dari belakang, tepat di bagian punggung. Namun kenapa di bagian punggung justru ada bayangan? Kenapa bagian punggung justru lebih gelap dibanding bagian depan. Padahal, cahaya matahari berasal dari belakang? Silahkan bagi teman-teman yang pintar Photoshop untuk membuat analisis. Jika ternyata foto ini asli, bukan editan, maka status ini akan saya hapus segera. Namun jika ternyata ini foto editan, PERTANYAAN BESARNYA adalah: Untuk apa bikin foto editan? Apa relevansinya? Wallahualam."
 
Mungkin karena kurang jeli atau sok tahu yang cukup besar atau karena memang si Jonru ini sudah kelewat tidak suka dengan Pak Jokowi, sampai-sampai meragukan foto hasil bidikan Pak Agus Suparto, fotografer presiden.
 
Akhirnya, Si J itu menepati janjinya, minta maaf hari ini, Sabtu (2/1/2015) seperti yang tertulis di statusnya : “Sesuai janji saya, foto Jokowi tentang Sunrise di Raja Ampat tadi telah saya hapus. Sebab dari hasil komentar sejumlah teman, saya mengambil kesimpulan: 1. Itu foto asli (terbukti dari beredarnya sejumlah foto lain di tempat yang sama dengan pose yang berbeda, dan tanpa efek apapun) 2. Foto yang terlihat seperti tempelan, mungkin karena efek pemakaian flash saat memotret. 3. Oleh desainer (bukan fotografer), foto itu diedit dengan Photoshop. Namun editannya BUKAN dalam bentuk montase (tempelan), melainkan editing berupa efek-efek cahaya saja. Mungkin agar fotonya terlihat lebih jelas dan dramatis. Kalau editan yang seperti ini sih, tentu tidak ada masalah. Dengan penghapusan status tersebut, saya minta maaf kepada teman2 sekalian jika ada kekhilafan dari pihak saya. Sebab saya hanya manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan.Dan dari kesalahan, kita bisa belajar banyak hal. Termasuk belajar menganalisis keaslian foto smile emoticon Terima kasih, salam sukses selalu!”
 
Benarkah cukup dengan minta maaf saja? Rasanya kok sederhana sekali, enak benar (penakmen) setelah bikin status yang kemungkinan sudah dibaca. Bahkan dibagikan oleh ratusan/ribuan orang (biasanya kalau Jonru membuat status maka yang baca, komentar, membagi/share bisa sampai sekian ratus bahkan sekian ribu), lantas ia hanya cukup minta maaf saja?
 
Seandainya Pak Agus Suparto, fotografer istana, memberikan efek jera dengan melaporkan Jonru, bagi saya itu wajar saja. Karena setahu saya, bukan sekali-dua kali ia membikin status yang isinya menjurus fitnah. Integritas pak Agus Suparto sebagai fotografer senior yang sudah lama melalang buana di jagad fotografi seenaknya diragukan. Padahal, beliau benar-benar selalu menyertai dan mengabadikan kegiatan Presiden Joko Widodo.
 
Rasanya, kita harus lebih hati-hati. Terutama kalau berteman dengan sekian ribu orang di medsos, apalagi mempunyai banyak followers dan status kita sering di-share atau menjadi rujukan. Seseorang tidak akan menjadi besar dengan kebohongan yang selalu disampaikan. Suatu ketika ia akan jatuh oleh ulahnya sendiri.
 
Solo, 2 Januari 2016

 

Sumber: Kompasiana

 

Saturday, January 2, 2016 - 23:15
Kategori Rubrik: