Ma kyal Sin, Martir Demokratisasi Myanmar

ilustrasi
Oleh : Herry Tjahjono
Namanya Ma Kyal Sin, atau dikenal dengan Angel. Usianya baru 19 tahun, namun punya hati dan nyali rajawali. Anak tunggal dan punya masa depan cemerlang. Namun dia memilih jalan hidupnya yang heroik dan patriotik. Bergabung dengan ribuan demonstran melawan rejim militer Myanmar yang melakukan kudeta.
Angel bahkan sudah siap sampai titik darahnya terakhir dalam perjuangannya. Ia menggantungkan selembar kertas di lehernya - bertuliskan golongan darah, nomor kontak dan yang menggetarkan : permintaan untuk mendonorkan organ tubuhnya jika dia mati. Kaos hitamnya tertulis ”Everything will be OK".
Akhirnya dia memang tertembak di kepalanya. Dan pada detik-detik terakhir kehidupannya dia sempat menendang pipa air agar para demonstran bisa membasuh matanya yang terkena tembakan gas air mata.
Para teman demonstran yang mengelilingi dan memeluknya bergetar membaca tulisan lain di tanda pengenalnya :
"Sekiranya saya terluka dan tidak dapat kembali ke kondisi saya yang baik, tolong jangan selamatkan saya. Saya akan memberikan organ tubuh saya yang baik dan berguna pada orang yang membutuhkannya."
Air mata tumpah mengiringi kepergian patriot muda Myanmar yang luarbiasa itu. Dia pahlawan di negerinya. Dia mulia dalam kemudaannya.
Pada helaan napas terakhirnya, sorot matanya yang sayu seperti berbisik : "Aku masih muda, aku ingin hidup lebih lama. Tapi jika aku harus melepaskannya sekarang, aku rela - selama kepergian dan darahku menyuburkan perjuangan kekebasan negeri ini."
Dia pergi, dengan segala kemuliaannya. Dunia akan baik-baik saja selama masih ada anak muda seperti Angel, rajawali belia yang berani terbang tinggi ke langit kemanusiaan, kebebasan, kebenaran.
Selamat jalan Angel, doaku dari negeri yang berjarak 3000 km dari tanah tempatmu berjuang.
By : HT
Sumber : Status Facebook Herry Tjahjono
Friday, March 5, 2021 - 09:30
Kategori Rubrik: